kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menyelamatkan perusahaan keluarga via restrukturisasi (2)


Kamis, 14 Maret 2019 / 15:40 WIB

Menyelamatkan perusahaan keluarga via restrukturisasi (2)

Menjadi penerus perusahaan keluarga menjadi jalan kehidupan Vincent Bollor. Setelah memiliki cukup pengalaman bekerja di perusahaan lain, termasuk di Rothschild Bank, Vincent memutuskan menyelamatkan perusahaan keluarga yang di ambang kebangkrutan. Pemahaman dunia investasi dan bisnis semasa sebagai pegawai digunakan untuk menyelamatkan Bollor Group. Restrukturisasi dan revitalisasi yang dijalankan membuahkan hasil.

Pengusha sukses asal Prancis Vincent Bollor lahir pada 1952 dari keluarga taipan kertas. Ia merupakan cicit Rene Bollor, pendiri Bollor Group.

Rene mendirikan Bollor Group setelah pulang dari lawatanya ke China. Dari sana ia memperlajari teknik pembuatan kertas. Ketika kembali ke Prancis, ia menyempurnakan teknik tersebut dengan bantuan mesin yang ia ciptakan sendiri.

Hasilnya, kertas yang ia produksi lebih tipis dibandingkan yang beredar di pasaran. Jenis kertas yang cocok sebagai pembungkus rokok, dan halaman Injil.

Dari hal tersebut Bollor Group punya pangsa pasar sendiri, yang serta merta bikin perusahaan juga making berkembang. Bollor bahkan diklaim menguasai hampir 10% pangsa pasar kertas rokok di dunia. Hingga tahun 1970-an Bollor Group terus tumbuh. Mendiversifikasi produk mulai dari kertas pembungkus teh, kertas karbon, hingga kertas berlapis aluminium. Sayang di akhir 1970-an, Bollor mulai terancam bangkrut akibat resesi global, kenaikan harga minyak dunia, hingga biaya produksi yang semakin membengkak. Di sini Vincent ambil bagian.

Vincent merupakan sarjana bisnis dari Universitas Paris. Setelah lulus ia memulai karier di Banque de lUnion Europene sembari melanjutkan pendidikan di bidang hukum. Karier Vincent moncer di Banque de lUnion Europene hingga kemudian ia hijrah ke Edmond de Rothschild Bank. Di sini ia semakin paham dunia investasi dan bisnis. Kariernya juga terus melejit, hingga pada 1976 ia menjabat sebgai deputi direktur.

Di Rothschild Bank, kemampuan lobi Vincent diasah. Tahun 1975 ia meminta para petinggi Rothschild mengakuisisi Bollor Group yang tengah menghadapi kebangkrutan. Namun ketika Bollor benar-benar dinyatakan bangkrut, Vincent justru meminta petinggi Rotschild kembali menyerahkan kembali Bollor. Transaksi ini terjadi secara cuma-cuma. Secara simbolik, Vincent hanya memberikan CHF 1 kepada Rothschild untuk mendapatkan kembali perusahaan keluarganya.

Tahun1981 Bollor Group kembali berada di tangan keluarga Bollor yakni Vincent. Sejak itu beberapa manuver dilakukan Vincent. Dengan cepat, Vincent menemukan konglomerat lokal Sebastien Piccioto yang sepakat menanam investasi CHF 10 juta dengan imbalan 50% kepemilikan Bollor Group.

Vincent menggunakan dana segar dari Sebastien untuk merestrukturisasi perusahaan tersebut dan merevitalisasi aset, termasuk tukar guling aset-aset Bollor tak produktif. Dia juga berusaha mengefisiensikan ongkos produksi. Salah satu kejadian penting ketika Vincent berada di pabrik dan meminta langsung para pekerjanya agar gaji mereka dipotong hingga 15%. Para pekerja sepakat.

Mulai pertengahan 1980-an Bollor Group mulai pulih. Dan langkah ekspansi perusahaan di tangan Vincent tak terbendung. Pada 1983, perusahaan ini mulai masuk ke pasar baru, dengan memproduksi polypropylene dan kapasitor film. Namun, bisnis utamanya sebagai pembuat kertas rokok semakin dikembangkan. Pada 1986 Bollor mengakuisisi JOB Group, kompetitor yang punya tiga merek kertas rokok ternama: JOB, Zig-Zag, dan OCB.

Tak hanya di industri pendukung, Bollor juga mulai masuk ke industri utamanya: tembakau. Masih di 1986, Bollor mengakuisisi Sofical, salah satu produsen tembakau terbesar di Afrika. Untuk mendukung logistik dari Afrika-Prancis, tak lama berselang Bollor mengakuiisisi Socit Commercial d'Affrtements et de Combustibles (SCAC) perusahaan penerbangan logistik Prancis.

(Bersambung)


Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Tri Adi

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×