kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.091   -98,00   -0,54%
  • IDX 5.029   109,22   2,22%
  • KOMPAS100 649   16,82   2,66%
  • LQ45 514   12,88   2,57%
  • ISSI 166   2,79   1,71%
  • IDX30 289   6,42   2,27%
  • IDXHIDIV20 389   6,55   1,71%
  • IDX80 75   1,90   2,61%
  • IDXV30 108   1,50   1,41%
  • IDXQ30 97   2,19   2,30%

Kerajaan Bisnis Elon Musk Terancam Usai Demokrat Menang Pemilu AS, Ini Pemicunya


Kamis, 05 November 2026 / 11:21 WIB
Kerajaan Bisnis Elon Musk Terancam Usai Demokrat Menang Pemilu AS, Ini Pemicunya
Elon Musk (Dok. Reuters/Reuters)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Kekalahan telak Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) menjadi ancaman baru bagi kerajaan bisnis miliarder Elon Musk.

Perubahan peta politik, termasuk kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan gubernur Texas, berpotensi memperketat pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan milik Musk.

Musk sebelumnya menggelontorkan hampir US$ 500 juta untuk mendukung kandidat Partai Republik dan mempertahankan dominasi partai tersebut di Texas.

Negara bagian ini menjadi basis penting bagi sejumlah bisnisnya, mulai dari produsen mobil listrik Tesla, perusahaan antariksa SpaceX, hingga rencana pengembangan usaha semikonduktor yang melibatkan kedua perusahaan tersebut.

Baca Juga: Grok AI Elon Musk Rilis Episode 1 Odyssey, Netizen di X Kritik Pedas: Absolut Sampah!

Namun, langkah politik Musk tidak membuahkan hasil. Partai Demokrat berhasil merebut kedua kamar Kongres AS.

Di Texas, kandidat Demokrat Gina Hinojosa juga mengalahkan Greg Abbott dalam pemilihan gubernur, mengakhiri dominasi Partai Republik di posisi tersebut selama lebih dari tiga dekade.

Hasil ini menjadi pukulan bagi Musk, yang selama bertahun-tahun secara terbuka mendukung Partai Republik dan bersekutu dekat dengan Presiden AS Donald Trump.

Musk bahkan masih menyerukan kepada para pengikutnya di media sosial X untuk memilih kandidat Republik menjelang pemungutan suara.

Kekalahan tersebut berpotensi membawa konsekuensi langsung bagi operasional bisnisnya.

Baca Juga: SpaceX dan Tesla Bakal Merger? Ini Perbandingan Kinerja Keuangan Keduanya

Salah satu tantangan terbesar adalah kemungkinan semakin ketatnya perizinan pembangunan pusat data atau data center yang dibutuhkan untuk mendukung ekspansi bisnis kecerdasan buatan (AI) SpaceX.

SpaceX sebelumnya menawarkan potensi pasar yang dapat dijangkau sebesar US$ 28,5 triliun kepada investor menjelang penawaran umum perdana saham (IPO).

Namun, realisasi peluang tersebut dapat menghadapi hambatan apabila pemerintah dan regulator memperketat persetujuan proyek pusat data.

Analis memperkirakan Partai Demokrat akan meningkatkan pengawasan terhadap pembangunan pusat data.

Tekanan juga berpotensi meningkat untuk memberlakukan moratorium pembangunan proyek baru, seiring penolakan masyarakat lokal terhadap tingginya biaya listrik yang ditimbulkan fasilitas tersebut.

Baca Juga: Elon Musk Mau Bagikan Saham SpaceX ke 70 Juta Anak AS

"Demokrat yang menguasai Kongres akan menekan sektor teknologi dan berpotensi meningkatkan regulasi terhadap segala hal terkait AI," kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat memperlambat pertumbuhan industri AI yang selama ini berkembang sangat cepat dengan pengawasan yang relatif longgar.

Tekanan politik terhadap Musk juga berpotensi meluas ke berbagai aspek bisnis lainnya.

Sejumlah anggota parlemen Demokrat sebelumnya menyoroti pembatasan layanan komunikasi satelit yang digunakan militer Ukraina, pemangkasan besar-besaran pegawai federal saat Musk terlibat dalam Department of Government Efficiency (DOGE), serta kontrak pemerintah dan subsidi yang diterima perusahaan-perusahaannya.

Robert Garcia, yang akan memimpin Komite Pengawasan DPR AS, bahkan melontarkan peringatan kepada Partai Republik dan para sekutunya setelah hasil pemilu diumumkan. "Siapkan pengacara," ujarnya.

Texas Jadi Tantangan Tambahan

Selain perubahan kekuatan di Kongres, Musk juga menghadapi tantangan politik di Texas. Hubungannya dengan gubernur terpilih Gina Hinojosa sebelumnya sudah diwarnai ketegangan.

Hinojosa pernah menggugat untuk memperoleh salinan surat elektronik antara Musk dan Abbott. Ia menuduh Abbott mengorbankan kepentingan negara bagian demi memberikan berbagai kemudahan kepada miliarder tersebut.

Hinojosa juga menilai upaya Abbott membatasi pembangunan pusat data hanya sebagai manuver politik.

Sebaliknya, ia mendorong penghentian sementara seluruh proyek pusat data baru sampai parlemen negara bagian memperkuat perlindungan bagi masyarakat lokal.

Baca Juga: Elon Musk Kehilangan Rp361 Triliun Setelah Tesla Pamer Mobil Terbang

Ia juga menginginkan penghapusan insentif pajak bagi proyek-proyek tersebut.

Kebijakan ini berpotensi menghambat ekspansi infrastruktur digital Musk di Texas, terutama ketika kebutuhan pusat data terus meningkat untuk menopang pengembangan AI.

Di sisi lain, Musk juga harus menghadapi James Talarico, senator AS terpilih dari Texas. Dalam pemilu tersebut, Musk menggelontorkan dana besar untuk mendukung kandidat Partai Republik Ken Paxton yang bersaing melawan Talarico.

Dampak awal perubahan peta politik tersebut juga tercermin di pasar saham. Saham SpaceX turun 5,5%, sedangkan saham Tesla melemah 5,1%. Keduanya tertinggal dari kinerja pasar saham secara keseluruhan.

Baca Juga: Elon Musk Kehilangan Rp361 Triliun Setelah Tesla Pamer Mobil Terbang

Dengan menguatnya posisi Partai Demokrat, kerajaan bisnis Musk kini menghadapi risiko pengawasan politik dan regulasi yang lebih ketat, terutama terhadap proyek pusat data, bisnis AI, serta hubungan perusahaan-perusahaannya dengan pemerintah AS.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×