kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   -20.000   -0,78%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Lonjakan Inflasi Global akan Menambah Beban Industri Manufaktur


Minggu, 03 Juli 2022 / 19:24 WIB
ILUSTRASI. Pabrik DFSK yang berada di Cikande, Serang, Banten menjadi salah satu pabrik otomotif tercanggih dan modern yang dimiliki oleh Indonesia karena sudah 90 persen mengadopsi teknologi robotik di proses produksinya. Lonjakan Inflasi Global Akan Menambah Beban


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

Dihubungi berbeda, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan bahwa industri manufaktur berisiko mengalami penurunan kinerja dengan proyeksi PMI kontraksi di bawah level 49.

Menurutnya, kenaikan biaya pokok pembelian bahan baku dan ongkos logistik akan menjepit pelaku industri dengan dua opsi pilihan yang sulit.

"Lakukan kenaikan harga ditingkat konsumen tapi volume penjualan melambat atau memangkas marjin tanpa merubah harga. Sejauh ini pelaku industri mulai meneruskan beban biaya produksi ke konsumen akhir," kata Bhima kepada Kontan.co.id.

Baca Juga: Sri Mulyani: Sektor Utama Penerimaan Pajak Tumbuh Positif pada Semester I-2022

Lebih lanjut Bhima mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di sisi produsen sudah menyentuh di angka 9% sejak kuartal I-2022. Namun dirinya menyebut, para pelaku usaha belum serentak membebankannya kepada konsumen.

"Mungkin mereka menunggu momentum kesiapan daya beli, tapi sekarang sudah dihadapkan pada situasi global yang beresiko khususnya di pasar ekspor utama," tambahnya.

Di sisi lain, tren kenaikan suku bunga juga menjadi tantangan yang serius bagi pelaku industri. Sebagian pembelian mesin dan modal kerja akan bergantung pada pinjaman bank maupun penerbitan surat utang. Namun menurutnya, biaya dana (cost of fund) akan naik sementara pendapatan belum semua kembali pada situasi sebelum pandemi.




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×