kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.067   -10,00   -0,06%
  • IDX 5.625   -214,84   -3,68%
  • KOMPAS100 743   -28,90   -3,75%
  • LQ45 561   -19,51   -3,36%
  • ISSI 196   -6,97   -3,43%
  • IDX30 318   -10,27   -3,13%
  • IDXHIDIV20 394   -12,61   -3,10%
  • IDX80 85   -2,82   -3,23%
  • IDXV30 108   -3,82   -3,43%
  • IDXQ30 103   -3,28   -3,09%

Jepang Gencar Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan


Jumat, 05 Juni 2026 / 13:38 WIB
Jepang Gencar Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan
ILUSTRASI. Jepang butuh 1,7 juta kiloliter SAF pada 2030, mengandalkan minyak jelantah. (Kim Kyung-Hoon/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Jepang semakin agresif mengumpulkan minyak goreng bekas atau minyak jelantah dari rumah tangga demi mempercepat produksi bahan bakar pesawat berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan energi ramah lingkungan dan target ambisius pemerintah untuk mengurangi emisi karbon sektor penerbangan.

Di sebuah dapur di Tokyo, ibu rumah tangga Maki Watanabe dengan hati-hati menuangkan minyak bekas yang digunakan untuk menggoreng terong ke dalam botol plastik. Tindakan sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya nasional Jepang untuk meningkatkan pasokan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan.

"Dibutuhkan jumlah yang sangat besar untuk menerbangkan sebuah pesawat, sehingga saya berharap kita bisa mengumpulkan lebih banyak lagi," ujar Watanabe.

Kegemarannya memasak memungkinkan dirinya menyumbangkan sekitar 40 liter minyak jelantah setiap tahun.

Minyak yang dikumpulkan Watanabe kemudian disalurkan ke supermarket terdekat yang menjadi salah satu dari sekitar 300 peserta dalam proyek kolaborasi pemerintah dan swasta bertajuk "Fry to Fly".

Program tersebut semakin penting ketika konflik Iran dan dampaknya terhadap pasar energi global menekan pasokan dan meningkatkan biaya energi bagi Jepang yang minim sumber daya alam.

Baca Juga: Kebijakan Tarif Tambahan AS ke 60 Negara Dinilai Tak Atasi Masalah Kerja Paksa

Jepang Kejar Target 10% Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan pada 2030

Pemerintah Jepang kini semakin bergantung pada partisipasi masyarakat untuk mencapai target penggunaan SAF sebesar 10% dari total konsumsi bahan bakar pesawat pada tahun 2030.

Sebagai ekonomi terbesar keempat di dunia, Jepang memperkirakan membutuhkan sekitar 1,7 juta kiloliter SAF pada 2030. Pemerintah berharap sebagian besar kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari dalam negeri melalui pemanfaatan minyak goreng bekas sebagai bahan baku utama yang relatif murah.

Namun, keterbatasan pasokan bahan baku dan infrastruktur membuat produksi SAF domestik masih sangat rendah. Saat ini Jepang hanya mampu memproduksi sekitar 30.000 kiloliter SAF atau setara 0,3% dari total konsumsi bahan bakar pesawat.

"Kami menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya," ungkap dua maskapai terbesar Jepang, yaitu ANA Holdings dan Japan Airlines dalam presentasi bersama mengenai upaya pengembangan SAF pada Mei lalu.

Industri Penerbangan Hadapi Tantangan Besar Kurangi Emisi

Dorongan besar-besaran untuk mengumpulkan minyak jelantah menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi industri penerbangan dalam mengurangi jejak karbonnya.

Investigasi Reuters tahun lalu menunjukkan hanya sekitar seperlima proyek SAF yang diumumkan maskapai penerbangan di seluruh dunia yang benar-benar terealisasi.

Selama ini adopsi SAF terhambat oleh biaya produksinya yang jauh lebih mahal dibanding bahan bakar konvensional. Namun, kegagalan memenuhi target volume produksi pada 2030 juga berpotensi meningkatkan biaya bagi perusahaan penyulingan dan maskapai.

Jika pasokan domestik tidak mencukupi, perusahaan energi kemungkinan harus mengimpor SAF atau bahan bakunya dengan harga yang lebih mahal. Selain itu, mereka juga berpotensi menghadapi sanksi atau penalti terkait target lingkungan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya operasional maskapai.

