Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Sejak pernyataan Takaichi soal Taiwan pada November lalu, China telah mengimbau warganya untuk tidak berkunjung ke Jepang, menghentikan impor makanan laut Jepang, serta membatalkan sejumlah pertemuan dan acara budaya bilateral.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menengahi gencatan senjata perang dagang AS–China dan berencana mengunjungi Beijing pada April mendatang, disebut telah meminta Takaichi agar tidak memperkeruh situasi.
Baca Juga: Ekspor Tanah Jarang China Anjlok Tajam pada September
Meski demikian, perselisihan ini belum berdampak pada tingkat popularitas Takaichi di dalam negeri.
Sejumlah analis membandingkan ketegangan saat ini dengan konflik diplomatik pada 2012, ketika Jepang menasionalisasi pulau sengketa yang memicu protes besar-besaran di China dan membekukan pertemuan tingkat tinggi selama lebih dari dua tahun.
Presiden Itochu Corp, Keita Ishii, memperkirakan konflik ini akan berlangsung lama. “Saya pikir ini akan berlarut-larut,” ujarnya dalam wawancara televisi.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning kembali menegaskan tuntutan Beijing agar Jepang mencabut pernyataan terkait Taiwan. Ia mendesak Tokyo untuk “merenungkan kesalahannya dan mengoreksi pernyataan yang keliru”.













