kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Jika China Menyerang Taiwan, Ini Gambaran Perang Terbesar di Abad 21


Senin, 05 Januari 2026 / 05:58 WIB
Jika China Menyerang Taiwan, Ini Gambaran Perang Terbesar di Abad 21
ILUSTRASI. Bagi para analis militer, tempat ini justru pantai Linkou dianggap sebagai salah satu lokasi paling berbahaya di Taiwan, bahkan mungkin di dunia. (Dado Ruvic/Illustration/REUTERS)


Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Strategi “Mencekik” Taiwan

Meski terlihat mempersiapkan serangan amfibi besar, banyak analis menilai invasi China tidak akan dimulai dengan pendaratan langsung.

Alexander Huang, pakar strategi perang Taiwan, menyebut dua skenario utama. Pertama, serangan siber dan sabotase infrastruktur untuk melumpuhkan sistem komunikasi dan komando Taiwan. Kedua, “karantina maritim”—pemutusan pasokan energi dan komunikasi secara bertahap menggunakan kapal penjaga pantai dan kapal sipil, bukan kapal perang.

Sebagai pulau yang bergantung pada impor, Taiwan sangat rentan. Cadangan energi saat ini diperkirakan hanya cukup bertahan sekitar 40 hari. Dalam jangka panjang, tekanan ini bisa “mencekik Taiwan hingga menyerah”, kata Huang.

China sendiri telah lama mempraktikkan tekanan abu-abu (grey zone pressure) dengan mengerahkan ratusan kapal dan pesawat di sekitar Taiwan, tanpa memicu perang terbuka.

Tonton: Amerika Tangkap Presiden Venezuela Saat Tidur, Seret dari Kamar bersama Istri

Jika “D-Day China” Terjadi

Selat Taiwan selebar sekitar 110 mil, dengan ombak besar dan cuaca ekstrem yang sering berubah. Pendaratan amfibi hanya mungkin dilakukan dalam jendela waktu tertentu.

Sebagian besar kapal besar China juga tidak bisa langsung merapat ke pantai dangkal Taiwan. Karena itu, Beijing membangun kapal tongkang khusus yang bisa berfungsi sebagai pelabuhan terapung di laut dalam, memungkinkan pasukan dan logistik diturunkan ke pantai merah.

Meski begitu, sejumlah pakar masih meragukan kemampuan China melakukan pendaratan besar-besaran. Perubahan garis pantai, kondisi laut, dan pertahanan Taiwan membuat operasi ini sangat berisiko.

Namun satu hal yang disepakati para analis: jika invasi terjadi, skalanya akan belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan puluhan kapal, melainkan ribuan.

Kesimpulan

China secara sistematis membangun kemampuan militer dan logistik untuk menghadapi kemungkinan konflik dengan Taiwan, mulai dari penguatan armada laut, pemanfaatan kapal sipil untuk keperluan militer, hingga simulasi blokade dan pendaratan amfibi. Meski banyak tantangan teknis dan risiko besar yang membuat invasi langsung jauh dari pasti, tekanan bertahap melalui karantina maritim dan operasi abu-abu dinilai sebagai skenario paling realistis. Bagi Taiwan, ancaman utama bukan hanya serangan militer terbuka, melainkan strategi jangka panjang China untuk melumpuhkan pulau itu tanpa harus menembakkan satu peluru pun di awal.

Selanjutnya: Mengawali Pekan di Awal Tahun di Tengah Aksi Trump, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Menarik Dibaca: 30 Ucapan HUT KOWAL ke-63 Tahun Penuh Semangat, Diperingati Setiap 5 Januari




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×