Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - KAIRO/WASHINGTON. Iran menegaskan kesiapan menghadapi perluasan sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dinilai dapat semakin menekan sumber pendapatan negara tersebut. Tehran juga menyatakan keyakinannya bahwa sejumlah mitra dagang utama, termasuk China dan Rusia, tidak akan mengikuti sepenuhnya tekanan Washington.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah-langkah sanksi tersebut pada Senin (24/8). Namun, Washington belum menjatuhkan sanksi paling berat karena khawatir langkah tersebut dapat mengganggu sistem keuangan global berbasis dolar AS.
Bessent mengatakan negara-negara yang tetap melakukan transaksi dengan Iran berisiko kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar. Meski demikian, ia tidak mengungkap negara mana saja yang akan menjadi sasaran maupun kapan sanksi tambahan tersebut mulai berlaku.
Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap 60 individu, entitas, dan kapal. Namun, daftar tersebut tidak mencakup lembaga keuangan China yang selama ini dicurigai membantu perdagangan minyak Iran.
Sebelum pengumuman sanksi, Iran telah memperingatkan bahwa langkah ekonomi AS dapat memicu respons militer serta mendorong Tehran kembali mengurangi ekspor minyak melalui kawasan Teluk.
Baca Juga: Konflik Global Ganggu Lebih dari 43% Pasokan Minyak Dunia pada 2026
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah telah mempersiapkan diri menghadapi kebijakan baru Washington.
"Kami sepenuhnya siap menghadapi sanksi AS," ujar Madanizadeh seperti dikutip Reuters.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah, ia menambahkan bahwa Iran memiliki sejumlah instrumen untuk menghadapi tekanan ekonomi AS.
"Secara alami, musuh bermaksud melancarkan serangan teroris ekonomi terhadap kami, tetapi kami juga memiliki alat kami sendiri dan tahu bagaimana memainkan permainan ini. Pertahanan kami tidak lagi hanya bersifat defensif; musuh harus menunggu serangan," katanya.
Madanizadeh juga mengatakan China dan Rusia tidak menerima kebijakan AS tersebut. Ia memperkirakan negara-negara lain juga akan menolak tekanan Washington.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, bahkan memperingatkan bahwa Iran dapat memberikan pukulan berat terhadap kepentingan vital AS dan titik-titik strategis energi apabila infrastruktur Iran terancam.
Diplomasi Iran-AS Belum Menemukan Jalan Keluar
Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, upaya diplomatik untuk meredakan konflik Iran dan AS masih menghadapi ketidakpastian.
Iran dan AS sebelumnya menandatangani kesepakatan perdamaian sementara pada Juni. Namun, memorandum Islamabad yang menjadi dasar kesepakatan tersebut kemudian mengalami kebuntuan.
Pakistan sebagai mediator menyatakan telah mencapai "kemajuan signifikan" dalam perundingan terbaru dengan Tehran. Pembicaraan tersebut antara lain membahas pencegahan eskalasi konflik serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi yang mendampingi Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dalam kunjungan ke Tehran mengatakan pertemuan dengan Presiden Iran berlangsung konstruktif.
"Presiden Iran secara terbuka menyampaikan perspektif pemerintahnya dan kami melakukan pertukaran pandangan yang sangat konstruktif mengenai berbagai persoalan yang dibahas," ujar Naqvi.
Namun, konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan masih menunjukkan sedikit tanda menuju penyelesaian diplomatik. Pemerintahan Presiden Donald Trump tampaknya masih mengandalkan tekanan ekonomi untuk mendorong perubahan sikap Iran.
Baca Juga: India Ingin Kemasan Keripik dan Soda Diberi Label Peringatan, Industri Melawan
Kebijakan tersebut menghadapi tantangan karena Iran telah hidup di bawah berbagai lapisan sanksi AS dan internasional selama beberapa dekade. Sanksi tersebut telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran, tetapi belum berhasil mengubah sikap kepemimpinan negara tersebut secara signifikan.
Konflik juga telah meningkatkan harga energi dan mengganggu stabilitas kawasan. Amerika Serikat berupaya mencari cara untuk menghentikan serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk serta, melalui sekutunya, di Laut Merah.
Hampir enam bulan telah berlalu sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Ribuan orang dilaporkan tewas, sebagian besar berada di Iran dan Lebanon.
Meski kemampuan militer konvensional Iran telah mengalami penurunan, Tehran masih memiliki kemampuan rudal dan drone yang cukup untuk menyerang negara-negara tetangga di Teluk serta mengancam kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, kondisi sebenarnya dari program nuklir Iran masih belum diketahui secara pasti. AS dan Israel sebelumnya menargetkan penghancuran program tersebut.
Perdagangan Minyak Iran dengan China Jadi Sorotan
Di tengah ancaman sanksi baru, perdagangan minyak Iran dengan China menjadi salah satu perhatian utama Washington.
China selama beberapa tahun terakhir menjadi pembeli terbesar minyak Iran. Namun, blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang kembali diberlakukan pada pertengahan Juli telah memangkas arus minyak Iran menuju China.
Bessent sebelumnya telah meminta kerja sama China dalam menerapkan tekanan terhadap Tehran. Namun, Washington juga menghadapi risiko pembalasan dari Beijing jika sanksi diarahkan terhadap bank-bank China.
Situasi tersebut menjadi semakin sensitif menjelang rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada bulan depan. Salah satu isu yang berpotensi menjadi perhatian adalah pembatasan ekspor mineral kritis dari China.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan sanksi terhadap bank-bank China, Bessent menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berada di luar jangkauan kebijakan sanksi AS.
"Kami ingin memperjelas hari ini bahwa tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan sanksi AS," kata Bessent.
Baca Juga: Harga Jagung Naik, Kondisi Panen AS Memburuk Lebih dari Perkiraan
Kementerian Luar Negeri China menilai kebijakan sanksi dan tekanan ekonomi bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Beijing menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya.
Harga Minyak Tetap Tertekan
Menariknya, pengumuman sanksi terbaru AS terhadap Iran tidak langsung mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak bahkan turun lebih dari US$2 per barel setelah pengumuman tersebut.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan energi yang lebih besar dari Timur Tengah.
Potensi gangguan tersebut menjadi perhatian karena Iran memiliki posisi strategis di kawasan Teluk dan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Setiap eskalasi yang mengganggu pelayaran di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global.
Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi dua faktor yang saling berlawanan. Di satu sisi, meningkatnya sanksi AS dapat menekan ekspor minyak Iran. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap eskalasi konflik dan gangguan jalur pelayaran dapat memicu kenaikan premi risiko minyak.
Perkembangan hubungan Iran, AS, China, dan Rusia selanjutnya akan menjadi faktor penting yang menentukan arah perdagangan minyak Iran sekaligus sentimen pasar energi global.














