Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Cuaca mendung menyelimuti pantai Linkou di Taiwan utara. Sekilas, Linkou tampak seperti pantai biasa. Namun bagi para analis militer, tempat ini justru dianggap sebagai salah satu lokasi paling berbahaya di Taiwan, bahkan mungkin di dunia.
Pantai Linkou termasuk dalam sekitar 20 “pantai merah”, yakni titik-titik di pesisir Taiwan yang dinilai paling mungkin menjadi lokasi pendaratan pasukan China jika invasi terjadi. Dari semua pantai merah, Linkou dianggap paling strategis.
Mengutip The Telegraph, lokasinya berdekatan dengan bandara terbesar Taiwan yang melayani Taipei, berada di samping Pelabuhan Taipei yang berair dalam, serta berbatasan langsung dengan muara Sungai Tamsui yang mengalir menembus jantung ibu kota hingga ke Selat Taiwan.
Menurut Dr Tzu-yun Su, peneliti senior sekaligus direktur Institute for National Defence and Research (INDSR) Taiwan, menguasai wilayah ini akan memberi dampak besar.
Baca Juga: Dunia Terbelah Usai AS Tangkap Maduro, Kecaman Mengalir dari China hingga Rusia
“Jika China merebut kawasan ini, koneksi utama Taiwan ke Taipei akan terputus. Ibu kota bisa terisolasi, pasokan pangan terganggu, dan moral publik jatuh. Ini mirip serangan kilat ala blitzkrieg,” ujarnya.
Ancaman itu terasa nyata ketika China menggelar latihan militer terbesar sepanjang sejarahnya di sekitar Taiwan. Beijing meluncurkan roket ke arah pulau tersebut dan mensimulasikan blokade pelabuhan-pelabuhan utama, termasuk Pelabuhan Taipei. China menyebut latihan ini sebagai “peringatan keras” terhadap kekuatan pro-kemerdekaan Taiwan dan campur tangan asing.
Para ahli memperkirakan, jika pasukan China berhasil mendarat di Linkou—meski peluangnya belum tentu—mereka bisa mencapai pusat kendali utama Taiwan dalam waktu kurang dari satu jam.
Baca Juga: Dunia Terbelah Usai AS Tangkap Maduro, Kecaman Mengalir dari China hingga Rusia
Namun, invasi semacam itu tidak sederhana. Dibutuhkan ratusan ribu tentara terlatih, armada laut raksasa yang mencakup kapal perang modern hingga kapal sipil, serta persiapan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tanda-tanda menunjukkan Beijing sudah bergerak ke arah itu.
Armada Laut Tanpa Tanding
China saat ini memiliki industri galangan kapal paling aktif di dunia. Kapasitas pembuatannya diperkirakan mencapai 200 kali lipat Amerika Serikat, meski anggaran militernya jauh lebih kecil. Pada 2025, anggaran pertahanan China sekitar US$246 miliar, sementara AS mencapai US$850 miliar.
Jumlah kapal perang China kini diperkirakan mencapai 405 unit, melampaui Angkatan Laut AS yang memiliki sekitar 295 kapal. Angka ini diproyeksikan terus bertambah hingga setidaknya 30 kapal lagi pada 2030.
Laporan SIPRI menunjukkan bahwa di tengah penurunan pendapatan banyak perusahaan pertahanan China, sektor galangan kapal justru tumbuh pesat.
Padahal, dominasi maritim ini baru dibangun dalam beberapa dekade terakhir. Selama bertahun-tahun, modernisasi militer China lebih berfokus pada daratan. Namun seiring meningkatnya ancaman dari laut—mulai dari Laut China Selatan hingga Taiwan—fokus itu bergeser.
Presiden Xi Jinping menjadikan “penyatuan kembali” Taiwan sebagai bagian penting dari warisan politiknya. Hampir setiap pekan, isu Taiwan muncul dalam pidato atau pernyataan resmi Beijing.
