kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Misteri Nuklir China: AS Sebut Uji Coba Diam-diam, Ada Bukti?


Minggu, 08 Februari 2026 / 10:55 WIB
Misteri Nuklir China: AS Sebut Uji Coba Diam-diam, Ada Bukti?
ILUSTRASI. AS mengungkap dugaan uji nuklir rahasia China dengan daya ledak ratusan ton. Cari tahu mengapa temuan ini tidak terdeteksi sistem pemantauan. (Ng Han Guan/Pool/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Berakhirnya Perjanjian New START 2010 pada Kamis lalu membuat Rusia dan Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak 1972 tidak lagi memiliki batasan hukum yang mengikat terkait penempatan rudal strategis dan hulu ledak nuklir.

Trump ingin menggantinya dengan perjanjian baru yang juga melibatkan China, yang saat ini tengah mempercepat peningkatan persenjataan nuklirnya. Sambil menunggu kesepakatan baru, Washington menyatakan akan terus memodernisasi kekuatan nuklirnya sendiri.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menulis bahwa Rusia dan China tidak seharusnya berharap AS berdiam diri sementara mereka memperluas kekuatan nuklir. AS, menurutnya, akan mempertahankan pencegah nuklir yang kuat, kredibel, dan modern.

DiNanno juga menegaskan bahwa saat ini AS menghadapi ancaman dari banyak kekuatan nuklir, sehingga perjanjian bilateral dengan hanya satu negara nuklir dinilai tidak lagi relevan pada 2026 dan seterusnya.

Ia kembali menyampaikan proyeksi AS bahwa China akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.

Namun, perwakilan China menegaskan bahwa Beijing belum bersedia terlibat dalam negosiasi baru dengan AS dan Rusia. China sebelumnya menekankan bahwa jumlah hulu ledaknya jauh lebih sedikit, sekitar 600, dibandingkan sekitar 4.000 masing-masing yang dimiliki Rusia dan AS.

“Di era baru ini, kami berharap AS meninggalkan pola pikir Perang Dingin dan mengadopsi keamanan bersama dan kooperatif,” kata Shen.

Analis keamanan dari GLOBSEC, Tomas Nagy, menilai AS memilih momen ini untuk mengungkap dugaan uji coba rahasia China karena menilai Beijing kecil kemungkinan akan bekerja sama dalam waktu dekat.

Trump sendiri mengklaim telah melakukan pembicaraan yang “sangat positif” dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini, dan dijadwalkan mengunjungi Beijing pada April.

Tonton: Cara Memilih Saham ala Warren Buffett & Charlie Munger: Fokus Bisnis, Bukan Harga Harian

Kekosongan perjanjian meningkatkan risiko

Para analis keamanan memperingatkan bahwa perjanjian baru pengendalian senjata nuklir bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk dinegosiasikan. Sementara itu, Rusia dan AS terus mengembangkan senjata baru, di tengah ketegangan terkait Ukraina, Timur Tengah, dan berbagai titik konflik lain.

Tanpa kerangka perjanjian, risiko salah perhitungan dinilai meningkat, karena masing-masing pihak dipaksa menggunakan asumsi terburuk terhadap niat pihak lain.

Rusia menyatakan siap berdialog dengan AS setelah New START berakhir, namun juga siap menghadapi berbagai skenario. Kremlin mengatakan kedua pihak sepakat untuk tetap bertindak secara bertanggung jawab.

Rusia juga mendorong agar Inggris dan Prancis, sebagai sekutu nuklir NATO, ikut masuk dalam negosiasi. Namun, kedua negara tersebut menolak.

Dalam forum di Jenewa, Inggris menyatakan China, Rusia, dan AS perlu mencapai pemahaman bersama. Prancis menambahkan bahwa kesepakatan di antara negara-negara dengan arsenal nuklir terbesar sangat penting di tengah melemahnya norma-norma nuklir global.

Selanjutnya: Analisis Bitcoin: Ini Penyebab Utama Anjloknya Harga Kripto Pekan Ini

Menarik Dibaca: 7 Manfaat Sukun yang Tersembunyi untuk Pencernaan hingga Kekebalan Tubuh


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×