kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Miliarder yang jatuh bangun berbisnis tambang (2)


Sabtu, 18 Mei 2019 / 10:25 WIB

Miliarder yang jatuh bangun berbisnis tambang (2)

Kisah hidup Robert Martin Friedland sebagai pebisnis tambang memang naik turun. Ia pernah hampir jatuh bangkrut karena salah mengelola tambang emas di Amerika Serikat. Ia dinyatakan melanggar hukum perlindungan lingkungan dan terkena denda hingga US$ 20 juta. Namun Friedland tak kapok mengoleksi saham pertambangan. Yang paling sukses adalah di saat ia membangun Ivanhoe Mines. Karena perusahaan ini, ia tercatat sebagai miliarder.

Jalan hidup Robert Martin Friedland masuk ke kelompok miliarder melalui perusahaan Ivanhoe Mines Ltd memang penuh liku. Saat muda, ia pernah dipenjara karena kasus kepemilikan obat-obatan terlarang, Friedland juga pernah hampir bangkrut.

Kegagalan pertama yang dirasakan Friedland terjadi saat ia memiliki Galactic Resources. Sekitar tahun 1994, lewat perusahaan ini, ia mencoba mengembangkan tambang emas di dekat Summitville, Colorado, Amerika Serikat (AS).

Kala itu, Friedland mencoba melakukan proses ekstraksi emas dengan mencelupkan bijih emas ke dalam sianida. Padahal, proses ini melanggar aturan hukum tentang perlindungan lingkungan di AS. Ia pun harus berurusan dengan Badan Perlindungan Lingkungan. Ujung dari kasus itu, Friedland harus membayar denda senilai US$ 20 juta.

Usai kejadian ini, Friendland tak kapok. Pria kelahiran Chicago ini membeli saham Diamond Fields di Bursa Saham Vancouver, Kanada. Perusahaan ini mengelola tambang nikel yang berlokasi di Teluk Voisey, Newfoundland.

Namun ia tak lama berada di perusahaan ini. Dua perusahaan tambang raksasa Inco dan Falconbridge menawar saham Diamond Fields. Awalnya, Inco muncul sebagai pemenang dengan nilai tawaran US$ 3,1 miliar pada 1996.

Namun, langkah Inco tidak mulus, Newfoundland merupakan provinsi termiskin di Kanada. Pemerintah pun mendesak, bila Inco masih tetap ingin beroperasi di wilayahnya, maka perusahaan itu harus membangun smelter dan melakukan bisnis hilir lain.

Tekanan terhadap Inco juga datang suku Innu and Inuit yang merupakan pribumi di wilayah tersebut. Mereka mengklaim deposit nikel yang digali Inco berada di tanah leluhur mereka.

Buntut dari sengketa penawaran ini, Inco menawarkan US$ 530 juta dan kesepakatan kepada pemerintah sebesar US$ 100 juta. Sedangkan Suku Innu and Inuit diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan pertambangan di sebagian wilayah Teluk Voisey.

Friedland pun harus keluar sebagai pemegang saham Diamond Fields pada 2002. Namun, ia pun mengantongi uang sebesar US$ 400 juta untuk kepemilikan sahamnya sebanyak 13% di perusahaan itu.

Selepas dari situ, Friedland membangun Ivanhoe Energy yang terdaftar di Nasdaq. Ia memiliki 32% saham perusahaan baru ini.

Ivanhoe Energy, dijalankan oleh para mantan eksekutif Occidental Petroleum. Perusahaan ini memproduksi minyak dan gas di tempat-tempat seperti Cina dan California.

Friedland juga memiliki saham 50% Mineral Afrika yang mencari platinum. Dia telah mencoba merehabilitasi tambang besi yang gagal, yang diperoleh dari pemerintah Tasmania pada tahun 1996 oleh ABM Mining.

Selain itu, Friendland lewat Ivanhoe Mines menandatangani perjanjian dengan pemerintah Birma untuk mengembangkan tambang tembaga dan membagi keuntungan. Kelompok-kelompok hak asasi manusia dengan cepat mencela Ivanhoe, menuduh tambang mengambil keuntungan dari kerja paksa dan meracuni lingkungan. Friedland membantah tuduhan itu dan mengklaim usaha tambangnya mendukung ekonomi daerah.

Lewat Ivanhoe Mines, pria kelahiran 18 Agustus 1950 ini tercatat sebagai orang nomor kaya ke-31 di Singapura. Forbes mencatatkan kekayaan bersihnya US$ 1 miliar per Maret 2019

Friedland secara aktif berpartisipasi sebagai anggota dewan di lebih dari 8 perusahaan lain. Di antaranya ia memiliki 12,7% saham di CleanTeQ Holdings perusahaan terdaftar di Australia, penghasil kobalt dan nikel.

(Bersambung)


Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×