Armada Sipil yang Disiapkan untuk Perang
Meski memiliki ratusan kapal perang, armada militer China saja dinilai belum cukup untuk menginvasi Taiwan. Karena itu, Beijing mengandalkan strategi “dual-use”: kapal sipil yang dirancang agar bisa diubah menjadi alat militer.
Sejak 2015, seluruh galangan kapal sipil di China diwajibkan memastikan kapal baru dapat digunakan untuk kepentingan militer saat darurat. Jenis kapal yang disiapkan mencakup kapal kontainer, kapal roll-on/roll-off (ro-ro), kapal serbaguna, kapal curah, hingga kapal kargo.
Kapal ro-ro—yang, dilengkapi ramp kuat untuk kendaraan berat—diproduksi besar-besaran. Diperkirakan sekitar 200 kapal ro-ro akan selesai dibangun antara 2023–2026, lebih dari dua kali lipat periode sebelumnya.
China juga menguji kapal semi-submersible, yang mampu mengangkut dan mengoperasikan helikopter, seolah mensimulasikan operasi pendaratan di Taiwan.
Strategi “Mencekik” Taiwan
Meski terlihat mempersiapkan serangan amfibi besar, banyak analis menilai invasi China tidak akan dimulai dengan pendaratan langsung.
Alexander Huang, pakar strategi perang Taiwan, menyebut dua skenario utama. Pertama, serangan siber dan sabotase infrastruktur untuk melumpuhkan sistem komunikasi dan komando Taiwan. Kedua, “karantina maritim”—pemutusan pasokan energi dan komunikasi secara bertahap menggunakan kapal penjaga pantai dan kapal sipil, bukan kapal perang.
Sebagai pulau yang bergantung pada impor, Taiwan sangat rentan. Cadangan energi saat ini diperkirakan hanya cukup bertahan sekitar 40 hari. Dalam jangka panjang, tekanan ini bisa “mencekik Taiwan hingga menyerah”, kata Huang.
China sendiri telah lama mempraktikkan tekanan abu-abu (grey zone pressure) dengan mengerahkan ratusan kapal dan pesawat di sekitar Taiwan, tanpa memicu perang terbuka.
Tonton: Amerika Tangkap Presiden Venezuela Saat Tidur, Seret dari Kamar bersama Istri
Jika “D-Day China” Terjadi
Selat Taiwan selebar sekitar 110 mil, dengan ombak besar dan cuaca ekstrem yang sering berubah. Pendaratan amfibi hanya mungkin dilakukan dalam jendela waktu tertentu.
Sebagian besar kapal besar China juga tidak bisa langsung merapat ke pantai dangkal Taiwan. Karena itu, Beijing membangun kapal tongkang khusus yang bisa berfungsi sebagai pelabuhan terapung di laut dalam, memungkinkan pasukan dan logistik diturunkan ke pantai merah.
Meski begitu, sejumlah pakar masih meragukan kemampuan China melakukan pendaratan besar-besaran. Perubahan garis pantai, kondisi laut, dan pertahanan Taiwan membuat operasi ini sangat berisiko.
Namun satu hal yang disepakati para analis: jika invasi terjadi, skalanya akan belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan puluhan kapal, melainkan ribuan.
Kesimpulan
China secara sistematis membangun kemampuan militer dan logistik untuk menghadapi kemungkinan konflik dengan Taiwan, mulai dari penguatan armada laut, pemanfaatan kapal sipil untuk keperluan militer, hingga simulasi blokade dan pendaratan amfibi. Meski banyak tantangan teknis dan risiko besar yang membuat invasi langsung jauh dari pasti, tekanan bertahap melalui karantina maritim dan operasi abu-abu dinilai sebagai skenario paling realistis. Bagi Taiwan, ancaman utama bukan hanya serangan militer terbuka, melainkan strategi jangka panjang China untuk melumpuhkan pulau itu tanpa harus menembakkan satu peluru pun di awal.













