Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - PARIS. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan perusahaan-perusahaan Eropa untuk menangguhkan rencana investasi mereka di Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif besar-besaran terhadap impor global.
"Investasi yang akan datang atau yang baru diumumkan dalam beberapa minggu terakhir harus ditangguhkan hingga ada kejelasan lebih lanjut dengan Amerika Serikat," kata Macron dalam pertemuan dengan perwakilan industri Prancis.
Seruan ini muncul hanya beberapa minggu setelah perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM mengumumkan rencana investasi senilai US$20 miliar di AS untuk membangun infrastruktur logistik dan terminal pengiriman. Rencana ini sebelumnya disambut baik oleh Trump, bahkan disebut dalam pidatonya saat mengumumkan tarif baru.
Baca Juga: Elon Musk Rugi Besar! Rp 182 Triliun Lenyap dalam Sehari Akibat Kebijakan Tarif Trump
Selain itu, perusahaan pemasok peralatan listrik Schneider Electric (SCHN.PA) juga mengungkapkan rencana investasi sebesar US$700 juta di AS untuk mendukung infrastruktur energi yang diperlukan guna mempercepat pertumbuhan kecerdasan buatan (AI). Hingga saat ini, kedua perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan terkait seruan Macron.
Ancaman Balasan Uni Eropa
Macron menegaskan bahwa Uni Eropa belum mengesampingkan opsi pembalasan terhadap kebijakan tarif Trump. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan mekanisme anti-koersi, instrumen perdagangan Uni Eropa yang dirancang untuk melindungi blok tersebut dari tekanan perdagangan eksternal.
Baca Juga: Dampak Tarif Baru Donald Trump, Triliunan Dolar Hilang di Pasar Saham AS
Selain itu, Macron juga menyarankan agar Eropa menargetkan layanan digital dan mekanisme pembiayaan ekonomi AS sebagai bagian dari strategi pembalasan.
"Tanggapan terhadap tarif balasan ini akan lebih kuat dibandingkan dengan respons kami terhadap tarif baja dan aluminium AS sebelumnya," tegas Macron.
Ia juga mengutuk kebijakan tarif Trump sebagai tindakan "brutal dan tidak berdasar" yang mengganggu perdagangan internasional, serta menyerukan agar Eropa meresponsnya dengan strategi "industri per industri" guna melindungi kepentingan ekonomi kawasan.