kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Marcos: Filipina Harus Ambil Tindakan Lebih dari Sekadar Protes di LCS


Jumat, 28 Juni 2024 / 09:31 WIB
ILUSTRASI. Ketegangan di Laut China Selatan antara China dengan Filipina belum mereda. Penjaga Pantai China/Handout melalui REUTERS


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Laut China Selatan, yang penting bagi perdagangan global, telah menjadi titik konflik utama dalam hubungan yang tegang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Amerika Serikat terikat oleh perjanjian pertahanan bersama yang telah berlaku selama tujuh dekade untuk membela Filipina dari serangan bersenjata terhadap pesawat terbang, atau kapal umum, di perairan sibuk tersebut.

“Perlu ditekankan bahwa masalah Terumbu Karang Ren'ai bukanlah urusan Amerika Serikat,” Wu Qian, juru bicara kementerian pertahanan Tiongkok, mengatakan pada konferensi pers, menggunakan nama China untuk Second Thomas Shoal.

“Sangat berbahaya dan tidak bertanggung jawab bagi Amerika Serikat untuk menghasut dan mendukung pelanggaran dan provokasi Filipina,” tambah Wu. 

Baca Juga: Filipina Tuntut China Ganti Rugi Kerusakan dan Mengembalikan Senjata

Dia menolak perjanjian Filipina dengan Amerika dan menilainya sebagai ancaman yang tidak berguna.

China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, termasuk wilayah yang diklaim oleh Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Pengadilan internasional menolak klaim ekspansif China pada tahun 2016. Namun keputusan ini ditolak oleh Beijing.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×