Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Strategi “Mencekik” Taiwan
Meski terlihat mempersiapkan serangan amfibi besar, banyak analis menilai invasi China tidak akan dimulai dengan pendaratan langsung.
Alexander Huang, pakar strategi perang Taiwan, menyebut dua skenario utama. Pertama, serangan siber dan sabotase infrastruktur untuk melumpuhkan sistem komunikasi dan komando Taiwan. Kedua, “karantina maritim”—pemutusan pasokan energi dan komunikasi secara bertahap menggunakan kapal penjaga pantai dan kapal sipil, bukan kapal perang.
Sebagai pulau yang bergantung pada impor, Taiwan sangat rentan. Cadangan energi saat ini diperkirakan hanya cukup bertahan sekitar 40 hari. Dalam jangka panjang, tekanan ini bisa “mencekik Taiwan hingga menyerah”, kata Huang.
China sendiri telah lama mempraktikkan tekanan abu-abu (grey zone pressure) dengan mengerahkan ratusan kapal dan pesawat di sekitar Taiwan, tanpa memicu perang terbuka.
Tonton: Amerika Tangkap Presiden Venezuela Saat Tidur, Seret dari Kamar bersama Istri
Jika “D-Day China” Terjadi
Selat Taiwan selebar sekitar 110 mil, dengan ombak besar dan cuaca ekstrem yang sering berubah. Pendaratan amfibi hanya mungkin dilakukan dalam jendela waktu tertentu.
Sebagian besar kapal besar China juga tidak bisa langsung merapat ke pantai dangkal Taiwan. Karena itu, Beijing membangun kapal tongkang khusus yang bisa berfungsi sebagai pelabuhan terapung di laut dalam, memungkinkan pasukan dan logistik diturunkan ke pantai merah.
Meski begitu, sejumlah pakar masih meragukan kemampuan China melakukan pendaratan besar-besaran. Perubahan garis pantai, kondisi laut, dan pertahanan Taiwan membuat operasi ini sangat berisiko.
Namun satu hal yang disepakati para analis: jika invasi terjadi, skalanya akan belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan puluhan kapal, melainkan ribuan.
Kesimpulan
China secara sistematis membangun kemampuan militer dan logistik untuk menghadapi kemungkinan konflik dengan Taiwan, mulai dari penguatan armada laut, pemanfaatan kapal sipil untuk keperluan militer, hingga simulasi blokade dan pendaratan amfibi. Meski banyak tantangan teknis dan risiko besar yang membuat invasi langsung jauh dari pasti, tekanan bertahap melalui karantina maritim dan operasi abu-abu dinilai sebagai skenario paling realistis. Bagi Taiwan, ancaman utama bukan hanya serangan militer terbuka, melainkan strategi jangka panjang China untuk melumpuhkan pulau itu tanpa harus menembakkan satu peluru pun di awal.













