Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Pada 4 Oktober 2026, drone angkut berat itu tiba. Vlasenko memasang sabuk pengaman ke pengait yang terhubung dengan kerekan listrik pada drone, kemudian diangkat hingga ketinggian sekitar 70 meter.
Tiga drone lain mengawal penerbangan untuk mengalihkan perhatian drone serang Rusia.
Sementara itu, empat tim operator drone FPV Ukraina, unit artileri, dan drone bersayap tetap menyerang posisi drone Rusia selama dua jam guna menekan ancaman terhadap operasi penyelamatan.
Setelah sekitar 15 menit perjalanan, drone tersebut mendarat di lokasi aman. Militer Ukraina merahasiakan lokasi pendaratan demi alasan keamanan.
Pertama yang diketahui
Komandan Ukraina menyebut operasi tersebut sebagai penyelamatan prajurit menggunakan drone udara pertama yang diketahui.
Penggunaan drone dalam konflik Ukraina-Rusia telah berkembang pesat, baik untuk pengintaian maupun serangan, sehingga mengubah cara kedua pihak bertempur.
Wilayah garis depan bahkan dikenal sebagai kill zone, yakni kawasan dengan ancaman drone yang begitu tinggi sehingga setiap pergerakan prajurit berisiko mengundang serangan.
Baca Juga: 4 Cara Atasi Tumit Kaki Pecah-Pecah di Rumah Tanpa Perlu Ke Salon
Kondisi ini memaksa banyak tentara bertahan di lubang perlindungan bawah tanah selama berbulan-bulan.
Bagi Vlasenko, penerbangan menuju keselamatan juga membawa ketakutan tersendiri. Ia mengaku tidak terlalu khawatir terjatuh ke hutan, tetapi takut jatuh ke air karena tidak bisa berenang.
Kisah Vlasenko mengenai penderitaan dan penyelamatannya diperkuat oleh keterangan militer Ukraina serta rekaman kamera yang terpasang pada drone penyelamat.
Namun, Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen seluruh bagian dari kesaksiannya.














