Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - CAIRO/DUBAI/WASHINGTON. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan udara militer AS di Yordania pada Selasa (14/7/2026).
Sebagai balasan, pasukan Amerika Serikat menggempur sejumlah target di Iran selama lima jam dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz yang telah mendorong harga minyak dunia ke level tertinggi dalam empat pekan terakhir.
Gelombang serangan terbaru ini menandai malam ketiga berturut-turut operasi militer AS sejak Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (11/7/2026). Langkah tersebut mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran serta mengusulkan pungutan sebesar 20% untuk pengamanan jalur laut strategis tersebut.
Eskalasi konflik ini semakin memperbesar keraguan bahwa kesepakatan sementara yang dicapai bulan lalu dapat menghasilkan perdamaian permanen dalam perang yang telah berlangsung lebih dari empat bulan. Konflik tersebut telah mengganggu pasokan energi global dan memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi di berbagai negara.
Sejumlah analis kawasan menilai bahwa hingga saat ini kedua pihak masih berupaya menjaga konflik tetap berada dalam batas yang terkendali sambil mencari posisi tawar untuk perundingan damai di masa depan. Meski demikian, risiko konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas masih tetap ada.
Baca Juga: KOSPI Masuk Bear Market, Reli Saham AI Korea Selatan Mulai Retak
"Saya meragukan kedua pihak akan kembali melanjutkan perang secara penuh, terutama karena Trump juga akan menanggung konsekuensinya. Namun, ada kemungkinan nyata bahwa Iran akan bertindak berlebihan. Hal yang sama tentu juga berlaku bagi Trump," ujar peneliti senior Carnegie Middle East Center, Yezid Sayigh.
Perang tersebut semakin tidak populer di Amerika Serikat, terutama karena harga bahan bakar terus meningkat sejak konflik dimulai, sementara pemilihan anggota Kongres AS dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Di pasar energi, harga minyak kembali menguat pada Selasa. Kontrak berjangka minyak Brent sempat menembus level US$ 86 per barel, meskipun masih berada di bawah puncak harga sejak perang pecah.
Pangkalan Udara AS di Yordania Diserang
Konflik bermula ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Perang tersebut juga memicu kembali konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Ribuan orang dilaporkan tewas dan jutaan lainnya mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon.
Sementara itu, Lebanon dan Israel dijadwalkan kembali menggelar perundingan di Roma pada Selasa. Beirut berharap dapat mencapai kemajuan terkait penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan berdasarkan kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat.
Dalam perkembangan terbaru, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa pangkalan udara AS di Yordania menjadi sasaran rudal balistik. Militer Yordania mengonfirmasi telah mencegat dan menembak jatuh empat rudal yang memasuki wilayah udaranya dari Iran.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut bahwa, "Kami bukan hanya tidak memiliki permusuhan terhadap negara Anda, tetapi kami juga mencintai Anda," sembari mendesak Yordania membubarkan pangkalan-pangkalan militer Amerika di wilayah kerajaan tersebut.
Media Iran melaporkan bahwa serangan udara AS menghantam sejumlah kota di negara itu. Sedikitnya empat orang dilaporkan terluka dan operasi penyelamatan masih berlangsung.
Baca Juga: New York, Negara Bagian AS Pertama yang Berlakukan Moratorium Pusat Data
Perebutan Kendali Selat Hormuz
Ketegangan meningkat tajam setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu malam menyusul insiden tembakan peringatan yang mengenai sebuah kapal yang disebut melintasi jalur tanpa izin.
Melalui platform Truth Social, Donald Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan akan terus terbuka, dengan atau tanpa persetujuan Iran.
"Kami memberlakukan kembali BLOKADE TERHADAP IRAN," tulis Trump, seraya mengumumkan rencana pungutan sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi selat tersebut.
Di sisi lain, Iran berupaya memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz dengan membangun sistem pemungutan biaya dan memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas tanpa izin dari Teheran.
Komando militer gabungan tertinggi Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk menentukan masa depan jalur pelayaran itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga menyatakan melalui platform X bahwa Teheran adalah penjaga Selat Hormuz dan akan tetap demikian "selamanya".
Menanggapi rencana pungutan dari AS, Araqchi mengatakan, "Tarif 20% tentu terlalu tinggi. Kami akan bersikap adil."
Beberapa jam kemudian, Trump kembali mengancam Iran.
"Iran akan menerima serangan yang sangat keras malam ini, dan kami akan menyerang mereka lebih keras lagi besok. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya," ujar Trump.
Sebelum konflik meletus pada Februari lalu, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Jalur tersebut mengalirkan lebih dari 15 juta barel bahan bakar ke pasar global dengan nilai sedikitnya US$ 1,2 miliar per hari.
Jika Amerika Serikat benar-benar menerapkan pungutan 20%, maka potensi pendapatan yang diperoleh dapat mencapai sekitar US$ 240 juta per hari.
Namun, badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak penerapan pungutan tersebut. Organisasi itu menyatakan tidak ada dasar hukum internasional untuk memberlakukan tarif wajib bagi kapal-kapal yang melintasi selat internasional.
Baca Juga: Harga Tembaga Naik Selasa (14/7) Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan di Selat Hormuz
Rudal Iran Hantam Dua Kapal Tanker UEA
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (13/7/20026) menyatakan bahwa rudal jelajah Iran menghantam dua kapal tanker minyak milik UEA yang tengah melintas di jalur selatan Selat Hormuz, tepatnya di perairan Oman.
Menurut otoritas UEA, satu awak kapal asal India tewas dan delapan lainnya mengalami luka-luka.
Media Iran melaporkan bahwa IRGC mengklaim telah menyerang dan melumpuhkan dua supertanker yang disebut melakukan pelanggaran setelah mengabaikan peringatan berulang dan mematikan sistem navigasi.
Meski demikian, IRGC tidak menyebutkan nama kapal yang dimaksud dan tidak memastikan apakah kapal tersebut sama dengan yang dilaporkan pemerintah UEA.
Dalam pernyataannya, IRGC juga menuduh Amerika Serikat "menghasut kapal-kapal untuk menggunakan jalur ilegal" serta memperingatkan bahwa kerja sama dengan "musuh agresor" akan menyebabkan kerusakan, menunda pembukaan kembali jalur pelayaran, dan memicu krisis energi global.
Di sisi lain, Joint Maritime Information Center yang dipimpin Angkatan Laut AS menyatakan bahwa blokade terhadap Iran akan mulai berlaku pada Selasa pukul 20.00 GMT. Kebijakan tersebut akan berlaku bagi seluruh kapal tanpa memandang bendera negara asal, mencakup seluruh garis pantai Iran, termasuk pelabuhan dan terminal minyak.














