Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Prajurit infanteri Ukraina, Kostiantyn Vlasenko (49), harus mengamputasi kakinya sendiri demi bertahan hidup setelah terluka akibat serangan drone Rusia.
Setelah berbulan-bulan terjebak di sebuah bangunan sekolah yang rusak, ia akhirnya diselamatkan menggunakan drone angkut berat pada 4 Oktober 2026.
Vlasenko kehilangan kaki kirinya akibat serangan drone Rusia pada Februari 2026. Dalam serangan yang sama, kaki kanannya patah dan mengalami cedera parah hingga membuatnya kesulitan bergerak.
Karena kondisinya terus memburuk, ia memutuskan memotong kaki kanannya sendiri menggunakan pisau, lalu memasang torniket untuk menghentikan pendarahan.
Baca Juga: Sepatu Jalan Super Nyaman, Kaki Anti Pegal Meski Jalan Berjam-jam
Keputusan tersebut membuatnya bertahan hidup, meski harus menjalani penderitaan selama berbulan-bulan tanpa akses evakuasi medis.
“Saya sudah mengubur diri saya sendiri. Saya tahu tidak ada harapan lagi,” kata Vlasenko kepada Reuters dari tempat tidurnya di rumah sakit di Kharkiv, Ukraina timur laut.
Vlasenko merupakan anggota Brigade Mekanis ke-30 Ukraina yang bertugas di wilayah Kharkiv. Ia telah menjalani 491 hari penugasan di garis depan, salah satu masa penugasan terpanjang yang tercatat dalam konflik Ukraina-Rusia.
Vlasenko mulai bertugas di garis depan pada Mei 2025. Ia ditempatkan bersama seorang rekannya yang dikenal dengan nama sandi Basky.
Keduanya bertahan di sebuah lubang perlindungan bawah tanah selama sekitar 10 bulan.
Pergantian pasukan yang seharusnya dilakukan pada musim gugur 2025 gagal terlaksana. Menurut Vlasenko, dua prajurit yang dikirim untuk menggantikan mereka tewas dalam perjalanan menuju posisi tersebut.
Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Bidik Wildberries, Raksasa E-Commerce Rusia
Dua prajurit lain yang ditugaskan mengambil jenazah mereka juga tewas.
Situasi semakin memburuk pada pertengahan Februari 2026, ketika lubang perlindungan mereka kebanjiran. Vlasenko dan Basky terpaksa pindah ke gedung sekolah yang telah rusak akibat serangan.
Namun, ketika keduanya keluar untuk mengambil kiriman pakaian kering dan makanan, sebuah drone pengintai Rusia melihat mereka. Serangan drone berikutnya menewaskan Basky pada ulang tahunnya yang ke-50.
Ledakan itu menghancurkan kaki kiri Vlasenko dan mencederai kaki kanannya dengan parah. Ia kemudian berlindung di sebuah lubang berukuran sekitar 80 sentimeter x 60 sentimeter di bawah ketel logam bekas pemanas gedung sekolah.
Selama berbulan-bulan, ia bertahan di tempat sempit tersebut. Kaki kirinya perlahan membusuk, sementara tulang pada kaki kanannya yang patah mencuat akibat luka parah.
Baca Juga: Kota Asal Zelensky di Ukraina Terancam Kolaps, Industri Baja Lumpuh Dihantam Rusia
“Saya harus mengamputasinya karena kaki itu terus terseret di belakang saya. Tulangnya semakin lama semakin mencuat,” ujarnya.
Setelah kehilangan kedua kakinya, Vlasenko hanya bisa mengandalkan kiriman logistik menggunakan drone untuk bertahan hidup.
Drone angkut berat jadi jalan keluar
Evakuasi melalui kendaraan pikap atau kendaraan lapis baja hampir mustahil dilakukan karena ancaman serangan drone di sepanjang garis depan.
Upaya menggunakan kendaraan darat tanpa awak juga gagal. Dua kendaraan yang dikirim untuk menjemput Vlasenko dihancurkan oleh drone Rusia.
Petugas militer Ukraina kemudian mencari alternatif bersama Brigade Serbu ke-92 dan sejumlah unit lainnya. Harapan muncul setelah mereka mengetahui adanya drone angkut berat yang dikembangkan perusahaan lokal, Gurzuf Defence.
Drone bernama Ayudag-6 itu memiliki enam rotor dan mampu membawa beban hingga 90 kilogram sejauh 25 kilometer.
Dengan perkiraan berat Vlasenko sekitar 70 kilogram setelah lebih dari setahun bertugas di garis depan, drone tersebut dinilai mampu mengangkutnya sejauh 15 kilometer menuju lokasi yang lebih aman.
Baca Juga: 5 Manfaat Solo Traveling yang Bikin Hidup Lebih Bermakna, Berani Coba?
Sehari sebelum evakuasi, sebuah drone mengirimkan sabuk pengaman khusus berbentuk segitiga dan telepon genggam berisi video petunjuk penggunaannya kepada Vlasenko.
Pada 4 Oktober 2026, drone angkut berat itu tiba. Vlasenko memasang sabuk pengaman ke pengait yang terhubung dengan kerekan listrik pada drone, kemudian diangkat hingga ketinggian sekitar 70 meter.
Tiga drone lain mengawal penerbangan untuk mengalihkan perhatian drone serang Rusia.
Sementara itu, empat tim operator drone FPV Ukraina, unit artileri, dan drone bersayap tetap menyerang posisi drone Rusia selama dua jam guna menekan ancaman terhadap operasi penyelamatan.
Setelah sekitar 15 menit perjalanan, drone tersebut mendarat di lokasi aman. Militer Ukraina merahasiakan lokasi pendaratan demi alasan keamanan.
Pertama yang diketahui
Komandan Ukraina menyebut operasi tersebut sebagai penyelamatan prajurit menggunakan drone udara pertama yang diketahui.
Penggunaan drone dalam konflik Ukraina-Rusia telah berkembang pesat, baik untuk pengintaian maupun serangan, sehingga mengubah cara kedua pihak bertempur.
Wilayah garis depan bahkan dikenal sebagai kill zone, yakni kawasan dengan ancaman drone yang begitu tinggi sehingga setiap pergerakan prajurit berisiko mengundang serangan.
Baca Juga: 4 Cara Atasi Tumit Kaki Pecah-Pecah di Rumah Tanpa Perlu Ke Salon
Kondisi ini memaksa banyak tentara bertahan di lubang perlindungan bawah tanah selama berbulan-bulan.
Bagi Vlasenko, penerbangan menuju keselamatan juga membawa ketakutan tersendiri. Ia mengaku tidak terlalu khawatir terjatuh ke hutan, tetapi takut jatuh ke air karena tidak bisa berenang.
Kisah Vlasenko mengenai penderitaan dan penyelamatannya diperkuat oleh keterangan militer Ukraina serta rekaman kamera yang terpasang pada drone penyelamat.
Namun, Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen seluruh bagian dari kesaksiannya.














