kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Iran Bersikeras Kuasai Selat Hormuz, Pasar Minyak Tetap Waspadai Risiko Baru


Jumat, 26 Juni 2026 / 19:03 WIB
Iran Bersikeras Kuasai Selat Hormuz, Pasar Minyak Tetap Waspadai Risiko Baru
ILUSTRASI. Krisis Timur Tengah - Kapal Tanker Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran kembali menegaskan haknya untuk mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz pada Jumat (26/6/2026), sehari setelah sebuah kapal dagang terkena serangan di dekat Oman.

Insiden tersebut memperlihatkan masih rapuhnya kesepakatan sementara yang dicapai Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik bersenjata.

Baca Juga: Bantuan Internasional Mengalir ke Venezuela Usai Gempa Dahsyat Tewaskan 188 Orang

Pernyataan Iran muncul sebagai respons terhadap deklarasi bersama Amerika Serikat (AS) dan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang menolak rencana Teheran mengenakan tarif atau mengendalikan kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, keamanan pelayaran di Selat Hormuz tidak dapat dijamin tanpa mengakui peran Iran sebagai negara pantai.

"Lintasan yang aman di Selat Hormuz tidak dapat dijamin melalui pengaturan yang ambigu, jalur paralel, atau pengambilan keputusan yang mengabaikan peran Iran sebagai negara pesisir," tulisnya di platform X.

Meski ketegangan geopolitik masih tinggi, harga minyak dunia kembali melemah pada Jumat. Pelaku pasar menilai arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai pulih, meskipun lalu lintas kapal masih lebih lambat dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga: Paris dan London Kepanasan, Rumah yang Dirancang Tahan Dingin Kini Jadi Oven

Data pelayaran menunjukkan Saudi Aramco kembali memuat minyak mentah di Terminal Ras Tanura, pelabuhan ekspor minyak terbesar di dunia, setelah aktivitasnya sempat terhenti hampir empat bulan akibat konflik.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, Washington tidak akan tinggal diam apabila Iran kembali mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam pernyataan bersama, AS dan GCC menyerukan agar pelayaran di Selat Hormuz tetap bebas, tanpa syarat, tanpa pembatasan, maupun pungutan biaya dari pihak mana pun.

Mereka juga menilai perdamaian jangka panjang harus mencakup pembahasan mengenai program rudal balistik, drone, serta dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.

Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Iran menilai kehadiran militer AS di kawasan Teluk justru menjadi sumber ketidakstabilan regional.

Baca Juga: Airbus dan Kawasaki Jajaki Pengembangan Drone Militer Versi Jepang

Teheran menegaskan Selat Hormuz semestinya dikelola bersama Iran dan Oman sesuai kerangka kesepakatan sementara yang telah dicapai.

Iran juga memperingatkan negara-negara di kawasan agar menghentikan kebijakan yang dianggap bermusuhan dan mencampuri urusan regional.

Ketegangan kembali meningkat setelah kapal berbendera Singapura Ever Lovely, yang dioperasikan perusahaan pelayaran Taiwan Evergreen Marine, terkena benda tak dikenal di dekat Oman pada Kamis (25/6).

Perusahaan menyatakan tidak ada korban jiwa dan kapal dapat melanjutkan pelayaran keluar dari Selat Hormuz. Namun, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa kapal tersebut terkena tembakan dari Iran. Hingga kini pemerintah Iran belum memberikan tanggapan langsung atas tuduhan tersebut.

Baca Juga: Samsung Janji Gelontorkan 1.000 Triliun Won untuk Dorong Bisnis Semikonduktor

Perselisihan juga masih berlangsung terkait sejumlah poin penting dalam kesepakatan sementara, mulai dari insentif ekonomi bagi Iran, mekanisme inspeksi program nuklir, hingga konflik yang masih berlangsung antara Israel dan Lebanon.

Kesepakatan tersebut memberikan waktu 60 hari bagi Iran dan Amerika Serikat untuk merundingkan isu-isu yang lebih kompleks, termasuk masa depan program nuklir Iran.

Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz setelah insiden di dekat Oman.

Awal pekan ini, IMO bersama Oman memperkenalkan jalur pelayaran baru di sisi selatan selat untuk mengevakuasi ratusan kapal yang sempat terjebak akibat perang, langkah yang memicu keberatan dari Teheran.

Di sisi lain, Korea Selatan menyatakan tiga kapalnya akan keluar dari Selat Hormuz pada akhir pekan ini, sementara delapan kapal lainnya juga telah berhasil meninggalkan kawasan tersebut.

Baca Juga: Saudi Aramco Kembali Isi Kapal Tanker dengan Minyak, Siap Ekspor Besar-Besaran

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global. Karena itu, setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memicu volatilitas harga energi serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.




TERBARU

[X]
×