Kendalikan Inflasi, Bank Sentral Malaysia Diprediksi Kerek Suku Bunga Pekan Ini

Senin, 04 Juli 2022 | 09:37 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Kendalikan Inflasi, Bank Sentral Malaysia Diprediksi Kerek Suku Bunga Pekan Ini

ILUSTRASI. Bank Negara Malaysia (BNM) atau bank sentral Malaysia diproyeksi kerek suku bunga dalam pertemuan 6 Juli 2022


KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Bank Negara Malaysia (BNM) atawa bank sentral Malaysia diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini. Jika hal tersebut terjadi, maka ini jadi kenaikan pertama secara berturut-turut dalam lebih dari satu dekade.

Kenaikan suku bunga acuan dilakukan untuk mengendalikan inflasi, yang sebagian berasal dari pelemahan ringgit. Berdasarkan data Bloomberg, hingga Senin (4/7), ringgit sudah melemah 5,51% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara year to date (ytd).

BNM, meskipun menghadapi inflasi yang rendah dibandingkan dengan banyak negara lainnya, secara tak terduga menaikkan suku bunga kebijakan overnight sebesar 25 basis poin menjadi 2,00% pada pertemuan Mei 2022.

Dari 22 ekonom dalam jajak pendapat Reuters pada 27 Juni-1 Juli memperkirakan, tingkat suku bunga akan naik lagi 25 basis poin menjadi 2,25% pada pertemuan 6 Juli.

Baca Juga: Asia Tengah Cari Akal untuk Memerangi Lonjakan Inflasi, Bagaimana Indonesia?

Bank sentral Malaysia ini terakhir menaikkan suku bunga dua kali berturut-turut pada pertengahan tahun 2010 silam.

Namun, BNM, yang mengatakan akan mengambil langkah "terukur dan bertahap", diperkirakan akan melambat dibandingkan dengan rekan-rekan global lainnya.

Sebagian kecil responden dari survei Reuters, yakni 12 dari 22, memperkirakan kenaikan 25 basis poin lagi pada September menjadi 2,50%. Sedangkan 10 sisanya memperkirakan, tidak ada perubahan setelah kenaikan Juli.

"BNM akan memperhatikan potensi tekanan naik terhadap inflasi yang berasal dari kenaikan upah minimum baru-baru ini, penyesuaian ke atas dalam plafon harga untuk produk makanan tertentu, dan kenaikan inflasi tarikan permintaan di belakang pembukaan kembali ekonomi," kata Derrick Kam, ekonom Asia di Morgan Stanley dikutip dari Reuters, Senin (4/7).

Inflasi Malaysia naik menjadi 2,8% di bulan Mei dari 2,3% di bulan April. Ringgit Malaysia melemah pada kuartal terakhir dan telah melemah hampir 6% sepanjang tahun ini, meningkatkan prospek tekanan inflasi impor.

"Ringgit Malaysia telah jatuh terhadap the greenback karena kenaikan suku bunga agresif oleh Federal Reserve dan menaikkan suku bunga kebijakan overnight akan membantu menopang mata uang dengan mempertahankan perbedaan suku bunga," ujar Denise Cheok, ekonom di Moody's Analisis.

Baca Juga: Krisis Ekonomi Akut, Cadangan Bensin di Sri Lanka Semakin Menipis

Untuk pertemuan November, 12 dari 22 analis dalam jajak pendapat memperkirakan tingkat suku bunga di 2,50%, delapan mengatakan 2,75% sementara dua mengatakan 2,25%.

Perkiraan median dari jajak pendapat juga memperkirakan kenaikan 25 basis poin di masing-masing dua kuartal pertama tahun 2023. Untuk kuartal 1-2023, sembilan dari 20 ekonom memperkirakan suku bunga akan naik menjadi 2,75%, enam memperkirakan 3,00% sementara lima mengatakan 2,50%.

Sementara itu, suku bunga diperkirakan akan mencapai tingkat pra-pandemi sebesar 3,00% pada kuartal kedua tahun depan. Sekitar separuh responden, sembilan dari 19 responden memprediksi kenaikan menjadi 3,00%, enam mengatakan 2,75%, tiga mengatakan 2,50%, dan satu mengatakan 3,25%.

BNM pada pertemuan Mei mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2022 antara 5,3%-6,3% dan proyeksi inflasi utama tetap antara 2,2%-3,2% tahun ini.

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru