Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - LONDON. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) mengonfirmasi bahwa Arab Saudi meningkatkan produksi minyak secara signifikan pada Februari sebagai langkah antisipasi menjelang serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.
Meski demikian, OPEC tetap mempertahankan prediksi pertumbuhan permintaan minyak global yang relatif kuat tahun ini.
Sumber yang mengetahui rencana Saudi menyebutkan, kenaikan produksi dan ekspor ini merupakan bagian dari rencana kontingensi untuk menghadapi potensi gangguan pasokan minyak di Timur Tengah akibat serangan tersebut.
Serangan yang terjadi pada 28 Februari memicu gangguan ekspor, menghentikan produksi di beberapa lokasi, dan mendorong harga minyak melonjak.
Baca Juga: Kilang Minyak Terbesar di Arab Saudi Jadi Sasaran Serangan Drone
Menurut laporan bulanan OPEC, Arab Saudi menyampaikan bahwa pasokan minyaknya ke pasar pada Februari mencapai 10,111 juta barel per hari (bpd), sementara produksi total mencapai 10,882 juta bpd. Pada Januari, produksi Saudi tercatat 10,10 juta bpd.
“Pasokan ke pasar tetap mendekati kuota OPEC+, meski produksi sebenarnya berjalan di atas target,” kata OPEC, merujuk pada perbedaan antara produksi total dan jumlah yang benar-benar dialirkan ke pasar, termasuk ekspor serta penggunaan domestik di kilang dan pembangkit listrik.
Secara keseluruhan, output OPEC+, yang mencakup anggota OPEC plus produsen lain seperti Rusia, rata-rata mencapai 42,72 juta bpd pada Februari, naik 445.000 bpd dibanding Januari.
Meski terjadi kenaikan produksi, OPEC mempertahankan perkiraan bahwa permintaan minyak dunia akan tumbuh 1,38 juta bpd pada 2026. “Perkembangan geopolitik yang sedang berlangsung perlu dimonitor dengan cermat, meski dampaknya terhadap pertumbuhan permintaan masih terlalu dini untuk ditentukan,” tulis OPEC dalam laporan resminya.
Baca Juga: Ekonomi Arab Saudi Tumbuh 4,9% pada Kuartal IV, Didorong Nonmigas dan Produksi Minyak
Langkah Saudi ini sejatinya mengikuti tradisi negara tersebut dalam mengintervensi pasar minyak, baik menambah pasokan saat terjadi gangguan maupun menahan produksi ketika terjadi kelebihan pasokan.
Kenaikan Februari ini mirip dengan langkah tahun lalu, ketika Saudi mengalihkan lebih banyak minyak ke penyimpanan sebagai antisipasi.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) dijadwalkan memperbarui proyeksi minyaknya pada Kamis mendatang, yang akan menjadi tolok ukur lain bagi pasar dalam menilai dampak geopolitik terhadap pasokan dan permintaan global.












