Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - LONDON. Saat klub-klub Liga Premier mulai meninggalkan sponsor judi di bagian depan kaus tim, kelompok mitra komersial baru yang beragam—termasuk investor negara (sovereign investment) dan perusahaan fintech—mulai masuk menggantikan posisi tersebut. Demikian laporan terbaru Nielsen yang dikutip Reuters, Jumat (7/8/2026).
Pada tahun 2023, klub-klub Liga Premier Inggris secara kolektif sepakat berhenti menampilkan sponsor judi di bagian depan seragam pertandingan, dengan kesepakatan yang mulai berlaku sejak awal musim 2026-2027.
"Dengan diberlakukannya larangan kolektif sukarela terhadap kemitraan sponsor judi di bagian depan kaus, lanskap yang telah mendominasi satu dekade terakhir kini mengalami perubahan mendasar," tulis Nielsen dalam laporan yang diterbitkan pada Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: Cadangan Emas China Catat Kenaikan Terbesar Sejak Oktober 2023, Capai 76,08 Juta Ons
Analisis terbaru dari Nielsen Sports mengungkapkan bahwa meskipun 'Era Taruhan' (Betting Era) mulai berakhir, fase yang lebih beragam dan kompleks secara strategis sedang muncul, yang didorong oleh konglomerat perangkat lunak raksasa, investasi negara, dan terus berkembangnya sektor fintech.
Laporan tersebut menyoroti kesepakatan Crystal Palace dengan perusahaan AI dan sistem teknologi perusahaan Temporal. Lalu, kesepakatan kontroversial Aston Villa dengan Visit Rwanda, serta kemitraan Everton dengan perusahaan jasa keuangan CMC Markets sebagai contoh dari pergeseran tersebut.
"Bagi organisasi penantang (challenger organizations), khususnya di bidang fintech dan AI, sponsor digunakan untuk membangun kredibilitas global dalam skala besar," ujar Andy Milnes, pemimpin pasar olahraga Nielsen untuk wilayah Inggris dan Irlandia.
Meskipun hilangnya logo perjudian menciptakan kesenjangan finansial jangka pendek bagi sebagian pihak, hal ini membuka peluang bagi ekosistem komersial yang lebih beragam.
"Tantangan bagi klub saat ini adalah beralih dari sekadar melaporkan nilai kesepakatan masa lalu menuju analisis proaktif yang mampu menarik minat perusahaan-perusahaan raksasa dari industri yang sedang berkembang pesat ini," kata Milnes.
Walaupun larangan yang diterapkan Premier League saat ini tidak mencakup area lengan baju dan perlengkapan latihan, Inggris juga tengah mempertimbangkan regulasi tambahan untuk mencegah perusahaan perjudian tak berizin mensponsori tim olahraga dalam bentuk apa pun.
"Kami memprediksi akan adanya gelombang 'Demam Emas Teknologi' (Tech Gold Rush) susulan, di mana perusahaan infrastruktur perangkat lunak akan menjadi kategori sponsor utama (FOS) yang mendominasi pada tahun 2028," tambah Milnes.
Baca Juga: Dana Pensiun Terbesar Jepang Mencatat Rekor Keuntungan Investasi













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
