Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Iran mulai membuka pembicaraan dengan sejumlah perusahaan Jepang untuk kembali menjual minyak mentah, menyusul pelonggaran sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor minyak Negeri Persia tersebut.
Namun, calon pembeli dari Jepang masih bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian mengenai durasi pengecualian sanksi AS serta jaminan keamanan pelayaran di kawasan Teluk.
Mengutip Reuters, Jumat (3/7), tiga sumber dari Iran dan Barat mengungkapkan bahwa negosiasi awal telah dimulai antara Iran dan perusahaan-perusahaan Jepang. Meski demikian, belum ada kesepakatan pembelian yang tercapai karena sejumlah faktor geopolitik masih menjadi pertimbangan utama.
Pemerintah Amerika Serikat pada Juni lalu memberikan otorisasi bagi penjualan minyak Iran sebagai bagian dari upaya mendorong tercapainya kesepakatan damai final dengan Teheran. Kebijakan tersebut sekaligus melonggarkan sanksi yang telah diberlakukan selama beberapa dekade.
Sebagai imbalannya, Washington menginginkan komitmen Iran untuk memperkuat inspeksi terhadap program nuklirnya serta menjamin kebebasan navigasi di jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia.
Baca Juga: Trump Desak Harga BBM Turun, Laba Exxon dan Chevron Diprediksi Melonjak
Jepang Masih Menunggu Kepastian
Meski peluang kembali mengimpor minyak Iran mulai terbuka, perusahaan-perusahaan Jepang masih menunggu kepastian mengenai masa berlaku pengecualian sanksi dari pemerintah AS.
Selain itu, mereka juga menginginkan jaminan bahwa kondisi keamanan di kawasan Teluk tetap stabil sehingga aktivitas pengiriman minyak tidak terganggu oleh potensi konflik regional.
Saat ini, Departemen Keuangan Amerika Serikat memberikan pengecualian sanksi yang mengizinkan penjualan minyak mentah, produk petrokimia, dan produk minyak bumi asal Iran hingga 21 Agustus mendatang.
Apabila pengecualian tersebut tidak diperpanjang, perusahaan-perusahaan yang kembali membeli minyak Iran berpotensi menghadapi risiko terkena sanksi sekunder dari pemerintah AS.
China Masih Menjadi Pembeli Utama
Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi pembeli utama minyak Iran setelah sebagian besar negara Asia dan Eropa menghentikan impor akibat pengetatan sanksi AS.
Baca Juga: Rusia Akan Impor Avtur dari Jepang di Tengah Krisis Energi Akibat Serangan Ukraina
Sebelumnya, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, India, serta sejumlah negara di Eropa merupakan pelanggan penting minyak Iran. Namun, pembelian tersebut berhenti setelah Presiden AS Donald Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian nuklir Iran pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi yang lebih ketat terhadap Teheran.
Sejak saat itu, ekspor minyak Iran sebagian besar bergantung pada pasar China yang tetap menjadi tujuan utama pengiriman minyak mentah dari negara tersebut.
Hingga berita ini ditulis, Kementerian Luar Negeri Jepang maupun Departemen Keuangan Amerika Serikat belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai pembicaraan penjualan minyak Iran kepada perusahaan-perusahaan Jepang.














