kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Khamenei Dimakamkan, Iran Siapkan Prosesi Akbar


Jumat, 03 Juli 2026 / 15:18 WIB
Khamenei Dimakamkan, Iran Siapkan Prosesi Akbar
ILUSTRASI. Iran siapkan pemakaman besar Khamenei, namun tekanan AS-Israel masih nyata. Peringatan keras dikeluarkan. (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Iran tengah menyiapkan rangkaian prosesi pemakaman berskala besar bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai simbol dukungan publik terhadap Republik Islam sekaligus menunjukkan bahwa semangat revolusi negara tersebut masih tetap kuat di tengah tekanan geopolitik.

Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada fase awal perang terbaru di kawasan. Prosesi penghormatan terakhir dijadwalkan dimulai akhir pekan ini di Teheran, kemudian dilanjutkan dengan iring-iringan massa di Kota Qom dan Mashhad pada pekan depan, serta upacara penghormatan di Irak.

Pemerintah Iran memandang prosesi pemakaman tersebut sebagai momentum penting untuk memperlihatkan legitimasi politik rezim di tengah situasi domestik yang masih diwarnai ketegangan.

Imam Salat Jumat Kota Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, mengatakan besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi pemakaman akan menjadi ukuran dukungan terhadap sistem pemerintahan Iran.

Baca Juga: Pemakaman Khamenei Digelar Sepekan, Iran Berupaya Yakinkan Dunia Rezim Tetap Kuat

"Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar pada prosesi pemakaman pemimpin yang gugur sebagai syahid dan para syuhada lainnya pada hakikatnya akan menjadi referendum baru bagi Republik Islam," ujarnya kepada media pemerintah.

Untuk memastikan tingginya partisipasi, pemerintah Iran dilaporkan menargetkan mobilisasi jutaan pendukung dari berbagai wilayah. Berbagai fasilitas mulai dari transportasi, akomodasi hingga konsumsi disiapkan guna mendukung pelaksanaan prosesi tersebut.

Pemerintah berharap kehadiran massa dalam jumlah besar dapat menjadi pesan bahwa negara teokrasi tersebut tetap berdiri kokoh setelah melewati perang yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap eksistensi negara.

Kematian Khamenei sekaligus menandai babak baru dalam sejarah Republik Islam Iran yang telah berdiri selama 47 tahun. Putranya, Mojtaba Khamenei, resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran yang ketiga. Namun, Mojtaba yang disebut mengalami luka serius dalam serangan yang menewaskan ayahnya belum kembali muncul di hadapan publik sejak perang dimulai.

Dukungan terhadap pemerintah dinilai mulai menipis

Di balik upaya pemerintah menampilkan persatuan nasional, sejumlah analis menilai tingkat dukungan masyarakat terhadap Republik Islam telah mengalami penurunan signifikan.

Selama bertahun-tahun, warga Iran menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional. Di sisi lain, kebijakan represif pemerintah atas nama Revolusi Islam 1979 juga memicu kekecewaan masyarakat, terutama generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa revolusi tersebut.

Pada gelombang demonstrasi yang dipicu inflasi tinggi beberapa waktu lalu, banyak demonstran bahkan menyerukan kematian Khamenei. Pemerintah akhirnya meredam aksi tersebut melalui tindakan represif terhadap para pengunjuk rasa.

Ketika kabar tewasnya Khamenei mulai beredar pada hari-hari pertama perang, sejumlah warga Teheran melaporkan terdengar sorak-sorai dari beberapa kawasan permukiman sebagai bentuk ekspresi yang beragam atas peristiwa tersebut.

Baca Juga: Meski Ada Tekanan Tarif Trump, Perdagangan Uni Eropa-AS Malah Capai Rekor

Kini, suasana Teheran justru digambarkan lebih sunyi dan penuh ketegangan, sangat berbeda dibandingkan pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, pada 1989.

Saat itu, jutaan pelayat memadati jalan-jalan hingga berdesakan mengiringi jenazah Khomeini. Sebagian massa bahkan memanjat ambulans yang membawa jenazah sehingga Pasukan Garda Revolusi harus berupaya keras mengendalikan kerumunan.

