Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bank investasi raksasa JPMorgan Chase memangkas nilai sejumlah portofolio pinjaman yang dimiliki kelompok private credit dan memperketat pembiayaan ke sektor tersebut.
Langkah ini dipicu kekhawatiran bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat mengganggu bisnis perusahaan-perusahaan software yang menjadi debitur utama.
Laporan Financial Times menyebutkan, penurunan nilai (markdown) terutama diterapkan pada pinjaman yang diberikan kepada perusahaan software yang dinilai paling rentan terhadap disrupsi teknologi AI.
CEO JPMorgan, Jamie Dimon, disebut telah memberi sinyal kehati-hatian yang lebih besar kepada investor. Bank kini lebih selektif dalam memberikan pinjaman yang menggunakan aset perusahaan software sebagai jaminan.
Baca Juga: Bank Besar Ubah Proyeksi Suku Bunga The Fed, JP Morgan Prediksi Kenaikan pada 2027
Private credit sendiri merujuk pada pembiayaan yang diberikan oleh lembaga non-bank kepada perusahaan, biasanya kepada peminjam yang lebih berisiko atau perusahaan yang membutuhkan dana besar untuk aksi akuisisi maupun buyout.
Model pembiayaan ini berkembang pesat karena prosesnya lebih cepat dibanding pinjaman bank.
Namun belakangan, kekhawatiran terhadap kualitas kredit meningkat, terutama pada perusahaan software yang dianggap paling rentan terdampak perkembangan AI. Kekhawatiran ini memicu gelombang penarikan dana investor dari sejumlah kendaraan investasi private credit.
Salah satu yang terdampak adalah BlackRock melalui produk investasinya, HPS Corporate Lending Fund senilai sekitar US$26 miliar.
Fenomena yang disebut sebagai “AI scare trade” juga mengguncang pasar saham teknologi.
Nilai perusahaan software di Amerika Serikat dan manajer aset alternatif mengalami penyusutan tajam seiring cepatnya perkembangan model AI baru serta alat otomatisasi yang dikembangkan perusahaan seperti Anthropic.
Baca Juga: Gerakan Boikot JP Morgan Menguat Setelah Strategy Terancam Keluar dari Index MSCI
Ketakutan terhadap disrupsi tersebut membuat biaya pinjaman meningkat karena perusahaan teknologi mulai menjauh dari pasar utang, sementara para pemberi pinjaman memperketat evaluasi kredit.
Analis bahkan memperkirakan tingkat gagal bayar pinjaman sektor teknologi dapat meningkat sekitar 3% hingga 5% hingga tahun 2027.
Di sisi lain, industri private credit kini juga menghadapi ujian likuiditas. Beberapa manajer aset besar seperti Blue Owl Capital, BlackRock, dan Blackstone dilaporkan mulai membatasi penarikan dana investor setelah lonjakan permintaan redemption.













