kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Likuiditas di India Mulai Mengering


Sabtu, 05 Juni 2010 / 09:00 WIB


Sumber: Bloomberg | Editor: Uji Agung Santosa

Bank sentral India tengah menghadapi ancaman kontraksi kredit. Pasalnya, likuiditas di pasar tersedot oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang bersaing untuk mendapatkan lisensi layanan 3G. Padahal, permintaan kredit saat ini cukup tinggi.

Pekan lalu, Reserve Bank of India (RBI) melonggarkan aturan bagi perbankan untuk menaikkan likuiditas. Soalnya, dalam waktu dekat para operator telekomunikasi seperti Bharti Airtel Ltd bersiap membayar izin jaringan telepon nirkabel senilai US$ 14,5 miliar. "Lelang jaringan 3G dan kenaikan permintaan kredit menimbulkan kontraksi kredit," kata Kaushik Basu, Kepala Penasihat Ekonomi Kementerian Keuangan India, Jumat (4/6).

Menurutnya, RBI harus melonggarkan likuiditas di pasar sebagai upaya menjaga inflasi dan pertumbuhan. Salah satu caranya, menahan kenaikan suku bunga.

Inflasi India telah naik lebih dari 13% pada April lalu. Sejak pertengahan Maret lalu, RBI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali, sebesar 0,25%. Saat ini, suku bunga acuan RBI 3,75%.




TERBARU

[X]
×