kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kini perempuan Arab Saudi akan dapat konfirmasi perceraian lewat pesan teks


Minggu, 06 Januari 2019 / 13:53 WIB
ILUSTRASI. Perempuan Arab Saudi


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - RIYADH. Tak sedikit kaum perempuan di Arab Saudi yang tidak menyadari status perkawinan mereka sendiri. Untuk menghentikan hal ini, pemerintah mengeluarkan peraturan baru.

Seperti dilansir BBC.com, mulai dari hari Minggu, pengadilan akan diminta untuk memberi tahu pihak perempuan melalui pesan teks terkait keputusan yang mengonfirmasi perceraian mereka.

Sejumlah pengacara mengusulkan hal tersebut untuk mengakhiri apa yang selama ini dikenal sebagai 'perceraian rahasia'. Di mana para suami mengakhiri pernikahan tanpa memberi tahu istri mereka.

Sebelumnya banyak wanita Arab Saudi yang mengajukan banding ke pengadilan karena dinyatakan telah resmi bercerai tanpa sepengetahuan mereka.

Aturan ini bisa memastikan perempuan sepenuhnya menyadari status perkawinan mereka, termasuk untuk melindungi hak-hak yang harus didapatkan seperti soal tunjangan. "Hal ini juga memastikan bahwa surat kuasa apa pun yang dikeluarkan sebelum perceraian tidak disalahgunakan," kata pengacara dari Arab Saudi Nisreen al-Ghamdi.

Dalam beberapa waktu ke belakang, aturan yang lebih ramah bagi kaum perempuan mulai dijumpai di Arab Saudi. Misalnya pencabutan larangan mengemudi bagi kaum perempuan yang dilakukan tahun lalu. 

Langkah baru ini dikatakan sebagai bagian dari reformasi ekonomi dan sosial yang didorong oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Seperti mengizinkan perempuan untuk menghadiri pertandingan sepak bola dan bekerja dalam pekerjaan yang secara tradisional diperuntukkan bagi pria.

Meski begitu, kaum perempuan masih tetap tunduk pada hukum perwalian pria. Sistem perwalian ini dikritik karena dinilai telah membantu menciptakan salah satu negara dengan ketidaksetaraan gender terbesar di Timur Tengah.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×