Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Analis energi dari Eurasia Group memperkirakan harga minyak akan langsung melonjak saat pasar dibuka. Jika konflik berlanjut hingga Minggu, harga minyak diperkirakan bisa naik US$ 5–US$ 10 dari level US$ 73 per barel.
Sementara itu analis dari Barclays memperingatkan pasar mungkin menghadapi skenario terburuk. Harga minyak jenis Brent Crude berpotensi menembus US$ 100 per barel jika pasar melihat risiko gangguan pasokan semakin besar.
Ketegangan geopolitik dorong emas dan aset aman
Kepala riset makro Asia (di luar Jepang) di Mizuho, Vishnu Varathan, mengatakan harga minyak kemungkinan tetap tinggi karena jalur produksi dan pengiriman di kawasan tersebut rentan terhadap serangan.
Menurutnya, bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz sekalipun, harga minyak masih bisa memiliki premi risiko 10–25% akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Strategis pasar dari OCBC, Christopher Wong, menilai serangan tersebut akan meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar global. Dampak awal yang diperkirakan muncul adalah kenaikan harga emas serta penguatan harga minyak karena kekhawatiran gangguan pasokan.
Tonton: PIDATO LENGKAP DONALD TRUMP, PERINTAH PERANG LAWAN IRAN
Sementara itu, Chief Investment Officer di Vantage Point Asset Management, Nick Ferres, mengatakan sektor energi dan emas kemungkinan menjadi aset yang paling diuntungkan ketika pasar dibuka.
Secara keseluruhan, para analis memperkirakan pasar global akan menghadapi volatilitas tinggi pada awal pekan, terutama jika konflik di Timur Tengah terus memanas.













