kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.669.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Meta Pangkas Ribuan Karyawan Reality Labs Usai Tekor US$ 73 Miliar


Jumat, 16 Januari 2026 / 20:40 WIB
Meta Pangkas Ribuan Karyawan Reality Labs Usai Tekor US$ 73 Miliar
ILUSTRASI. Orang Terkaya di Dunia - Mark Elliot Zuckerberg (DOK/theverge.com)


Sumber: The Street | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meta Platforms Inc. mengambil langkah drastis untuk merombak strategi bisnisnya setelah lini metaverse yang digarap melalui divisi Reality Labs terus membukukan kerugian besar. 

Sejak 2021 hingga kini, unit yang memproduksi perangkat virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) itu telah mencatatkan kerugian kumulatif sekitar US$73 miliar.

Dalam laporan kinerja terbaru, Meta mencatat Reality Labs merugi US$ 4,43 miliar hanya pada kuartal III 2025. Kerugian ini sejalan dengan melemahnya penjualan perangkat VR Meta. 

Baca Juga: Intel Corp Pangkas 22% Karyawan, CEO Baru Tan Terapkan Disiplin Ketat Biaya

Data firma riset pasar IDC yang dikutip The Register menunjukkan, pengiriman headset VR Quest sepanjang sembilan bulan pertama 2025 hanya mencapai 1,7 juta unit, turun 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis IDC menilai ekspektasi bahwa teknologi AR dan VR akan menggantikan peran ponsel pintar tidak pernah benar-benar terwujud. Wakil Presiden Data dan Analitik IDC, Francisco Jeronimo, menyebut gagasan tersebut gagal menjadi kenyataan dan kecil kemungkinan terjadi di masa depan.

Tekanan terhadap bisnis metaverse juga datang dari menurunnya minat konsumen. Setelah sempat menjadi tren global pada akhir 2021 hingga awal 2022, popularitas istilah “metaverse” terus merosot. 

Data Google Trends menunjukkan minat pencarian terhadap topik ini menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: SoftBank Vision Fund Pangkas 20% Karyawan, Alihkan Fokus ke Investasi Besar AI

Survei YouGov yang dilakukan pada Februari tahun lalu memperkuat gambaran tersebut. Mayoritas warga Amerika Serikat tercatat belum pernah menggunakan metaverse sepanjang 2024. 

Hanya sekitar seperempat responden yang mengaku pernah mengakses metaverse dalam 12 bulan terakhir. Biaya perangkat yang mahal, keterbatasan aktivitas menarik, serta kekhawatiran soal keamanan dan privasi menjadi sejumlah faktor penghambat adopsi. 

Sebagian responden juga menyatakan minat akan meningkat jika metaverse bisa diakses tanpa harus menggunakan headset VR.

Di tengah tekanan kinerja dan melemahnya permintaan pasar, Meta akhirnya memutuskan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan di divisi Reality Labs. 

Mengutip laporan Bloomberg, jumlah ini setara sekitar 10% dari total tenaga kerja Reality Labs yang saat ini mencapai 15.000 orang.

Baca Juga: Surat PHK Bocor! Karyawan Dipecat, Baca Email Layoff Meta yang Picu Kontroversi

Langkah efisiensi tersebut dilakukan setelah manajemen Meta, termasuk CEO Mark Zuckerberg, mulai mengevaluasi pemangkasan anggaran bisnis metaverse hingga 30%. 

Keputusan ini menandai perubahan arah Meta yang kini lebih berhati-hati dalam mengucurkan investasi besar ke metaverse, seiring realitas pasar yang belum sejalan dengan ambisi awal perusahaan.

Selanjutnya: RMK Energy (RMKE) Ganti Direksi, Volume Jasa Logistik ditarget 12,7 Juta Ton

Menarik Dibaca: Libur Panjang Isra Mikraj, 564.272 Tiket Kereta Telah Terjual


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×