Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Konflik di Timur Tengah kini mulai memengaruhi rantai pasok global, termasuk industri otomotif, setelah Hyundai Motor mengungkapkan bahwa ekspor ke Eropa dan Afrika Utara yang biasanya melalui jalur Timur Tengah terganggu akibat perang di kawasan tersebut.
Gangguan ini berdampak pada kenaikan biaya logistik, keterlambatan pengiriman, dan menambah tekanan pada Hyundai serta pemasoknya. Kim Dong-jo, Wakil Presiden Senior Hyundai Motor di Global Policy Office, menekankan bahwa meski konflik segera berakhir, pemulihan rantai pasok akan membutuhkan waktu.
“Bahkan jika konflik selesai, diperlukan waktu yang cukup lama untuk membangun kembali dan memulihkan rantai pasok yang ada,” kata Kim saat berada di Pelabuhan Pyeongtaek-Dangjin, di mana pemerintah, perusahaan logistik, dan produsen mobil berkumpul untuk menilai dampak perang.
Baca Juga: Trump Pertegas Serangan ke Iran, Infranstruktur Sipil Jadi Target
Di pelabuhan itu, ratusan mobil Hyundai siap dimuat ke kapal pengangkut kendaraan raksasa yang mampu menampung sekitar 4.900 unit menuju pantai barat Amerika Serikat. Kim menambahkan, kenaikan biaya logistik dan keterbatasan bahan baku terkait konflik juga memberi tekanan pada pemasok suku cadang dan produksi. Hyundai tengah bekerja sama dengan pemasok dan pemerintah untuk meminimalkan gangguan.
Unit logistik Hyundai Motor Group, Hyundai Glovis, mengonfirmasi bahwa beberapa rute ke Timur Tengah saat ini tidak dapat diakses, sehingga kargo harus disimpan sementara di lokasi alternatif sampai kondisi stabil.
Sementara itu, rute ekspor ke pantai barat dan timur Amerika Serikat sejauh ini belum terdampak signifikan. Namun akses yang terbatas ke Timur Tengah dan biaya bahan bakar yang meningkat tetap menghambat operasi dan efisiensi.
Menteri Perdagangan Korea Selatan, Yeo Han-koo, menyebut beberapa pengiriman dialihkan ke hub perantara seperti Sri Lanka, di mana kargo ditahan sementara perusahaan menilai kapan transportasi bisa dilanjutkan.
Perlu dicatat, ekspor Korea Selatan pada Maret mencatat pertumbuhan terkuat hampir empat dekade, tetapi pengiriman ke Timur Tengah turun 49%. Sementara ekspor mobil relatif stabil, karena gangguan pasok menyeimbangkan permintaan tinggi terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Hyundai Motor melaporkan penjualan global bulan Maret sebanyak 358.759 unit, turun 2,3% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penurunan 2,0% di pasar domestik dan 2,4% di pasar luar negeri. Saham Hyundai Motor dan Hyundai Glovis ditutup masing-masing turun 1,2% dan 0,7%, dibandingkan kenaikan 2,7% indeks KOSPI.
Baca Juga: Libur Paskah Australia Sepi, Kenaikan Harga BBM Bikin Warga Batal Liburan
Gangguan ini menjadi contoh nyata bagaimana konflik geopolitik dapat menekan industri global yang bergantung pada rantai pasok lintas benua.













