kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.859   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

BYD Akhiri Paceklik Penjualan Delapan Bulan, Ekspor Melonjak 80%


Senin, 01 Juni 2026 / 19:35 WIB
BYD Akhiri Paceklik Penjualan Delapan Bulan, Ekspor Melonjak 80%
ILUSTRASI. MPV listrik BYD M6 (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Raksasa kendaraan listrik asal China BYD berhasil mengakhiri tren penurunan penjualan terpanjangnya pada Mei 2026.

Meski permintaan domestik masih melemah dan persaingan di pasar dalam negeri semakin ketat, pertumbuhan ekspor yang kuat menjadi penopang utama kinerja perusahaan.

Baca Juga: Inggris Tambah Ratusan Rudal Anti-Drone, Perkuat Operasi di Timur Tengah

Berdasarkan perhitungan Reuters dari laporan yang disampaikan perusahaan ke bursa pada Senin (1/6/2026), penjualan kendaraan BYD secara global meningkat 0,3% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 383.453 unit pada Mei 2026.

Capaian ini mengakhiri delapan bulan berturut-turut penurunan penjualan.

Tak hanya penjualan, produksi kendaraan BYD juga menunjukkan perbaikan. Produksi naik 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus mengakhiri tren penurunan produksi yang berlangsung sejak Juli 2025.

Kinerja ekspor menjadi sorotan utama. Pengiriman kendaraan ke luar negeri melonjak 80,4% YoY menjadi 160.644 unit pada Mei.

Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan kendaraan listrik di Eropa dan sejumlah pasar berkembang, seiring kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Namun, kondisi berbeda terjadi di pasar domestik China. Penjualan BYD di negeri asalnya turun 24% dibandingkan tahun sebelumnya dan mencatat kontraksi selama 13 bulan berturut-turut.

Baca Juga: Perang Iran Belum Goyahkan Industri India, Output Pabrik Tumbuh 4,9%

Persaingan Sengit di Pasar China

Meski produsen otomotif China, termasuk BYD, semakin berhasil memperluas pangsa pasar di Eropa, pasar domestik masih menghadapi tekanan akibat perang harga yang berkepanjangan.

Segmen kendaraan terjangkau yang selama ini menjadi tulang punggung volume penjualan BYD menjadi yang paling terdampak.

Berkurangnya subsidi pemerintah serta melemahnya daya beli konsumen di tengah perlambatan ekonomi membuat permintaan kendaraan listrik massal menurun.

Analis Asosiasi Dealer Mobil China (China Automobile Dealers' Association/CADA) Li Yanwei menilai, BYD menghadapi tekanan dari sejumlah pesaing yang agresif.

"Seri Galaxy milik Geely berhasil menarik konsumen dari segmen mass market BYD melalui penguatan merek dan harga yang kompetitif. Sementara itu, Leapmotor menarik konsumen yang sensitif terhadap harga dengan menawarkan kendaraan berharga lebih rendah," ujar Li.

Sebagai gambaran, Leapmotor membukukan penjualan global sebanyak 81.569 unit pada Mei 2026, melonjak 81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Kapal Induk China Berlatih di Timur Filipina, Jepang Tingkatkan Pemantauan

Strategi Naik Kelas dan Teknologi

Menghadapi kompetisi yang semakin ketat, BYD mulai menggeser fokus strategi dari perang harga menuju peningkatan nilai tambah produk dan diferensiasi.

Pada Mei lalu, BYD meluncurkan versi terbaru SUV andalannya melalui merek premium Denza. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat posisi di segmen kendaraan premium.

Selain itu, BYD juga terus mendorong pengembangan teknologi bantuan berkendara (assisted driving).

Pada pekan lalu, perusahaan mengumumkan akan menanggung biaya perbaikan dan kompensasi selama satu tahun apabila terjadi kecelakaan saat pengemudi menggunakan fitur City Navigation.

Meski demikian, Li menilai upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong konsumen di kota-kota tingkat bawah untuk membayar lebih mahal.

Baca Juga: Penjualan Tesla Mulai Pulih di Eropa, Registrasi Kendaraan Melonjak

Menurutnya, kebijakan pemerintah China yang berupaya membatasi perang harga di industri kendaraan listrik membuat ruang gerak BYD untuk memangkas harga semakin terbatas.

Di sisi lain, peningkatan teknologi intelligent driving belum cukup kuat untuk meningkatkan daya tarik produk secara signifikan di segmen pasar yang sensitif terhadap harga.

"Dealer BYD masih menghadapi tantangan berupa harga yang relatif kurang kompetitif dan penjualan yang berjalan lambat, meskipun perusahaan terus meningkatkan teknologi produknya," kata Li.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×