Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Uni Eropa (UE) dan China mengambil langkah besar untuk meredakan perang tarif mobil listrik (electric vehicle/EV) yang selama ini memanas. Setelah berbulan-bulan ketegangan dagang, Komisi Eropa kini mempertimbangkan untuk melonggarkan kebijakan tarif tinggi terhadap mobil listrik buatan China.
Mengutip Auto Blog, berdasarkan laporan The New York Times dan South China Morning Post pada 12 Januari, Komisi Eropa dan Kementerian Perdagangan China mengumumkan pedoman baru yang berpotensi menggantikan tarif tinggi atas impor EV dari China ke Eropa.
Dalam skema baru ini, produsen mobil, baik merek China maupun merek global yang memproduksi mobil di China, dapat secara sukarela membatasi jumlah kendaraan yang dikirim ke Eropa. Selain itu, eksportir China juga diminta menetapkan harga minimum mobil listrik, yang akan dihitung oleh Uni Eropa untuk menetralkan dampak subsidi pemerintah China.
Sebagai imbalannya, produsen yang mengikuti skema ini bisa dibebaskan dari tarif anti-subsidi yang sebelumnya diusulkan Uni Eropa, yang besarnya mencapai hingga 35%.
Juru bicara Komisi Eropa, Olof Gill, mengatakan pihaknya sejak awal terbuka untuk mencari alternatif selain tarif. Menurutnya, kebijakan baru ini mencerminkan fleksibilitas Uni Eropa dalam menyelesaikan sengketa dagang.
Dari pihak China, Kementerian Perdagangan menyebut proposal ini mencerminkan semangat dialog dan konsultasi antara China dan Uni Eropa. Beijing menilai kesepakatan ini menunjukkan komitmen kedua pihak untuk menyelesaikan perbedaan melalui mekanisme Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan menjaga stabilitas rantai pasok industri otomotif global.
Baca Juga: Manajer Hedge Fund Populer Prediksi Bitcoin Akan Anjlok ke Level US$ 0 (Nol)
Latar Belakang Perang Tarif EV
Konflik ini bermula pada Oktober 2024, ketika Uni Eropa menyimpulkan bahwa produsen mobil China menerima subsidi pemerintah yang dianggap memberi keuntungan tidak adil di pasar Eropa. Uni Eropa kemudian menetapkan tarif berdasarkan tingkat subsidi, mulai dari sekitar 7,8% hingga lebih dari 35%.
Sebagai balasan, China meluncurkan penyelidikan terhadap sejumlah produk asal Eropa, termasuk brandy, cognac, daging babi, dan produk susu.
Kebijakan tarif ini tidak hanya berdampak pada merek China seperti BYD dan SAIC (pemilik MG), tetapi juga produsen Barat seperti BMW dan Volvo yang memproduksi mobil di China untuk pasar Eropa.
Pola Lama Terulang?
Kebijakan baru ini mengingatkan pada ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Jepang pada era 1980-an, ketika Jepang setuju membatasi ekspor mobil ke AS secara sukarela. Dampaknya, banyak produsen Jepang kemudian membangun pabrik di Amerika Serikat untuk menghindari pembatasan ekspor.
Tonton: Nasib IHSG Masih Genting
Langkah serupa berpotensi terjadi di Eropa. Uni Eropa secara eksplisit meminta produsen China menyampaikan rencana investasi masa depan di wilayah UE. Ini membuka peluang bagi produsen EV China untuk membangun pabrik langsung di Eropa.
Jika itu terjadi, bukan hanya peta industri otomotif Eropa yang bisa berubah, tetapi juga berpotensi menghidupkan kembali basis industri manufaktur di kawasan tersebut.













