kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,11   -0,67   -0.07%
  • EMAS942.000 -0,95%
  • RD.SAHAM 0.31%
  • RD.CAMPURAN 0.18%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.05%

Mulai kewalahan, Uni Eropa berlakukan sistem transfer pasien Covid-19 antarnegara


Jumat, 30 Oktober 2020 / 14:28 WIB
Mulai kewalahan, Uni Eropa berlakukan sistem transfer pasien Covid-19 antarnegara
ILUSTRASI. Transfer pasien Covid-19 antarnegara Eropa dilakukan demi membantu negara yang mengalami kesulitan dalam menangani pasien yang terjangkit virus corona.


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Sistem layanan kesehatan Uni Eropa saat ini menghadapi risiko kewalahan menangani jumlah pasien Covid-19 yang terus bertambah di seluruh penjuru Benua Biru.

Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam konferensi pers Kamis (29/10) menyampaikan langsung kekhawatiran akan adanya hambatan yang lebih besar jika negara-negara Uni Eropa tidak cepat bertindak.

"Penyebaran virus akan membebani sistem perawatan kesehatan kita jika kita tidak segera bertindak," ungkap Ursula di hadapan para pemimpin negara Uni Eropa seperti dikutip Reuters.

Ia menambahkan, saat ini Komisi Eropa menyediakan € 220 juta untuk membiayai transfer lintas batas pasien ke seluruh negara anggota Uni Eropa. Transfer pasien ini untuk mencegah penumpukan pasien di satu lokasi, sekaligus membantu negara yang memiliki fasilitas medis terbatas.

Dalam satu bulan terakhir, Eropa diserang gelombang keduawabah virus corona. Beberapa negara, seperti Prancis dan Jerman, kini mulai memberlakukan kembali aturan lockdown yang cukup ketat.

Baca Juga: Uni Eropa: Sebelum 2022, vaksin corona tidak cukup untuk semua orang Eropa

Mutasi virus corona

Para ilmuwan mengatakan pada Kamis, mutasi virus corona yang muncul di Spanyol pada Juni telah menyebar ke seluruh Eropa dan mulai menunjukkan dampak serius bagi beberapa negara.

Jenis virus yang telah bermutasi tersebut sampai saat ini memang belum dinyatakan lebih berbahaya, namun pengawasan tetap dilakukan. Jenis baru ini pertama kali diidentifikasi di antara pekerja pertanian di wilayah Aragon dan Catalonia di Spanyol Timur.

Selama dua bulan terakhir, virus itu telah menyumbang hampir 90% dari total infeksi baru di Spanyol. Jenis tersebut juga menyumbang 40%-70% dari total infeksi baru di Swiss, Irlandia, dan Inggris pada September.

WHO pada Juli lalu meyakinkan, mutasi pada virus corona baru ini memang sangat mungkin terjadi, namun belum ada bukti bahwa mutasi dapat meninbulkan penyakit yang lebih parah.

Selanjutnya: WHO: Angka kematian harian Eropa naik hampir 40% dibandingkan minggu lalu




TERBARU

[X]
×