Kapal Induk China Berlayar di Selat Taiwan, Kapal Perusak AS Membayangi

Jumat, 18 Maret 2022 | 17:49 WIB Sumber: Reuters
Kapal Induk China Berlayar di Selat Taiwan, Kapal Perusak AS Membayangi

ILUSTRASI. Kapal induk China Shandong.

KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Kapal induk China, Shandong berlayar melalui Selat Taiwan pada Jumat (18/3), dibayangi kapal perusak AS, sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut mengatakan kepada Reuters.

Kejadian itu hanya beberapa jam sebelum Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden menggelar pembicaraan.

Sumber itu, yang tidak berwenang untuk berbicara kepada media dan berbicara dengan syarat anonim, menyebutkan, Shandong berlayar dekat dengan Pulau Kinmen yang dikuasai Taiwan, yang terletak tepat di seberang Kota Xiamen di China, dan dibayangi kapal perang AS.

"Sekitar pukul 10.30 pagi, CV-17 muncul sekitar 30 mil laut di Barat Daya Kinmen, dan difoto oleh seorang penumpang dalam penerbangan sipil," kata sumber tersebut, merujuk pada nomor lambung Shandong.

USS Ralph Johnson, kapal perusak peluru kendali Arleigh Burke AS, membayangi kapal induk itu, yang tidak memiliki pesawat di deknya dan berlayar ke Utara melalui Selat Taiwan, sumber itu menambahkan.

Baca Juga: China Kecam Taiwan Beri Bantuan ke Ukraina: Ambil Untung dari Kesulitan Orang Lain

Taiwan juga mengirim kapal perang untuk mengawasi situasi, menurut sumber itu.

Kementerian Pertahanan Taiwan menolak berkomentar tetapi mengatakan, pasukannya selalu mengawasi aktivitas China di Selat Taiwan dan "menanggapi sesuai dengan prosedur standar".

Juru bicara Angkatan Laut AS Lt Mark Langford bilang, USS Ralph Johnson telah "melakukan transit rutin di Selat Taiwan pada 17 Maret (18 Maret waktu Taiwan) melalui perairan internasional sesuai dengan hukum internasional".

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian meminta Reuters mengajukan pertanyaan ke Kementerian Pertahanan. Tetapi, dia mengatakan, Shandong memiliki "jadwal latihan rutin".

"Kita seharusnya tidak mengaitkan ini dengan komunikasi antara kepala negara China dan Amerika Serikat. Anda mungkin berpikir itu terlalu sensitif. Yang sensitif adalah Anda, bukan Selat Taiwan," kata Zhao kepada wartawan di Beijing.

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru