Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasokan minyak global mulai bertambah setelah sejumlah kapal tanker yang sebelumnya terjebak di kawasan Teluk Persia berhasil keluar dari Selat Hormuz menyusul tercapainya kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat.
Data pelayaran pada Rabu (24/6/2026) menunjukkan, sedikitnya tiga kapal tanker yang membawa total sekitar 5 juta barel minyak mentah sedang meninggalkan Selat Hormuz menuju tujuan masing-masing di Asia dan Timur Tengah.
Baca Juga: Negara-Negara Teluk Ragukan Kesepakatan Iran, Rubio Turun Tangan Beri Penjelasan
Bertambahnya pasokan yang kembali mengalir ke pasar dinilai menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak dunia.
Kapal tanker raksasa berbendera Korea Selatan, VL Breeze, yang mengangkut sekitar 2 juta barel kondensat Qatar dan minyak mentah Abu Dhabi, telah melewati Selat Hormuz dan berlayar menuju Daesan, Korea Selatan.
Kapal tersebut disewa oleh perusahaan penyulingan minyak Korea Selatan, Hyundai Oilbank.
Sementara itu, kapal tanker VLCC Plata Carrier yang disewa oleh Indian Oil Corporation membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi dan juga tengah meninggalkan selat tersebut.
Baca Juga: Hasil Stress Test The Fed Jadi Penentu Arah Dividen dan Buyback Bank Besar AS
Bersama kapal itu, tanker Prudent Warrior turut berlayar menuju Sohar, Oman, dengan muatan sekitar 1 juta barel minyak mentah Basrah asal Irak.
Analis dari Kpler dan Vortexa sebelumnya memperkirakan hampir 90 juta barel minyak mentah tertahan di kawasan Teluk Persia akibat konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Kementerian Kelautan Korea Selatan menyatakan empat kapal yang dioperasikan perusahaan pelayaran Korea Selatan telah berhasil keluar dari Selat Hormuz dan melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir. Satu kapal menuju Korea Selatan, sementara tiga lainnya menuju negara lain.
Meski demikian, masih terdapat 18 dari 26 kapal yang sempat terjebak sejak pecahnya konflik Timur Tengah dan belum meninggalkan kawasan Teluk.
Belum diketahui secara pasti apakah kapal-kapal tersebut menggunakan jalur pelayaran sementara yang dibuka oleh Oman bersama Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Baca Juga: Indonesia, Singapura hingga Malaysia Hadapi Risiko Tinggi Kabut Asap Tahun Ini
Pemerintah Oman sebelumnya menegaskan akan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional tanpa mengenakan biaya tambahan.
Oman juga telah menetapkan dua koridor pelayaran sementara di sisi utara dan selatan jalur utama guna memfasilitasi keberangkatan kapal secara aman dari kawasan tersebut.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan gas alam cair (LNG) juga mulai menunjukkan pemulihan. Data pelayaran menunjukkan dua kapal LNG kosong, yakni Shandong Redwood dan Milaha Qatar, telah memasuki wilayah barat Selat Hormuz untuk memuat kargo dari Qatar.
Dengan tambahan dua kapal tersebut, jumlah kapal LNG kosong yang diketahui sedang menuju Qatar untuk mengambil muatan kini mencapai sembilan unit, jumlah tertinggi sejak konflik dimulai.
Baca Juga: Ekspor Minyak UEA Pulih Mendekati Level Sebelum Konflik
Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan, produksi LNG negara tersebut diperkirakan kembali normal dalam beberapa pekan ke depan.
Kembalinya arus pengiriman minyak dan LNG dari kawasan Teluk diperkirakan akan membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia, kondisi ini berpotensi memberikan sentimen positif karena dapat membantu menahan kenaikan harga minyak dunia dan biaya impor energi.














