kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.853   44,00   0,26%
  • IDX 8.082   -153,04   -1,86%
  • KOMPAS100 1.137   -19,45   -1,68%
  • LQ45 820   -14,48   -1,74%
  • ISSI 288   -4,82   -1,65%
  • IDX30 432   -7,93   -1,80%
  • IDXHIDIV20 519   -7,80   -1,48%
  • IDX80 127   -1,81   -1,40%
  • IDXV30 142   -1,12   -0,78%
  • IDXQ30 138   -2,83   -2,00%

Krisis Iran: 3 Ujian Berat Ini Tentukan Nasib Rezim Pasca-Khamenei


Senin, 02 Maret 2026 / 06:00 WIB
Krisis Iran: 3 Ujian Berat Ini Tentukan Nasib Rezim Pasca-Khamenei


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Para pejabat menilai Iran kini menghadapi tiga ujian utama secara bersamaan:

  1. Apakah aparat keamanan mampu mempertahankan stabilitas negara di tengah serangan.
  2. Apakah elite politik dapat menyepakati pemimpin baru atau menciptakan formula pemerintahan baru.
  3. Apakah masyarakat yang terguncang akan mendorong krisis menuju konflik politik yang lebih besar.

Politisi senior Iran Ali Larijani, yang juga menjabat Sekretaris Iran Supreme National Security Council, mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara untuk memimpin masa transisi setelah kematian Khamenei.

Nama-nama seperti Ali Larijani dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf disebut sebagai figur kompromi yang berpotensi menjadi jembatan dalam fase transisi tersebut.

Menurut konstitusi Iran, pemilihan pemimpin tertinggi baru merupakan tugas Assembly of Experts, lembaga ulama beranggotakan 88 orang. Namun para analis menilai situasi perang bisa membuat proses ini berjalan lebih improvisatif, seperti penunjukan cepat pemimpin baru atau pembentukan kepemimpinan kolektif sementara.

Sebelum meninggal, Khamenei disebut telah berupaya memengaruhi proses suksesi. Setelah konflik dengan Israel tahun lalu, ia menyiapkan sejumlah kandidat penerus dan memastikan posisi militer penting diisi oleh komandan cadangan.

Tonton: Konflik Iran-Israel AS Guncang Pasar Global: Dampak ke IHSG & Peluang Komoditas

Beberapa nama yang disebut sebagai calon penerus antara lain Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i dan ulama moderat Hassan Khomeini, cucu dari pendiri Republik Islam Iran.

Namun, sejumlah pejabat menyebut Assembly of Experts mungkin menunda penunjukan pemimpin baru karena khawatir kandidat tersebut juga akan menjadi target serangan.

Konflik Dinilai Masih Panjang

Di sisi lain, Israel memberi sinyal bahwa operasi militernya masih jauh dari selesai.

Dua sumber yang mengetahui rencana operasi mengatakan Israel berencana terus menyerang institusi politik dan keamanan yang terkait dengan pemerintahan Iran, termasuk sistem rudal balistik dan peluncurnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Oren Marmorstein mengatakan tujuan utama operasi tersebut adalah menghilangkan ancaman terhadap negara Israel.

“Tujuannya sangat jelas: menghilangkan ancaman eksistensial terhadap Negara Israel. Ancaman itu adalah rezim Iran. Kami tidak memiliki masalah dengan rakyat Iran,” ujarnya di Tel Aviv.

Seorang pejabat senior yang mengetahui perencanaan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel mengatakan masih terlalu dini untuk memprediksi bentuk pemerintahan Iran setelah konflik ini.

Menurutnya, hasil akhirnya akan sangat bergantung pada perkembangan di lapangan, termasuk apakah kedua negara mampu mencapai “supremasi udara” di atas wilayah Iran.

Di sisi lain, konflik ini juga membuka risiko baru. Dengan meningkatnya operasi militer asing di wilayah udara Iran dan tekanan terhadap aparat keamanan, para analis memperingatkan potensi meningkatnya kerusuhan domestik.

Jika gelombang protes besar kembali muncul, situasi tersebut dapat memicu pembelotan di dalam aparat keamanan dan memberi ruang bagi tokoh sipil untuk mendorong perubahan politik di Iran.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×