kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Krisis Minyak di Depan Mata? Ini Skenario Terburuk Konflik AS-Iran Menurut Analis


Minggu, 01 Maret 2026 / 13:23 WIB
Krisis Minyak di Depan Mata? Ini Skenario Terburuk Konflik AS-Iran Menurut Analis


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Analis energi dari Eurasia Group memperkirakan harga minyak akan langsung melonjak saat pasar dibuka. Jika konflik berlanjut hingga Minggu, harga minyak diperkirakan bisa naik US$ 5–US$ 10 dari level US$ 73 per barel.

Sementara itu analis dari Barclays memperingatkan pasar mungkin menghadapi skenario terburuk. Harga minyak jenis Brent Crude berpotensi menembus US$ 100 per barel jika pasar melihat risiko gangguan pasokan semakin besar.

Ketegangan geopolitik dorong emas dan aset aman

Kepala riset makro Asia (di luar Jepang) di Mizuho, Vishnu Varathan, mengatakan harga minyak kemungkinan tetap tinggi karena jalur produksi dan pengiriman di kawasan tersebut rentan terhadap serangan.

Menurutnya, bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz sekalipun, harga minyak masih bisa memiliki premi risiko 10–25% akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Strategis pasar dari OCBC, Christopher Wong, menilai serangan tersebut akan meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar global. Dampak awal yang diperkirakan muncul adalah kenaikan harga emas serta penguatan harga minyak karena kekhawatiran gangguan pasokan.

Tonton: PIDATO LENGKAP DONALD TRUMP, PERINTAH PERANG LAWAN IRAN

Sementara itu, Chief Investment Officer di Vantage Point Asset Management, Nick Ferres, mengatakan sektor energi dan emas kemungkinan menjadi aset yang paling diuntungkan ketika pasar dibuka.

Secara keseluruhan, para analis memperkirakan pasar global akan menghadapi volatilitas tinggi pada awal pekan, terutama jika konflik di Timur Tengah terus memanas.




TERBARU

[X]
×