Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Global Firepower (GFP) mencatat utang luar negeri setiap negara dalam laporan tinjauan pertahanan tahunannya.
Utang luar negeri didefinisikan sebagai total kewajiban utang sektor publik dan swasta yang harus dibayarkan kepada pihak luar negeri atau komunitas internasional. Pembayaran utang ini dapat dilakukan melalui pertukaran mata uang, barang konsumsi maupun barang tahan lama, serta jasa.
Secara umum, negara dengan ukuran ekonomi dan jumlah penduduk yang besar cenderung memiliki total utang luar negeri yang lebih tinggi. Hal ini digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi, pembangunan, serta kebutuhan pembiayaan lainnya yang sebanding dengan skala negara tersebut.
Daftar negara dengan utang tertinggi di dunia
Dalam pemeringkatan Global Firepower, utang luar negeri merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kesehatan fiskal suatu negara, meskipun bukan satu-satunya faktor penentu.
Besarnya utang menjadi perhatian lantaran berkaitan dengan kemampuan negara dalam membiayai kebutuhan pertahanan, termasuk biaya perang maupun pemeliharaan kekuatan militer dalam jangka panjang.
Untuk keperluan penilaian GFP, tingginya utang luar negeri akan dihitung sebagai faktor pengurang (penalti) dalam peringkat kekuatan nasional suatu negara.
Baca Juga: Ancaman Trump ke Iran: Apa Langkah Putin Cegah Perang Baru?
Dilansir dari Global Firepower (2025), berikut daftar negara dengan utang tertinggi di dunia (dengan asumsi kurs Rp 16.900 per dollar AS):
1. Amerika Serikat (AS)
Amerika Serikat (AS) menempati posisi teratas sebagai negara dengan utang luar negeri terbesar di dunia, dengan total mencapai US$ 22,3 triliun atau sekitar Rp 376.870 triliun (Rp 376,8 kuadriliun).
2. Britania Raya
Britania Raya berada di peringkat kedua dengan total utang luar negeri sebesar US$ 9,5 triliun, yang jika dikonversikan setara dengan sekitar Rp 160.550 triliun (Rp 160,5 kuadriliun).
3. Perancis
Perancis mencatatkan utang luar negeri sebesar US$ 6,9 triliun, atau sekitar Rp 116.610 triliun (Rp 116,6 kuadriliun), menempatkannya di jajaran tiga besar negara dengan utang tertinggi.
4. Jerman
Posisi keempat ditempati oleh Jerman dengan total utang mencapai US$ 6,2 triliun, yang setara dengan sekitar Rp 104.780 triliun (Rp 104,8 kuadriliun).
5. Luksemburg
Luksemburg, meski memiliki wilayah dan jumlah penduduk yang relatif kecil, tercatat memiliki utang luar negeri yang cukup besar, yakni US$ 4,77 triliun atau sekitar Rp 80.613 triliun (Rp 80,6 kuadriliun).
6. Belanda
Belanda menempati posisi keenam dengan total utang luar negeri sebesar US$ 4,7 triliun, yang jika dikonversikan mencapai sekitar Rp 79.430 triliun (Rp 79,4 kuadriliun).
Baca Juga: Ancaman Trump: AS Akan Kenakan Tarif ke Negara yang Tolak Klaim Greenland
7. Jepang
Jepang mencatatkan utang luar negeri sebesar US$ 4,67 triliun, atau setara sekitar Rp 78.923 triliun (Rp 78,9 kuadriliun).
8. Australia
Australia memiliki total utang luar negeri mencapai US$ 3,4 triliun, yang setara dengan sekitar Rp 57.460 triliun (Rp 57,5 kuadriliun).
9. Irlandia
Di posisi selanjutnya ada Irlandia dengan total utang luar negeri sebesar US$ 3,3 triliun, atau sekitar Rp 55.770 triliun (Rp 55,8 kuadriliun).
10. Italia
Italia melengkapi daftar sepuluh besar negara dengan utang luar negeri tertinggi di dunia, dengan total utang mencapai US$ 2,7 triliun atau setara sekitar Rp 45.630 triliun (Rp 45,6 kuadriliun).
Indonesia di peringkat berapa?
Dalam daftar negara dengan utang luar negeri terbesar versi Global Firepower, Indonesia berada di peringkat ke-25.
Total utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar US$ 440 miliar, atau setara sekitar Rp 7.436 triliun (Rp 7,4 kuadriliun).
Posisi Indonesia berada di bawah Korea Selatan, yang menempati peringkat lebih tinggi dengan total utang luar negeri mencapai US$ 503 miliar, atau sekitar Rp 8.500 triliun (Rp 8,5 kuadriliun).
Sementara itu, berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia (BI), posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2025 tercatat sebesar US$ 423,8 miliar, atau sekitar Rp 7.162 triliun.
Angka tersebut turun tipis dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai US$ 424,9 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan, secara tahunan ULN Indonesia masih tumbuh 0,2 % (year on year/yoy). Namun, laju pertumbuhan ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 0,5% (yoy).
Ramdan menambahkan, ULN pemerintah pada November 2025 tercatat sebesar US$ 209,8 miliar, turun dari US$ 210,5 miliar pada Oktober 2025.
"Sementara itu, ULN swasta juga mengalami penurunan menjadi US$ 191,2 miliar, dari sebelumnya US$ 191,7 miliar," ujarnya dilansir dari Kompas TV.
Tonton: Nvidia H200 Diblokir China: Produksi Komponen Pemasok Terhenti Seketika
Dari sisi ketahanan, Ramdan menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia tetap terjaga dengan baik. Hal ini didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang.
Kondisi tersebut tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang menurun menjadi 29,3% dari sebelumnya 29,4%, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 86,1% dari total ULN.
Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Kompas.com berjudul "10 Negara dengan Utang Tertinggi di Dunia 2025, Indonesia di Peringkat Berapa?"












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
