Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Jepang menguat tajam pada perdagangan Jumat (31/7/2026), didorong reli saham-saham teknologi setelah Wall Street mencatat kenaikan signifikan.
Investor juga menantikan pengumuman kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan berlangsung hari ini.
Baca Juga: Bursa Australia Berpeluang Cetak Reli Empat Bulan Beruntun pada Jumat (31/7)
Mengutip Reuters, indeks Nikkei 225 melonjak 4,7% ke level 64.781,35 pada awal perdagangan, mencatat kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Sementara itu, indeks Topix naik 1,4%.
Penguatan dipimpin oleh saham-saham yang terkait industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Saham Advantest melesat 18%, disusul Tokyo Electron yang naik 9,3%.
Sementara itu, saham SoftBank Group melonjak 15% seiring pulihnya sentimen terhadap sektor AI.
Reli di Jepang mengikuti penguatan bursa Wall Street semalam. Indeks S&P 500 naik 1,7%, sedangkan indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi melonjak 2,8%.
Kinerja positif tersebut dipicu oleh laporan keuangan dan proyeksi bisnis Microsoft yang mampu meredakan kekhawatiran investor mengenai besarnya belanja infrastruktur AI oleh perusahaan-perusahaan teknologi.
Baca Juga: PBOC Kembali Tekan Yuan, Kurs Tengah Dipatok Jauh di Bawah Estimasi Pasar
Investor Menanti Keputusan BOJ
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke hasil rapat kebijakan moneter BOJ yang diperkirakan diumumkan pada Jumat sekitar pukul 03.30–04.30 GMT.
Mayoritas ekonom memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, bank sentral Jepang diperkirakan tetap memberikan sinyal bahwa kenaikan biaya pinjaman masih akan berlanjut seiring meningkatnya tekanan inflasi.
Pelemahan yen serta risiko kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dinilai dapat mendorong inflasi inti Jepang tetap berada di atas target BOJ.
Baca Juga: Microsoft Pecahkan Rekor, Nilai Pasar Melonjak Rp8.100 Triliun dalam Sehari
Sehari sebelumnya, otoritas Jepang juga dilaporkan melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir guna menopang nilai tukar yen.
Menurut sumber Reuters, intervensi tersebut sempat mendorong yen menguat hingga 3,6% dari posisi terendahnya dalam hampir empat dekade terhadap dolar Amerika Serikat.














