kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.000,18   -10,69   -1.06%
  • EMAS1.131.000 0,27%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Otoritas obat dan makanan AS setop sementara penggunaan vaksin Johnson & Johnson


Selasa, 13 April 2021 / 18:37 WIB
Otoritas obat dan makanan AS setop sementara penggunaan vaksin Johnson & Johnson
ILUSTRASI. Otoritas obat dan makanan AS setop sementara penggunaan vaksin Johnson & Johnson


Sumber: CNBC | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka meminta negara bagian untuk sementara waktu menghentikan penggunaan vaksin Covid-19 Johnson & Johnson setelah enam orang di AS mengalami gangguan pembekuan darah yang langka.

FDA mengatakan pihak tetap hati-hati dalam memberikan rekomendasi dan meminimalkan efek samping atas vaksin Covid-19 tersebut.

“Keamanan vaksin COVID-19 adalah prioritas utama pemerintah federal, dan kami menanggapi semua laporan masalah kesehatan setelah vaksinasi COVID-19 dengan sangat serius,” kata FDA dalam pernyataan bersama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit seperti dilansir CNBC, Selasa (13/4).

“Orang yang telah menerima vaksin J&J yang mengalami sakit kepala parah, sakit perut, sakit kaki, atau sesak napas dalam waktu tiga minggu setelah vaksinasi harus menghubungi penyedia layanan kesehatan mereka,” kata FDA dan CDC.

Baca Juga: Australia melaporkan kasus kedua pembekuan darah akibat suntikan vaksin Astrazeneca

Keenam kasus tersebut terjadi pada wanita berusia antara 18 dan 48 tahun, dengan gejala yang berkembang enam hingga 13 hari setelah mereka menerima suntikan. 

Dokter biasanya mengobati jenis gumpalan darah tersebut dengan heparin tetapi regulator kesehatan mencatat bahwa dalam kasus ini bisa berbahaya dan merekomendasikan pengobatan yang berbeda.

The New York Times pertama kali melaporkan berita tersebut. Saham J&J turun lebih dari 3% dalam perdagangan pra-pasar Selasa.

CDC akan mengadakan pertemuan Komite Penasihat tentang Praktik Imunisasi pada hari Rabu untuk meninjau lebih lanjut kasus-kasus tersebut, regulator kesehatan federal mengatakan Selasa.

Ketika J&J menyerahkan data vaksin Covid-nya ke FDA pada Februari, tidak ada masalah khusus yang teridentifikasi saat dianalisis berdasarkan usia, ras, dan penyakit penyerta, menurut badan tersebut. 

FDA mengatakan pada saat efek samping yang paling umum dilaporkan adalah sakit kepala dan kelelahan, diikuti oleh nyeri otot, mual dan demam.

Selanjutnya: Johnson & Johnson mulai pasok vaksin COVID-19 ke negara-negara UE




TERBARU
Kontan Academy
Outlook 2024, Meneropong saham unggulan di Tahun Politik The Coughing Dragon | Global Market Series - China

[X]
×