Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - TEL AVIV. Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Israel pada tahun 2026 menjadi 3,5% dari sebelumnya 4,8%. Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini dilakukan karena alasan ketegangan regional.
Rabu (1/7/2026), dalam sebuah laporan, IMF juga memperkirakan inflasi Israel akan meningkat sementara karena harga energi yang lebih tinggi dan kendala pasokan meskipun mata uang Israel, shekel, menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Ketegangan regional yang meningkat memberikan bayangan pada ekonomi Israel," kata IMF, merujuk pada konflik dengan Iran, Hizbullah, dan Hamas.
IMF mencatat bahwa perekonomian telah menunjukkan ketahanan meskipun mengalami guncangan berulang, tetapi ketidakpastian geopolitik regional yang meningkat dan hambatan struktural yang sudah lama ada diperkirakan akan membebani prospek.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 1% ke Level Terendah 4 Bulan, WTI ke Bawah US$ 70 per Barel
"Selanjutnya, peningkatan ketegangan regional tetap menjadi risiko penurunan utama," katanya.
IMF mengatakan, Israel perlu menerapkan kebijakan "bijaksana" untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memajukan reformasi struktural untuk meningkatkan potensi pertumbuhan.
Setelah tingkat pertumbuhan 2,9% pada tahun 2025, perang dengan Iran pada bulan Maret dan April menyebabkan Bank Sentral Israel memangkas perkiraan pertumbuhan tahun 2026 menjadi 3,8%, sementara Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan hingga 4% tahun ini.
Perekonomian Israel menyusut 3,8% secara tahunan pada kuartal pertama.
IMF memproyeksikan ekonomi Israel akan tumbuh 4,4% pada tahun 2027, dengan tingkat inflasi tetap stabil di sekitar 2% pada tahun 2026 dan 2027.
Prakiraan tersebut, menurut IMF, didasarkan pada data hingga 10 Juni.
IMF merekomendasikan pemerintah Israel untuk membangun kembali cadangan fiskal, misalnya dengan meningkatkan pendapatan, bersamaan dengan konsolidasi fiskal, karena pengeluaran pertahanan yang lebih tinggi untuk membiayai konflik militer.
IMF juga menganjurkan kebijakan moneter yang cukup ketat karena harga energi yang lebih tinggi diperkirakan akan mendorong inflasi lebih tinggi.
Dalam beberapa minggu terakhir, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah menyebabkan penurunan harga minyak.
Baca Juga: Kroger Akuisisi Giant Eagle Senilai US$ 1,65 Miliar, Perkuat Ekspansi di AS
"Bank Sentral Israel harus terus memantau secara cermat dampak perang terhadap pasokan tenaga kerja, dampak kenaikan harga energi dan pergerakan nilai tukar, serta dampak penurunan suku bunga terbaru terhadap kondisi keuangan dan permintaan domestik," demikian pernyataan tersebut.
Para pembuat kebijakan perlu "bersiap untuk menyesuaikan arah" jika data yang masuk atau "lingkungan risiko yang meningkat" menyebabkan tekanan harga yang kembali meningkat.