Sebagai perbandingan, Singapura yang telah menerapkan mandat nasional penggunaan SAF sebesar 1% masih sangat bergantung pada impor bahan baku dari luar negeri.

Tahun Krusial bagi Investasi SAF Jepang

Tahun ini menjadi periode yang sangat menentukan bagi industri energi Jepang dalam pengembangan SAF.

Pemerintah meminta perusahaan energi mengambil keputusan investasi final paling lambat Maret mendatang agar produksi massal dapat dimulai pada 2030.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi dan Menuju Penurunan Mingguan Imbas Ketegangan di Timur Tengah

Perusahaan energi terbesar Jepang, Eneos Holdings, menyatakan bahwa volume minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan akan menjadi faktor utama dalam menentukan kelanjutan proyek bersama Mitsubishi Corporation untuk memproduksi 400.000 kiloliter SAF setelah tahun fiskal 2028.

Proses produksi SAF sendiri tergolong kompleks dan mahal, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, hidrogenasi hingga proses distilasi. Kondisi tersebut membuat investasi di sektor SAF memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi.

Perusahaan rekayasa industri Jepang, JGC Holdings, yang mengoperasikan pabrik SAF skala komersial pertama di Jepang pada tahun lalu, menilai kepastian permintaan menjadi faktor penting sebelum memperluas kapasitas produksi.

Proyek patungan JGC bersama Cosmo Energy Holdings dan produsen biodiesel REVO International saat ini memiliki kapasitas produksi sekitar 30.000 kiloliter per tahun.

Pemerintah dan Swasta Percepat Pengumpulan Minyak Jelantah

Menjelang tenggat waktu 2030, berbagai inisiatif pengumpulan minyak jelantah terus diperluas.

Pemerintah Tokyo berupaya menggandeng lebih banyak pelaku usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengoordinasikan pengumpulan minyak bekas dari sekitar 7,8 juta rumah tangga di ibu kota Jepang.

Pada tahun fiskal lalu, pemerintah membagikan 13.000 corong plastik yang dilengkapi kode QR berisi petunjuk pengumpulan minyak jelantah. Meski demikian, total minyak yang berhasil dikumpulkan sepanjang 2024 hanya mencapai 160 kiloliter.

Jumlah tersebut, berdasarkan perhitungan Reuters menggunakan formula dari perusahaan SAF Jepang Saffaire Sky Energy, hanya cukup untuk menerbangkan satu pesawat Boeing 787 Dreamliner selama sekitar 17 jam.

"Jika kita tidak mulai sekarang, maka kita tidak akan mampu mencapai target pada tahun 2030," kata pejabat Pemerintah Tokyo, Yasushi Sato.

Sejumlah perusahaan juga mulai terlibat dalam program tersebut. Perusahaan teknologi Fujifilm Holdings mulai mengumpulkan minyak bekas dari kantin karyawan, sementara kelompok ritel besar seperti Aeon, Ito-Yokado, dan 7-Eleven memperbanyak titik pengumpulan minyak jelantah.

Baca Juga: Bank Sentral India Tahan Suku Bunga di Level 5,25%, Saat Rupee Melemah

Target Dinilai Sangat Ambisius

Meski upaya pengumpulan terus diperluas, para analis menilai target Jepang tetap sangat menantang.

Menurut UCO Japan, asosiasi perusahaan yang bergerak di bidang daur ulang minyak bekas, bahkan jika seluruh minyak jelantah yang tersedia berhasil dikumpulkan, volumenya hanya mencapai sekitar 550.000 kiloliter.

Jumlah tersebut hanya mampu menghasilkan sekitar seperempat dari total kebutuhan SAF Jepang pada 2030.

Karena hampir seluruh minyak limbah dari sektor bisnis telah dimanfaatkan, para analis memperkirakan Jepang tetap harus mengimpor SAF atau bahan bakunya sebelum teknologi alternatif seperti bahan bakar jet berbasis bioetanol dapat digunakan secara komersial.

"Dengan kondisi seperti itu, target tersebut sangat ambisius," ujar Motoomi Suzuki, ekonom senior di Norinchukin Research Institute.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan Jepang terhadap bahan baku domestik membuat minyak goreng bekas menjadi satu-satunya pilihan yang realistis dalam jangka pendek untuk mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×