kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Harga Minyak Anjlok 1% ke Level Terendah 4 Bulan, WTI ke Bawah US$ 70 per Barel


Kamis, 02 Juli 2026 / 05:29 WIB
Harga Minyak Anjlok 1% ke Level Terendah 4 Bulan, WTI ke Bawah US$ 70 per Barel
ILUSTRASI. Harga minyak Brent dan WTI jatuh ke titik terendah 4 bulan pada Rabu (1/7/2026).


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak ditutup turun lebih dari 1% dan berada di level terendah sejak Maret 2026 karena optimisme atas pembicaraan Amerika Serikat (AS)-Iran meredakan kekhawatiran pasokan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan di Qatar berjalan dengan baik.

Rabu (1/7/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 ditutup turun US$ 1,38 atau 1,89% menjadi US$ 71,57 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 ditutup turun 92 sen atau 1,32% ke US$ 68,58 per barel.

Kedua harga minyak acuan tersebut ditutup pada level terendah dalam empat bulan.

Baca Juga: Meski Sudah Merugi US$ 760 Juta, Para Short Seller Tetap Incar Saham SpaceX

"Negosiasi yang saat ini berlangsung di Qatar dianggap positif (dan) hal itu memungkinkan harga untuk terus turun," kata analis Saxo Bank, Ole Hansen.

"Ada kemungkinan kita bisa melihat harga yang lebih rendah lagi." Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa AS "bergaul dengan sangat baik dengan Iran dan bahwa pertemuan-pertemuan baru-baru ini di Qatar berjalan dengan baik."

Amerika Serikat dan Iran mengadakan pembicaraan teknis di Doha dalam upaya mencapai kesepakatan mengenai arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan mengamankan gencatan senjata yang langgeng, kata sebuah sumber yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut dan seorang pejabat Iran.

AS dan Iran telah berselisih secara terbuka mengenai makna pakta sementara tersebut, saling melancarkan serangan militer selama pekan lalu.

"Ada lebih banyak optimisme karena lebih banyak minyak melewati Selat Hormuz," kata Phil Flynn, analis senior untuk Price Futures Group.

"Pasar memberi sinyal bahwa 'setelah kita melewati ini, kita akan bertindak lebih agresif dan mungkin akan memproduksi lebih banyak minyak di dunia daripada sebelumnya.'"

Lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut mulai pulih, dengan Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa aliran minyak melalui jalur air tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, tanpa menyebutkan angka pasti.

Baca Juga: Nike Masih Tertekan, Lesunya Pasar China Hambat Pemulihan Penjualan

Di AS, persediaan minyak mentah turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pekan lalu, level terendah sejak September 2018, karena permintaan kilang domestik meningkat menjelang liburan akhir pekan 4 Juli, kata Badan Informasi Energi pada hari Rabu.

Namun, penurunan tersebut lebih kecil dari perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 4,5 juta barel.

Setelah lima kenaikan bulanan berturut-turut, analis telah memangkas perkiraan harga minyak 2026 mereka untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai, karena pembukaan kembali Selat Hormuz meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan yang berkepanjangan, menurut jajak pendapat Reuters.

Harga minyak Brent turun sekitar US$ 45 per barel pada kuartal II-2026, penurunan kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global tahun 2008.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka jenis WTI ambles sekitar US$ 31 per barel, penurunan kuartalan terbesar sejak tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 menghancurkan permintaan minyak global.

Penurunan tersebut terjadi setelah kemajuan menuju penyelesaian konflik Timur Tengah, setelah kenaikan tajam pada bulan Maret yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran.

Sementara itu, negara-negara penghasil minyak OPEC+ kemungkinan akan menyepakati peningkatan lebih lanjut dalam target produksi mereka mulai Agustus ketika mereka bertemu pada hari Minggu, kata tiga sumber pada hari Rabu.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×