Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Investor mulai mempertanyakan kemampuan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh untuk mengubah pola komunikasi kebijakan moneter yang telah dibangun selama puluhan tahun tanpa memicu gejolak di pasar keuangan.
Sejumlah pelaku pasar menyambut upaya terbaru The Fed untuk mengurangi ketergantungan pasar terhadap komunikasi bank sentral. Namun, sebagian investor menilai pasar telah bertahun-tahun menggunakan panduan The Fed sebagai acuan dalam menentukan valuasi obligasi hingga menyusun strategi manajemen risiko.
Perhatian investor kini tertuju pada simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, yang akan digelar pada akhir Agustus. Forum tersebut akan menjadi salah satu kesempatan penting bagi Warsh untuk menunjukkan apakah dirinya akan melanjutkan strategi komunikasi yang lebih terbatas.
"Tujuan bank sentral bukanlah membuat pasar modal menjadi lebih menarik dengan menghilangkan sumber transparansi dan informasi," kata Alex Morris, Chief Executive Officer F/m Investments.
Baca Juga: Bank of America Siapkan US$250 Miliar untuk Infrastruktur Digital dan Energi AS
"Begitu Anda mulai memberikan transparansi, sulit bagi pasar untuk menerima bahwa Anda akan menariknya kembali," lanjutnya.
The Fed Pangkas Panduan Kebijakan
Sejak Warsh menjabat sebagai Ketua The Fed pada 2026, bank sentral Amerika Serikat tersebut mulai menerapkan strategi komunikasi yang lebih sederhana.
The Fed mengurangi penggunaan forward guidance, memperpendek pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC), serta lebih menekankan kondisi ekonomi saat ini dibandingkan memberikan sinyal mengenai arah suku bunga di masa mendatang.
Belakangan, The New York Times melaporkan bahwa Warsh mengusulkan kemungkinan pengurangan jumlah pertemuan rutin The Fed yang digunakan untuk menetapkan kebijakan moneter. Jika diterapkan, langkah tersebut akan mengakhiri praktik yang telah berlangsung selama hampir setengah abad.
Juru bicara The Fed menolak memberikan komentar mengenai kemungkinan pengurangan jumlah pertemuan maupun strategi komunikasi bank sentral yang lebih terbatas.
Warsh sebelumnya berpendapat bahwa pasar telah terlalu bergantung pada panduan bank sentral dan seharusnya memberikan perhatian lebih besar terhadap fundamental ekonomi.
Namun, investor menilai ketergantungan tersebut juga tidak terlepas dari kebijakan The Fed sendiri yang selama sekitar 50 tahun terus meningkatkan transparansi, antara lain melalui konferensi pers rutin, proyeksi ekonomi, serta pernyataan kebijakan yang semakin terperinci.
Investor Khawatir Risiko Pasar Meningkat
Kekhawatiran investor bukan semata-mata mengenai potensi meningkatnya volatilitas pasar. Berkurangnya informasi dari pembuat kebijakan juga dinilai dapat menyulitkan investor dalam menentukan harga risiko.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi sekaligus meningkatkan biaya pinjaman.
"Ada banyak kebingungan yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang. Ekspektasi inflasi jangka panjang juga meningkat setelah pertemuan The Fed terakhir," kata Angelo Kourkafas, Senior Global Investment Strategist di Edward Jones.
"Dalam kasus ini, lebih sedikit informasi tidak selalu lebih baik bagi pasar, karena pasar masih berusaha mengetahui bagaimana The Fed yang baru akan merespons data yang masuk," ujarnya.
Baca Juga: Bursa China Menguat Tipis Rabu (12/88), Sektor Teknologi dan Properti Jadi Penopang
Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 20 bulan.
Steven Zeng, US Rates Strategist di Deutsche Bank, menilai pengurangan panduan The Fed menghadirkan konsekuensi yang perlu diperhitungkan.
Menurut dia, lebih sedikit pertemuan dan komunikasi dapat mengurangi apa yang disebutnya sebagai "kebisingan yang tidak membantu" serta membuat setiap keputusan kebijakan menjadi lebih berarti.
Imbal Hasil Obligasi Berpotensi Naik
Investor kemungkinan akan meminta kompensasi lebih besar karena berkurangnya visibilitas terhadap pemikiran The Fed.
"Selama masa transisi menuju kerangka baru, imbal hasil obligasi kemungkinan akan lebih tinggi sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan," kata Zeng.
Prospek tersebut menjadi sangat penting bagi pasar Treasury. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang mencerminkan ekspektasi investor terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah kebijakan moneter di masa depan.
Sejumlah investor menilai komunikasi The Fed telah begitu melekat dalam pembentukan harga di pasar sehingga pengurangannya dapat mengubah cara investor menilai surat utang pemerintah AS.
Bahkan investor yang terbuka terhadap pengurangan panduan The Fed mengakui bahwa pasar kemungkinan akan semakin bergantung pada data ekonomi untuk membaca arah kebijakan bank sentral.
"Tidak buruk bagi pasar jika jumlah pertemuan dan panduan kebijakan dikurangi," kata Vishal Khanduja, Head of the Broad Markets Fixed Income Team di Morgan Stanley Investment Management.
Namun, Khanduja mengatakan investor akan menghadapi kesulitan ketika pernyataan dan tindakan pembuat kebijakan tidak sejalan.
Dalam kondisi ketika sinyal resmi semakin sedikit, pasar tidak memiliki banyak pilihan selain memperkirakan arah kebijakan secara langsung berdasarkan data inflasi, ketenagakerjaan, dan pertumbuhan ekonomi.
Data Inflasi AS Jadi Ujian Berikutnya
Data inflasi Amerika Serikat menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar untuk membaca arah kebijakan The Fed.
"Pasar Treasury akan menjadi lebih volatil di sekitar rilis data-data penting ini karena data kemudian menjadi satu-satunya kekuatan panduan utama mengenai seperti apa kebijakan di masa depan," kata Khanduja.
Baca Juga: Putin Murka, Rusia Ancam Balas jika Eropa Sita Kapal Dagang
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist di Ameriprise, menilai pembaruan kebijakan secara berkala tetap diperlukan untuk menjaga ekspektasi pasar tetap sejalan dengan arah yang diinginkan pembuat kebijakan.
Meski demikian, menurut dia, The Fed masih dapat mengurangi jumlah konferensi pers tanpa harus mengubah jadwal pertemuan kebijakan dan publikasi pernyataannya.
Tantangan yang lebih besar bagi The Fed adalah meyakinkan pasar untuk menerima tingkat transparansi yang lebih rendah setelah bank sentral tersebut menghabiskan waktu puluhan tahun membangun sistem komunikasi yang lebih terbuka.
"Sepertinya setiap ketua The Fed selalu mengawali masa jabatannya dengan sangat buruk, kemudian mereka harus menemukan cara untuk menjalankannya," kata Eric Kuby, Chief Investment Officer North Star Investment Management.
Perubahan strategi komunikasi tersebut pada akhirnya akan menjadi ujian bagi Warsh. Jika pasar kesulitan membaca arah kebijakan The Fed, ketidakpastian dapat tercermin dalam kenaikan imbal hasil obligasi dan biaya pendanaan.
Sebaliknya, jika komunikasi yang lebih sederhana mampu membuat pasar kembali berfokus pada fundamental ekonomi, strategi tersebut dapat memperkuat peran data ekonomi dalam menentukan ekspektasi kebijakan moneter.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
