Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat belum benar-benar mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran, sambil menegaskan rencana untuk meningkatkan intensitas serangan terhadap infrastruktur negara tersebut.
Pernyataan itu muncul ketika puluhan negara berupaya mencari cara memulihkan pengiriman energi global melalui Selat Hormuz, yang kini terganggu akibat konflik.
Hampir lima minggu sejak dimulainya serangan udara gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, perang terus memicu kekacauan di kawasan Timur Tengah dan mengguncang pasar keuangan global. Tekanan pun meningkat terhadap Trump untuk segera mengakhiri konflik.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump memperkeras retorikanya di tengah mandeknya negosiasi melalui pihak perantara dengan kepemimpinan baru Iran. Dalam unggahan media sosial, ia bahkan menyebut target berikutnya adalah jembatan dan pembangkit listrik.
Serangan terbaru dilaporkan menghantam sebuah jembatan baru yang menghubungkan Teheran dengan Karaj. Media pemerintah Iran menyebut delapan orang tewas dan 95 lainnya terluka dalam serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam serangan itu dan menyatakan bahwa penargetan infrastruktur sipil tidak akan membuat rakyat Iran menyerah.
Di sisi lain, media Iran melaporkan serangan drone terhadap gudang bantuan Bulan Sabit Merah di Provinsi Bushehr. Serangan juga terpantau di pelabuhan strategis di Pulau Qeshm, yang terletak di Selat Hormuz.
Konflik kian meluas dengan serangan balasan dari Iran dan sekutunya. Fasilitas kilang Mina al-Ahmadi di Kuwait dilaporkan terkena serangan drone, sementara Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat tujuh drone dalam beberapa jam terakhir.
Militer Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F-35 milik AS di wilayah tengah Iran, meski belum ada konfirmasi dari pihak Amerika.
Lebih dari 100 pakar hukum internasional AS menyuarakan kekhawatiran serius terkait potensi pelanggaran hukum humaniter internasional oleh militer AS. Mereka menyoroti pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut serangan terhadap Iran bisa dilakukan “hanya untuk bersenang-senang,” serta komentar pejabat Pentagon yang menyatakan AS tidak terikat “aturan keterlibatan yang bodoh.”
Ancaman terhadap infrastruktur sipil dan pembangkit listrik juga memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut, sekaligus mendorong kenaikan tajam harga minyak global.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dijadwalkan melakukan pemungutan suara terhadap resolusi yang diajukan Bahrain untuk melindungi pelayaran komersial di sekitar Selat Hormuz. Namun, China menolak langkah yang melibatkan penggunaan kekuatan militer karena dinilai berisiko memperparah konflik.
Iran sendiri telah menutup efektif jalur tersebut sebagai balasan atas serangan AS-Israel. Negara itu bahkan mengusulkan sistem izin bagi kapal yang melintas, bekerja sama dengan Oman.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menolak rencana tersebut dan menegaskan bahwa hukum internasional tidak mengakui skema pembayaran untuk akses jalur laut.
Penutupan Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia memicu kekhawatiran Iran akan menguasai pasokan energi kawasan. Negara-negara Teluk sejauh ini menahan diri untuk tidak membalas secara militer demi menghindari perang besar di Timur Tengah.
Sejak konflik dimulai, ribuan orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya terluka. Kebutuhan medis meningkat tajam, sementara pasokan mulai menipis.
Dampak ekonomi juga mulai terasa secara global. Kekurangan bahan bakar telah menekan ekonomi di Asia, diperkirakan akan segera merambat ke Eropa, dan berpotensi memicu krisis biaya hidup di Afrika, menurut laporan lembaga PBB.
Situasi ini menempatkan dunia dalam ketidakpastian besar, dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan risiko gangguan energi global yang semakin nyata.













