Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Selasa (1/9/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam konflik militer di Timur Tengah.
Melansir Reuters, harga minyak Brent naik 56 sen atau 0,6% menjadi US$ 91,05 per barel pada pukul 00.44 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 83 sen atau 1% menjadi US$ 86,59 per barel.
Baca Juga: PMI Jepang: Bisnis Baru Manufaktur Jepang Naik dengan Laju Tercepat Sejak 2018
Pada perdagangan sebelumnya, Brent ditutup melonjak 2,7% dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Agustus. WTI juga menguat 2,8% dan mencapai level tertinggi sejak 21 Agustus.
Presiden AS Donald Trump pada Senin (31/8) mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran setelah kedua negara kembali melakukan serangan langsung pada Minggu (30/8).
Bentrokan tersebut meningkatkan kembali ketegangan setelah konflik sebelumnya bergeser menjadi perselisihan ekonomi.
Baca Juga: Nissan-Honda Perkuat Kerja Sama Teknologi, Siapkan ECU untuk Mobil Generasi Baru
Risiko Selat Hormuz
Analis pasar utama KCM Tim Waterer mengatakan eskalasi terbaru meningkatkan risiko pembalasan Iran yang dapat mengancam infrastruktur energi dan aktivitas pelayaran di kawasan Teluk.
“Hal ini membawa kembali potensi pembalasan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan kerusakan terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz,” kata Waterer.
Menurut dia, kedua risiko tersebut tercermin dalam penguatan harga minyak.
Data perusahaan pelayaran Kpler menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya sekitar lima kapal per hari pada akhir pekan.
Upaya mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk mencapai kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz juga belum menunjukkan perkembangan berarti.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.
Iran menutup jalur perairan tersebut setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Risiko terhadap pelayaran dan pasokan minyak kembali terlihat pada Selasa. Badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker mengaku terkena tiga proyektil saat berlayar keluar dari Selat Hormuz.
Tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan akibat insiden tersebut.
Baca Juga: NIIF India Kantongi Komitmen US$ 2 Miliar
Cadangan Minyak AS Menipis
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada kondisi cadangan minyak strategis AS.
Pada Jumat lalu, Trump mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela terkait penguasaan cadangan minyak negara tersebut. Trump kemudian mengatakan minyak dari kesepakatan itu akan digunakan untuk membantu mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Cadangan SPR saat ini berada di dekat level terendah dalam 44 tahun.
Perusahaan AS Chevron dan GE Vernova, perusahaan India ONGC, perusahaan Italia Eni, serta perusahaan Kolombia GeoPark juga disebut akan menandatangani kesepakatan final terkait proyek energi di Venezuela.
Baca Juga: Viral! Rumah Hijau di Nepal Selamat dari Banjir Bandang, Ini Rahasia Strukturnya
Sementara itu, persediaan minyak mentah dalam SPR AS turun sekitar 3,1 juta barel pada pekan lalu menjadi sekitar 286,6 juta barel.
Analis yang disurvei Reuters pada Agustus memperkirakan harga minyak akan tetap berada di atas US$ 80 per barel sepanjang 2026, seiring gangguan terhadap jalur pelayaran yang masih berlangsung.