Seorang warga Teheran bernama Samira (35) mengatakan keluarganya memilih meninggalkan ibu kota selama rangkaian pemakaman berlangsung.

"Rasanya seperti kehidupan berhenti total dan anggota Basij ada di mana-mana," ujarnya, merujuk pada organisasi milisi sukarelawan yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran.

Prosesi akan digelar di sejumlah kota

Dalam sistem pemerintahan teokrasi Iran, Khamenei bukan hanya kepala negara dan pemimpin revolusi, tetapi juga dipandang sebagai wakil Imam ke-12 dalam ajaran Syiah di muka bumi.

Kematian Khamenei akibat serangan musuh juga dinilai memiliki makna simbolis yang kuat dalam tradisi Syiah yang menjunjung konsep kesyahidan dan masa berkabung.

Sejak kematiannya diumumkan, bendera-bendera hitam berkabung dipasang di berbagai jalan utama kota-kota Iran. Berbagai upacara penghormatan juga mengaitkan wafatnya Khamenei dengan kesyahidan Imam Husain, tokoh sentral dalam sejarah Islam Syiah.

Di Teheran, pemerintah mulai memasang poster-poster baru yang menampilkan dukungan kepada pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, dengan latar belakang foto Ayatollah Ali Khamenei serta simbol kepalan tangan revolusioner.

Bagi para pendukung Republik Islam, konsep syahid bukan sekadar simbol politik.

Mohsen (24), anggota Basij di Teheran, mengatakan wafatnya Khamenei merupakan kehilangan terbesar dalam hidupnya.

"Ini adalah hari-hari paling berat dalam hidup saya. Saya tidak mengalami langsung saat Imam Khomeini wafat, tetapi ayah saya mengatakan seluruh negeri tenggelam dalam duka. Hari ini masyarakat juga berkabung, terlebih karena pemimpin kami gugur sebagai syahid," katanya.

Penghormatan dari Rusia dan China

Pejabat tinggi Iran serta sejumlah delegasi asing, termasuk dari Rusia dan China, dijadwalkan menyampaikan belasungkawa dalam rangkaian acara resmi.

Pada Sabtu, jenazah Khamenei akan dibawa ke sebuah masjid di Teheran sebagai pemberhentian pertama sebelum melakukan perjalanan penghormatan nasional.

Jenazah putri, menantu, cucu perempuan Khamenei, serta istri Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei yang juga tewas dalam serangan yang sama akan dibawa bersama dalam prosesi tersebut.

Baca Juga: Presiden Korea Selatan Akan Hadiri KTT NATO di Ankara dan Mengunjungi Mongolia

Pemerintah juga memberikan berbagai fasilitas bagi para pelayat. Hotel menawarkan potongan harga hingga 50%, sementara sekolah, masjid, dan gedung olahraga disiapkan sebagai tempat menginap. Jaringan bus dan kereta api juga dialihkan untuk mendukung mobilitas peserta prosesi.

Setelah prosesi utama di Teheran pada Senin, jenazah akan dibawa ke Kota Qom yang menjadi pusat pendidikan ulama Syiah untuk upacara pada Selasa.

Selanjutnya, upacara penghormatan akan digelar di kota-kota suci Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu dengan kehadiran sejumlah tokoh dari jaringan kelompok Syiah yang bersekutu dengan Iran di kawasan.

Prosesi terakhir akan berlangsung di Mashhad pada Kamis, tempat Khamenei akan dimakamkan di dekat makam Imam Reza, salah satu tokoh paling dihormati dalam tradisi Syiah.

Selama seluruh rangkaian acara berlangsung, pemerintah Iran memperketat pengamanan. Pembatasan sementara ruang udara diberlakukan di Teheran dan beberapa kota lainnya. Pemerintah juga memperingatkan akan memberikan respons keras apabila Amerika Serikat atau Israel kembali melancarkan serangan.

Hossein Kheiri (63), veteran perang Iran-Irak, mengatakan prosesi pemakaman menjadi cara Iran menunjukkan kekuatannya kepada dunia.

"Kami sedang menunjukkan kekuatan kami kepada Amerika dan pihak-pihak lain dengan cara kami sendiri," ujarnya.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×