Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Lembaga pemeringkat Moody's Ratings memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Israel pada 2026.
Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan masih tingginya risiko geopolitik serta rapuhnya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran maupun kelompok militan Hezbollah dan Hamas.
Baca Juga: Pejabat The Fed Yakin Inflasi AS Mulai Mendingin Meski Masih di Atas Target
Melansir Reuters dalam laporan yang dirilis Rabu (15/7/2026), Moody's tetap mempertahankan peringkat utang Israel di level Baa1 dengan prospek (outlook) stabil.
Pada Januari lalu, Moody's menaikkan outlook Israel menjadi stabil dari sebelumnya negatif, dengan alasan risiko geopolitik menurun setelah tercapainya gencatan senjata di Gaza.
Namun, sejak saat itu Israel kembali terlibat perang selama enam pekan dengan Iran yang dimulai pada 28 Februari, serta kembali terlibat konflik dengan Hezbollah.
"Meski ekonomi Israel telah menunjukkan ketahanan terhadap guncangan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir, kondisi keamanan yang masih rapuh terus menimbulkan risiko terhadap prospek ekonomi dan fiskal," tulis Moody's.
Baca Juga: Harga Produsen AS Tak Terduga Turun pada Juni, Sinyal Inflasi Mulai Mereda
Moody's menilai, kesepakatan gencatan senjata yang masih "rapuh" memberi peluang bagi ekonomi Israel untuk pulih setelah mencatat kinerja yang lemah pada kuartal pertama 2026.
Selama gencatan senjata tetap bertahan, Moody's memperkirakan ekonomi Israel tumbuh 3,7% pada 2026, meningkat dari estimasi 2,9% pada 2025.
Namun, proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya pada Januari yang mencapai 5,0%.
Sebagai perbandingan, Bank Sentral Israel masih memperkirakan ekonomi negara tersebut mampu tumbuh 4% pada 2026.
Di sisi fiskal, Moody's kini memperkirakan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) akan stabil di level 70% tahun ini, lebih tinggi dibandingkan estimasi 68% yang disampaikan pada Januari.
Meski demikian, Moody's menilai ekonomi Israel masih cukup tangguh menghadapi dampak konflik militer dan tekanan terhadap keuangan pemerintah sejauh ini masih terkendali.
Baca Juga: Buffett Akhiri Donasi ke Gates Foundation, Sebut Bill Gates Sudah Mengetahuinya
Lembaga tersebut juga membuka peluang kenaikan peringkat utang apabila gencatan senjata dapat dipertahankan dan kondisi fiskal membaik lebih cepat dari perkiraan.
Sebaliknya, Moody's memperingatkan bahwa peringkat utang Israel dapat kembali diturunkan apabila ketegangan geopolitik meningkat dan berdampak berkepanjangan terhadap perekonomian maupun kondisi fiskal pemerintah.
Risiko penurunan peringkat juga dapat muncul jika pertumbuhan ekonomi lebih lambat dari perkiraan atau apabila pemerintah Israel mengambil langkah yang melemahkan independensi lembaga peradilan.
Peringatan tersebut muncul setelah pekan lalu kabinet Israel memutuskan untuk mengabaikan putusan Mahkamah Agung terkait regulator penyiaran nasional, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis konstitusi.
Baca Juga: Jelang Lawan Argentina, Timnas Inggris Kompak Abaikan Spekulasi di Luar Lapangan
Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral Israel Amir Yaron juga meminta pemerintahan baru hasil pemilu 27 Oktober mendatang untuk mengendalikan belanja negara, khususnya pengeluaran pertahanan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, serta mempertimbangkan kenaikan pajak guna menjaga keberlanjutan fiskal.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
