Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Selatan menyatakan dukungannya terhadap upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk kembali membuka jalur dialog dengan Korea Utara. Namun, Seoul menegaskan bahwa proses tersebut tidak boleh mengurangi kesiapan pertahanan maupun menempatkan Korea Selatan di luar pembahasan antara Washington dan Pyongyang.
Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Wi Sung-lac mengatakan Seoul menilai dimulainya kembali perundingan AS dan Korea Utara harus menghasilkan kemajuan nyata dalam penyelesaian persoalan senjata nuklir Korea Utara.
Menurutnya, dialog juga harus berjalan beriringan dengan upaya membangun rezim perdamaian di Semenanjung Korea tanpa mengorbankan postur keamanan Korea Selatan.
"Satu hal yang perlu diingat adalah perlunya berkoordinasi dengan Amerika Serikat untuk memastikan bahwa setiap dimulainya kembali dialog AS-Korea Utara menghasilkan kemajuan substantif dalam isu nuklir Korea Utara, bersamaan dengan upaya untuk membangun rezim perdamaian di Semenanjung Korea," kata Wi kepada wartawan, Jumat (28/8/2026).
Wi menekankan, koordinasi kebijakan dan komunikasi antara Seoul dan Washington menjadi semakin penting untuk memastikan kepentingan keamanan Korea Selatan tetap diperhitungkan dalam setiap langkah diplomatik dengan Pyongyang.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Jelang Pidato Kevin Warsh, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Trump Beri Sinyal Ingin Kembali Berdialog dengan Pyongyang
Wi juga menyinggung keputusan Trump pada awal Agustus untuk secara signifikan mengurangi skala latihan militer gabungan utama antara AS dan Korea Selatan.
Menurut Wi, keputusan tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa Trump menunjukkan keinginan untuk kembali terlibat dalam pembicaraan dengan Korea Utara.
Meski mendukung upaya diplomasi tersebut, Seoul mengingatkan pentingnya memastikan Korea Selatan tidak "tersisih" dari proses yang dilakukan Washington untuk menghidupkan kembali perundingan dengan Pyongyang.
Trump sebelumnya mengaitkan keputusan untuk memperpendek latihan Ulchi Freedom Shield dengan penolakan Seoul memberikan bantuan dalam perang Iran. Menurut Trump, keputusan tersebut mengirimkan pesan yang keliru kepada Korea Utara.
Presiden AS tersebut juga telah berupaya menggelar kembali pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu sebanyak tiga kali pada 2018 dan 2019 dalam rangkaian pertemuan yang menjadi tonggak penting dalam diplomasi AS-Korea Utara.
AS, Korea Selatan, dan Jepang Siapkan Latihan Militer
Di tengah upaya membuka kembali jalur diplomasi dengan Korea Utara, Korea Selatan, AS, dan Jepang tetap akan memperkuat kerja sama pertahanan.
Korea Selatan pada Jumat mengatakan ketiga negara akan menggelar latihan militer bersama pada 9-11 September 2026. Latihan tersebut bertujuan menguji kesiapan menghadapi ancaman rudal dan senjata nuklir Korea Utara.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa upaya diplomasi dengan Pyongyang tetap berjalan berdampingan dengan strategi pencegahan militer yang melibatkan Seoul dan Washington.
Bagi Korea Selatan, menjaga kesiapan pertahanan menjadi faktor penting di tengah ketidakpastian mengenai arah kebijakan Korea Utara dan kemungkinan perubahan pendekatan AS terhadap Pyongyang.
Baca Juga: Perang Iran Ubah Peta Perdagangan Global, Negara Teluk Genjot Investasi Infrastruktur
Seoul dan Washington Berupaya Redam Gesekan
Selain isu Korea Utara, Wi mengatakan Korea Selatan juga tengah berupaya memperdalam kerja sama dengan Washington dalam sejumlah persoalan yang selama ini berpotensi menimbulkan gesekan di antara kedua negara.
Beberapa isu yang dibahas mencakup investasi Korea Selatan di AS yang telah disepakati melalui kesepakatan perdagangan, perlakuan terhadap perusahaan e-commerce yang terdaftar di AS, Coupang, kerja sama keamanan, pertukaran intelijen, hingga pengalihan kendali operasional masa perang.
Menurut Wi, koordinasi yang lebih erat diperlukan agar berbagai persoalan tersebut tidak mengganggu hubungan strategis antara Korea Selatan dan AS.
Dengan demikian, Seoul menghadapi tantangan ganda: mendukung peluang diplomatik yang kembali terbuka antara Washington dan Pyongyang, sekaligus memastikan proses tersebut tidak mengurangi kepentingan keamanan Korea Selatan.
Korea Selatan juga perlu memastikan bahwa setiap pembicaraan mengenai denuklirisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea tetap melibatkan Seoul sebagai pihak utama yang memiliki kepentingan langsung terhadap perkembangan keamanan di kawasan tersebut.














