kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Mengenal BlueDot, startup yang pertama mendeteksi penyebaran virus corona


Selasa, 28 Januari 2020 / 23:15 WIB
Mengenal BlueDot, startup yang pertama mendeteksi penyebaran virus corona

Reporter: kompas.com | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Virus corona baru tengah menjadi perhatian dunia. Tapi ternyata, keberadaan virus mematikan itu sudah terdeteksi sejak akhir Desember 2019 oleh BlueDot, startup bidang kesehatan.

Blue Dot telah menyampaikan informasi keberadaan virus corona baru lebih awal. KompasTekno melansir Wired, startup ini menggunakan algoritma khusus dengan teknologi Artificial Intelligence (AI). yang bisa menjelajahi laporan berita berbahasa asing tentang jaringan penyakit hewan dan tumbuhan.

Hasil data yang BlueDot peroleh kemudian mereka fungsikan untuk memberi peringatan dan mengimbau masyarakat untuk menghindari zona berbahaya virus corona baru seperti Kota Wuhan, China.

Baca Juga: Waspada! WHO kerek risiko global atas virus corona jadi sangat tinggi

Pendiri dan CEO BlueDot Kamran Khan menyebutkan, informasi mengenai wabah penyakit menular semacam virus corona baru harus segera disampaikan kepada masyarakat secara cepat.

"Kami tahu pemerintah mungkin tidak bisa diandalkan untuk memberikan informasi secara tepat waktu. Karena itu, kami mencari berita wabah itu dari forum atau blog tentang indikasi beberapa peristiwa yang terjadi secara tidak wajar," kata Khan.

Menurut Khan, metode algoritma yang BlueDot gunakan tidak mengacu pada data yang diunggah di media sosial. Sebab, data-data tersebut mereka anggap terlalu berantakan.

Baca Juga: Bendung virus corona, Hong Kong tangguhkan layanan kereta cepat dari China

BlueDot pun mengklaim pihaknya memiliki akses ke data maskapai global yang bisa membantu memprediksikan ke negara mana saja dan kapan virus corona yang berbahaya akan menyebar.

Hasilnya pun tepat. Prediksi BlueDot terbukti, virus corona sudah menyebar ke beberapa negara, yakni Bangkok, Seoul, Taipei, dan Tokyo dalam beberapa hari setelah kemunculan awal.

Kamran Khan, yang bekerja sebagai spesialis penyakit menular di rumahsakit Toronto, Kanada, selama epidemi SARS pada 2003, memang terobsesi menemukan cara yang lebih baik untuk melacak penyakit.

Baca Juga: Susul Malaysia dan Filipina, Singapura setop visa untuk turis China

"Saya merasa sedikit deja vu sekarang. Di 2003, saya menyaksikan virus SARS membanjiri Kota Toronto dan melumpuhkan beberapa rumahsakit, bahkan ada banyak kelelahan mental dan fisik pada saat itu. Lalu saya berpikir hal itu jangan sampai terulang lagi," ujar Khan.

Setelah menguji beberapa program, Khan meluncurkan BlueDot pada 2014 dan mengumpulkan US$ 9,4 juta untuk modal.

Kini, BlueDot memiliki 40 karyawan yang terdiri dari dokter dan programmer yang bertugas untuk merancang program analitik untuk pengawasan penyakit.

BlueDot menggunakan pemrosesan bahasa dan teknik pembelajaran mesin untuk menyaring laporan berita dalam 65 bahasa, bersama dengan data maskapai dan laporan wabah penyakit hewan.

Baca Juga: WHO: Soal virus corona, negara lain tak perlu evakuasi warganya dari China

Setelah penyaringan data selesai, lalu dilanjutkan dengan analisis oleh para ahli secara manual. Menurut Khan, para ahli epidemiologi akan memeriksa, apakah kesimpulan data itu masuk akal dari sudut pandang ilmiah atau tidak.

Setelah dianggap masuk akal dari sudut pandang ilmiah, laporan BlueDot kemudian dikirim ke pejabat kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Kanada, maskapai, serta rumahsakit.

Namun, kini BlueDot tidak menjual data mereka kepada masyarakat umum. Mereka juga berhasil memprediksikan lokasi wabah Zika di Florida Selatan dalam publikasi di jurnal medis Inggris, The Lancet.

Penulis: Conney Stephanie

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Startup Inilah yang Pertama Kali Mendeteksi Penyebaran Virus Corona"



TERBARU

[X]
×