Minyak murah bikin pengangguran di AS melonjak

Jumat, 05 Agustus 2016 | 13:50 WIB Sumber: money.cnn
Minyak murah bikin pengangguran di AS melonjak


NEW YORK. Semakin murahnya harga minyak menyebabkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat. Banyak pihak yang memprediksi, aksi PHK ini masih jauh dari kata usai.

Berdasarkan laporan yang dirilis Challenger, Gray & Christmas, sejak harga minyak mulai melorot pada pertengahan 2014, harga minyak menjadi salah satu penyebab terjadinya PHK atas 195.000 karyawan di AS.

Ini merupakan jumlah yang cukup besar dan cukup memukul ekonomi AS. Sebab, sektor ini tadinya merupakan sektor dengan tingkat gaji yang cukup baik. Goldman Sachs menulis, rata-rata gaji di industri minyak dan gas 84% dibanding tingkat gaji rata-rata nasional.

Data Challenger juga menunjukkan, sekitar 95.000 posisi yang tereliminasi di sepanjang 2016 berasal dari perusahaan-perusahaan energi. Pemangkasan tersebut terjadi pada awal tahun ini, seiring anjloknya harga minyak ke level terendah dalam 13 tahun terakhir di posisi US$ 26 per barel.

Namun, Challenger mencatat bahwa terjadi kenaikan tajam pada pemangkasan karyawan di sektor energi pada Juli lalu, di mana kenaikannya mencapai 796% menjadi 17.725.

Meskipun harga minyak sudah rebound dari level ekstrem terendahnya, namun, dalam beberapa minggu terakhir tekanan terhadap minyak terlihat lagi. Pekan ini, harga minyak kembali jatuh ke bawah level US$ 40 per barel.

Diramal, jumlah PHK dari sektor energi akan terefleksi pada data tenaga kerja AS bulan Juli yang akan dirilis hari ini.

Sejumlah perusahaan yang berkaitan dengan minyak sudah berancang-ancang mengumumkan PHK massal. Sebut saja Chevron, Schlumberger, dan Baker Hughes.

Bahkan Halliburton sudah merumahkan sekitar 30.000 karyawan, termasuk 5.000 pekerja di kuartal II tahun ini.

"Industri minyak mengalami pukulan lebih telak dalam 15 tahun terakhir dan kali ini penurunannya lebih dalam dibanding tahun 2008 silam," jelas Jeff Bush, president of oil and gas job recruiter CSI Recruiting.

 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru