CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Mundur sebagai Perdana Menteri Inggris, Ini 5 Skandal Boris Johnson


Kamis, 07 Juli 2022 / 23:00 WIB
Mundur sebagai Perdana Menteri Inggris, Ini 5 Skandal Boris Johnson


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - LONDON. Boris Johnson mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris pada Kamis (7/7). Sejumlah skandal menyelimutinya yang merugikan Johnson secara politik.

Setelah berhari-hari berjuang untuk pekerjaannya, Johnson ditinggalkan oleh semua kecuali segelintir sekutu, setelah skandal terbaru mematahkan kesediaan mereka untuk mendukung dia.

Berikut beberapa skandal yang telah merugikan Johnson secara politik:

The Pincher Affair

Pengunduran diri massal menteri pada pekan ini menyusul tuduhan mantan pegawai negeri senior bahwa Kantor Perdana Menteri Inggris  memberikan informasi palsu tentang tuduhan pelecehan seksual di masa lalu terhadap anggota Parlemen Christopher Pincher.

Pada Februari lalu, Johnson menunjuk Pincher sebagai deputy chief whip, memberinya tanggungjawab untuk kesejahteraan anggota parlemen dari Partai Konservatif lainnya.

Baca Juga: Mundur sebagai Perdana Menteri Inggris, Ini Pernyataan Boris Johnson

Pekan lalu, Pincher ditangguhkan dari partai setelah mengakui dia telah membuat orang lain tidak nyaman saat keluar malam dalam keadaan mabuk. Kemudian terungkap, Pincher telah menjadi subjek tuduhan pelecehan seksual di masa lalu.

Kantor Perdana Menteri Inggris awalnya mengatakan, Johnson tidak mengetahui tuduhan spesifik masa lalu terhadap Pincher.

Namun, pada Senin (4/7), mantan pegawai negeri senior Simon McDonald menulis surat yang mengatakan, dia telah menyelidiki tuduhan tersebut pada 2019 dan menguatkan pengaduan tersebut.

Partygate

Istilah "Partygate" diciptakan untuk merujuk pada skandal pesta yang diadakan di Pemerintahan Johnson, termasuk di Downing Street, kantor sekaligus kediaman Perdana Menteri Inggris, yang melanggar aturan penguncian Covid-19 yang ketat.

Johnson sendiri didenda oleh polisi karena menghadiri pesta ulang tahun, dan dipaksa untuk meminta maaf kepada Ratu Elizabeth II setelah diketahui staf berpesta di Downing Street pada malam pemakaman suaminya Pangeran Philip pada April 2021.

Ratu Elizabeth II duduk sendirian di persemayaman Pangeran Philip karena keramaian di dalam ruangan dilarang.

Baca Juga: Boris Johnson Mundur Sebagai PM Inggris, Rusia: Kami Juga Tak Menyukainya

Sebuah laporan oleh seorang pegawai negeri senior memberikan akun memberatkan pada serangkaian pesta ilegal, memerinci konsumsi alkohol berlebihan dan staf yang mabuk.

Parlemen masih menyelidiki, apakah Johnson berulang kali menyesatkan anggota parlemen ketika dia menyangkal mengetahui ada pesta ilegal.

Johnson mengatakan, dia sangat yakin saat itu pertemuan tersebut tidak melanggar hukum. Tetapi, sekarang Johnson mengakui bahwa dia salah.

Skandal seks lainnya

Partai Konservatif telah dilanda skandal lain dari anggota parlemen yang dituduh melakukan penyimpangan seksual, termasuk dua kasus yang menyebabkan anggota parlemen mengundurkan diri.

Dalam kedua kasus tersebut, Partai Konservatif kalah dalam pemilihan khusus yang berlangsung Juni lalu untuk menggantikan mereka.

Baca Juga: Ditinggal oleh 50 Menterinya, Boris Johnson Mundur sebagai Perdana Menteri Inggris

Anggota parlemen dari Partai konservatif Imran Ahmad Khan mengundurkan diri setelah dinyatakan bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak laki-laki berusia 15 tahun.

Neil Parish, anggota parlemen dari Partai Konservatif lainnya, mengundurkan diri setelah mengakui dia menonton pornografi di telepon genggamnya di House of Commons sebanyak dua kali, dalam "a moment of madness".

Anggota parlemen Partai Konservatif lainnya ditangkap karena diduga melakukan pemerkosaan, penyerangan seksual, dan pelanggaran lainnya. Anggota parlemen itu dilepaskan dengan uang tebusan pada Mei dan belum diungkap di media untuk melindungi identitas korban.

Owen Paterson Affair

Tahun lalu, Komite Standar Parlemen Inggris merekomendasikan penangguhan anggota parlemen Partai Konservatif dan mantan menteri Owen Paterson selama 30 hari.

Rekomendasi ini keluar setelah menemukan Paterson melakukan "kasus advokasi berbayar yang mengerikan", dengan melobi atas nama perusahaan yang membayarnya.

Baca Juga: Boris Johnson: Jangan Boikot KTT G20 di Indonesia Meski Vladimir Putin Hadir

Partai Konservatif awalnya memberikan suara di parlemen untuk menghentikan penangguhan Paterson dan merombak proses penyelidikan anggota parlemen.

Paterson akhirnya mengundurkan diri dan pemerintah mengabaikan perubahan yang diusulkan. Partai Konservatif kalah dalam pemilihan untuk mengisi kursi Paterson.

Penyelidikan Renovasi

Setelah renovasi kediaman Johnson di Downing Street, yang dipimpin seorang desainer selebriti termasuk wallpaper emas, Komisi Pemilihan Parlemen Inggris mendenda Partai Konservatif £ 17.800 karena gagal melaporkan sumbangan secara akurat untuk membayarnya.

Penasihat etika Perdana Menteri Inggris kemudian mengkritik Johnson karena gagal mengungkapkan beberapa pesan yang dipertukarkan dengan donor. Namun, dia menyimpulkan, Johnson tidak sengaja berbohong tentang pesan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×