Sumber: The Street | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meta Platforms Inc. mengambil langkah drastis untuk merombak strategi bisnisnya setelah lini metaverse yang digarap melalui divisi Reality Labs terus membukukan kerugian besar.
Sejak 2021 hingga kini, unit yang memproduksi perangkat virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) itu telah mencatatkan kerugian kumulatif sekitar US$73 miliar.
Dalam laporan kinerja terbaru, Meta mencatat Reality Labs merugi US$ 4,43 miliar hanya pada kuartal III 2025. Kerugian ini sejalan dengan melemahnya penjualan perangkat VR Meta.
Baca Juga: Intel Corp Pangkas 22% Karyawan, CEO Baru Tan Terapkan Disiplin Ketat Biaya
Data firma riset pasar IDC yang dikutip The Register menunjukkan, pengiriman headset VR Quest sepanjang sembilan bulan pertama 2025 hanya mencapai 1,7 juta unit, turun 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis IDC menilai ekspektasi bahwa teknologi AR dan VR akan menggantikan peran ponsel pintar tidak pernah benar-benar terwujud. Wakil Presiden Data dan Analitik IDC, Francisco Jeronimo, menyebut gagasan tersebut gagal menjadi kenyataan dan kecil kemungkinan terjadi di masa depan.
Tekanan terhadap bisnis metaverse juga datang dari menurunnya minat konsumen. Setelah sempat menjadi tren global pada akhir 2021 hingga awal 2022, popularitas istilah “metaverse” terus merosot.
Data Google Trends menunjukkan minat pencarian terhadap topik ini menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: SoftBank Vision Fund Pangkas 20% Karyawan, Alihkan Fokus ke Investasi Besar AI
Survei YouGov yang dilakukan pada Februari tahun lalu memperkuat gambaran tersebut. Mayoritas warga Amerika Serikat tercatat belum pernah menggunakan metaverse sepanjang 2024.
Hanya sekitar seperempat responden yang mengaku pernah mengakses metaverse dalam 12 bulan terakhir. Biaya perangkat yang mahal, keterbatasan aktivitas menarik, serta kekhawatiran soal keamanan dan privasi menjadi sejumlah faktor penghambat adopsi.
Sebagian responden juga menyatakan minat akan meningkat jika metaverse bisa diakses tanpa harus menggunakan headset VR.
Di tengah tekanan kinerja dan melemahnya permintaan pasar, Meta akhirnya memutuskan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan di divisi Reality Labs.
Mengutip laporan Bloomberg, jumlah ini setara sekitar 10% dari total tenaga kerja Reality Labs yang saat ini mencapai 15.000 orang.
Baca Juga: Surat PHK Bocor! Karyawan Dipecat, Baca Email Layoff Meta yang Picu Kontroversi
Langkah efisiensi tersebut dilakukan setelah manajemen Meta, termasuk CEO Mark Zuckerberg, mulai mengevaluasi pemangkasan anggaran bisnis metaverse hingga 30%.
Keputusan ini menandai perubahan arah Meta yang kini lebih berhati-hati dalam mengucurkan investasi besar ke metaverse, seiring realitas pasar yang belum sejalan dengan ambisi awal perusahaan.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
