CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Mobil China Makin Dominan, Industri Eropa Desak UE Terapkan Tarif 80%


Rabu, 09 September 2026 / 18:58 WIB
Mobil China Makin Dominan, Industri Eropa Desak UE Terapkan Tarif 80%
ILUSTRASI. Industri otomotif Eropa menghadapi tekanan yang semakin besar dari membanjirnya kendaraan dan komponen asal China (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - MILAN. Industri otomotif Eropa menghadapi tekanan yang semakin besar dari membanjirnya kendaraan dan komponen asal China. Asosiasi pemasok otomotif Italia, Anfia, mendorong Uni Eropa (UE) menerapkan tarif hingga 80% terhadap impor produk otomotif China yang melampaui batas tertentu.

Presiden Anfia Roberto Vavassori mengatakan kepada Reuters bahwa impor kendaraan China ke Uni Eropa seharusnya tetap bebas tarif hingga mencapai 8% dari total registrasi kendaraan tahunan di Eropa.

Namun, menurut dia, impor yang melampaui ambang batas tersebut perlu dikenakan tarif sebesar 80%. Kebijakan itu, kata Vavassori, tidak hanya berlaku untuk kendaraan jadi, tetapi juga komponen otomotif.

Pasalnya, komponen menyumbang sekitar 80% dari nilai sebuah kendaraan. Karena itu, perlindungan terhadap industri otomotif Eropa dinilai tidak cukup hanya dengan mengenakan bea masuk terhadap kendaraan jadi.

Baca Juga: Sebuah Kapal Tanker Minyak Dihantam Drone di Perairan Irak, Puluhan Lainnya Terjebak

"Kami sangat menghormati apa yang telah dicapai industri China. Namun, rasa hormat itu kini telah berubah menjadi ketakutan," ujar Vavassori kepada Reuters.

Menurut dia, industri otomotif merupakan salah satu sektor strategis yang tidak boleh kehilangan kapasitas produksinya di tengah persaingan global.

"Eropa tidak boleh kehilangan industri yang sangat penting bagi otonomi strategisnya," katanya.

Industri Otomotif Eropa Tertekan

Pernyataan Anfia tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Volkswagen menyetujui restrukturisasi besar-besaran di tengah melemahnya permintaan dan meningkatnya persaingan dari produsen China.

Data European Automobile Manufacturers' Association (ACEA) menunjukkan pangsa mobil bermerek China yang terjual di Uni Eropa meningkat menjadi lebih dari 9% pada paruh pertama tahun ini.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi produsen otomotif China di pasar Eropa. Kondisi ini sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan produsen kendaraan dan pemasok komponen lokal.

Vavassori juga memperingatkan bahwa tekanan terhadap produsen kendaraan Eropa dapat menjalar ke rantai pasok otomotif.

Ekspor Komponen Italia Terancam

Jerman menjadi salah satu pasar penting bagi pemasok komponen otomotif Italia. Vavassori mengatakan perusahaan pemasok otomotif Italia mengekspor produk senilai €4,9 miliar atau sekitar US$5,7 miliar ke Jerman pada 2025.

Volkswagen menyumbang hingga 20% dari nilai ekspor tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Lampaui US$ 100, Kontrak Berjangka Indeks Wall Street Bergerak Flat

Namun, ekspor komponen otomotif Italia diperkirakan menghadapi tekanan pada tahun ini seiring kontraksi produksi kendaraan di Eropa. Vavassori memperkirakan ekspor dapat turun sekitar 10% sepanjang tahun setelah mengalami penurunan 4,6% pada paruh pertama tahun ini.

Dia menilai restrukturisasi Volkswagen dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luas di industri otomotif Eropa.

Tanpa perlindungan lebih besar terhadap masuknya produk otomotif China, Vavassori memperkirakan ekspor komponen Italia dapat anjlok 40%-50% pada 2028.

"Itu benar-benar akan menjadi akhir dari cerita," ujarnya.

Tarif Mobil China Saat Ini

Saat ini, Uni Eropa telah memberlakukan bea tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China di luar tarif impor standar sebesar 10% untuk mobil.

Dengan demikian, total beban tarif yang dikenakan terhadap kendaraan listrik China berkisar antara sekitar 18% hingga 45%, bergantung pada produsen.

Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 2024 dan dijadwalkan tetap berlaku selama lima tahun.

Namun, bagi Anfia, kebijakan tersebut belum cukup untuk melindungi ekosistem industri otomotif Eropa, terutama karena ancaman tidak hanya berasal dari kendaraan jadi, tetapi juga komponen yang digunakan dalam proses produksi.

Kritik terhadap Kebijakan Industri UE

Vavassori juga mengkritik rancangan Industrial Accelerator Act yang diusulkan Uni Eropa. Regulasi tersebut dirancang untuk mendukung investasi industri, dekarbonisasi, serta peningkatan manufaktur lokal.

Menurut Vavassori, rancangan kebijakan tersebut justru berpotensi mendorong impor dari negara seperti Maroko dan Turki yang memiliki hubungan perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

Dia menilai kebijakan tersebut seharusnya lebih diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi di dalam kawasan Eropa.

"Sebagaimana ditulis saat ini, kebijakan tersebut tidak mempercepat apa pun selain mempercepat kematian industri otomotif yang telah diumumkan," kata Vavassori.

Baca Juga: Lalu Lintas Pelayaran di Selat Hormuz Makin Sepi

Anfia Soroti Rantai Pasok Produsen China

Anfia juga mempertanyakan komitmen jangka panjang produsen otomotif China untuk membangun rantai pasok lokal di Eropa.

Sejumlah produsen China, seperti BYD dan Chery, diketahui tengah memindahkan sebagian aktivitas produksinya ke Eropa. Namun, Vavassori menilai produsen tersebut masih memiliki minat yang terbatas untuk menggunakan komponen yang bersumber dari pemasok lokal.

Menurutnya, fasilitas produksi milik produsen China di Eropa belum sepenuhnya mencerminkan pembangunan ekosistem manufaktur lokal.

"Pabrik-pabrik mereka di Eropa adalah pabrik perakitan," ujar Vavassori.

Dia memperkirakan produsen China akan tetap mengimpor sebagian besar komponen dari China maupun negara-negara berbiaya rendah yang berada di sekitar Eropa.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri pemasok komponen Eropa karena peningkatan produksi kendaraan merek China di kawasan tersebut belum tentu memberikan manfaat yang sebanding bagi pemasok lokal.

Persaingan tersebut pada akhirnya tidak hanya menyangkut penjualan mobil, tetapi juga penguasaan rantai pasok, komponen, teknologi, dan kapasitas manufaktur. Bagi industri otomotif Eropa, kebijakan perdagangan dan industrialisasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan kawasan tersebut mempertahankan posisi strategisnya di tengah ekspansi produsen China.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×