Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh wahana penjelajah NASA Curiosity Rover mengungkap penemuan sejumlah senyawa organik baru di permukaan Mars. Temuan ini memperkuat upaya ilmiah untuk memahami apakah Planet Merah pernah memiliki kondisi yang mendukung kehidupan.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, para peneliti melaporkan bahwa lima dari tujuh senyawa organik berbeda yang terdeteksi pada batuan Mars belum pernah ditemukan sebelumnya di planet tersebut. Batuan tersebut berasal dari dasar danau purba di dekat garis khatulistiwa Mars.
Senyawa organik merupakan molekul berbasis karbon yang menjadi komponen utama kehidupan di Bumi. Hingga saat ini, puluhan senyawa organik telah diidentifikasi di Mars, meskipun para ilmuwan menegaskan bahwa seluruh senyawa tersebut juga dapat terbentuk melalui proses non-biologis.
Mars Pernah Lebih Hangat dan Basah
Mars diperkirakan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, hampir bersamaan dengan Bumi. Pada masa awal sejarahnya, planet ini diduga memiliki kondisi yang lebih hangat dan basah dibandingkan sekarang yang dingin dan kering.
Baca Juga: Investasi Global di Industri Antariksa Cetak Rekor pada Kuartal I-2026
Sampel batuan yang dianalisis diperkirakan berusia setidaknya 3,5 miliar tahun, berasal dari sedimen yang terbentuk akibat aliran air purba. Kondisi ini dianggap sebagai lingkungan yang berpotensi mendukung kehidupan mikroba jika memang pernah ada.
Astrobiolog dan ilmuwan planet Amy Williams dari Universitas Florida, yang juga merupakan penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa temuan ini memperkuat indikasi bahwa Mars pernah menjadi planet yang layak huni.
“Kami belum dapat menyimpulkan bahwa Mars pernah memiliki kehidupan, tetapi temuan ini semakin memperkuat bukti bahwa Mars adalah dunia yang layak huni pada masa ketika kehidupan di Bumi mulai muncul,” ujarnya.
Eksperimen Canggih di Permukaan Mars
Penelitian ini dilakukan menggunakan instrumen Sample Analysis at Mars (SAM) yang berada di dalam Curiosity Rover. Sampel batuan diambil dari area bernama “Mary Anning” di dalam Kawah Gale, wilayah yang dikenal memiliki mineral lempung yang kaya akan jejak air purba.
Batuan tersebut kemudian diproses menggunakan reaksi kimia untuk memecah material organik kompleks menjadi bagian yang lebih kecil sehingga dapat dianalisis oleh instrumen rover.
Hasilnya menunjukkan adanya molekul organik kompleks (macromolecular carbon) yang tetap terjaga meski terpapar radiasi keras di permukaan Mars. Selain itu, ditemukan pula molekul organik kecil yang sebelumnya belum pernah terdeteksi di planet tersebut.
Potensi Kehidupan Masa Lalu Masih Diteliti
Para ilmuwan menegaskan bahwa penemuan ini belum dapat dijadikan bukti adanya kehidupan di Mars. Senyawa organik tersebut masih bisa berasal dari proses geologis alami, meteorit, atau kemungkinan lain di luar aktivitas biologis.
Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Harga Plastik hingga 40%, Industri Barang Konsumen Tertekan
Namun, temuan ini tetap dianggap penting dalam mempersempit kemungkinan dan memperjelas jenis molekul pembangun kehidupan yang mungkin pernah ada di Mars.
“Jika ada materi organik kompleks dari kehidupan yang pernah ada di Mars, instrumen rover saat ini dan yang akan datang seharusnya mampu mendeteksinya,” kata Williams.
Langkah Menuju Pemahaman Kehidupan di Mars
Curiosity Rover yang mendarat di Kawah Gale pada 2012 terus menjadi salah satu misi utama NASA dalam meneliti kelayakan huni Mars. Sebelumnya, wahana lain seperti NASA Perseverance Rover juga menemukan tanda-tanda yang diduga berkaitan dengan proses kimia yang mungkin melibatkan mikroorganisme purba.
Penemuan terbaru ini semakin memperkuat hipotesis bahwa Mars pada masa lalu memiliki unsur-unsur penting bagi kehidupan, meskipun bukti langsung keberadaan makhluk hidup masih belum ditemukan.
Dengan semakin banyaknya data yang dikumpulkan, para ilmuwan berharap misi eksplorasi Mars berikutnya dapat membawa sampel batuan kembali ke Bumi untuk dianalisis lebih mendalam, guna menjawab salah satu pertanyaan terbesar dalam ilmu pengetahuan: apakah kita sendirian di alam semesta.













