Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Jenasah Khamenei Akan Disemayamkan di Balai Doa Imam Khomeini
Warga diundang memberikan penghormatan mulai Rabu malam terhadap jenasah pemimpin yang akan disemayamkan di Balai Doa Imam Khomeini yang luas di Teheran, yang dinamai sesuai pendahulunya, Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam.
Cucu Khomeini, Hassan, juga dianggap sebagai kandidat potensial pemimpin tertinggi, mewakili sayap reformis yang ditekan selama era Khamenei.
Namun favorit kuat tetap Mojtaba, yang menguasai kekuatan di bawah ayahnya sebagai figur senior di pasukan keamanan dan jaringan bisnis besar yang mereka kontrol. Memilih Mojtaba akan menegaskan bahwa garis keras masih memegang kendali.
Baca Juga: Italia Siap Aktifkan PLTU Batubara Jika Krisis Energi di Timur Tengah Meluas
Beberapa warga Iran bahkan merayakan kematian Khamenei, yang pasukan keamanannya menewaskan ribuan pengunjuk rasa anti-pemerintah beberapa minggu lalu kerusuhan domestik terbesar sejak era revolusi.
Namun, warga yang marah kepada pemerintah mengatakan tidak mungkin melakukan protes sementara bom masih jatuh.
“Tidak ada tempat untuk melindungi diri dari serangan, bagaimana kami bisa protes?” kata Farah, 45 tahun, melalui telepon dari Teheran.
Pasukan Garda Revolusi dan milisi Basiji “ada di mana-mana. Mereka akan membunuh kami. Saya membenci rezim ini, tapi saya harus memikirkan keselamatan dua anak saya terlebih dahulu,” ujarnya.
Meski awalnya AS berharap bisa menggulingkan kepemimpinan Iran dengan cepat dan menentukan, Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara Teluk Arab yang menjadi basis AS.
Laksamana Brad Cooper, komandan utama kampanye AS sebagai kepala Komando Pusat Militer, mengatakan 50.000 tentara, 200 jet, dan dua kapal induk terlibat dalam “serangan 24/7 ke Iran dari dasar laut hingga ruang angkasa dan siber,” dengan lebih banyak aset sedang dikirim.
Baca Juga: Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak Brent dan WTI Kuartal II-2026
Harga Minyak Meroket
Harga minyak melonjak pada Rabu setelah Iran menyerang kapal dan fasilitas energi, menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur pengiriman sepertiga dari minyak dan gas dunia.
Puluhan kapal berhenti di Teluk, Qatar menghentikan produksi LNG, dan Irak menurunkan produksi minyak.
Selat Hormuz berada di bawah “kendali penuh” Angkatan Laut Iran, kata Garda Revolusi, memperingatkan kapal agar tidak melintas.
Presiden Trump mengatakan Angkatan Laut AS bisa mulai mengawal kapal tanker melalui Selat jika diperlukan.
Namun, pemilik kapal dan analis meragukan apakah langkah itu cukup untuk menahan kenaikan harga atau apakah AS memiliki kapal cadangan untuk melakukannya tanpa risiko serangan.
Jika harga energi tetap tinggi, Trump berisiko menghadapi dampak politik karena Partai Republik berupaya mempertahankan kekuasaan dalam pemilu paruh waktu Kongres pada November.













