Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur di Asia menutup tahun 2025 dengan kondisi yang lebih solid, seiring pemulihan pesanan ekspor dan kuatnya permintaan global, terutama untuk produk terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global pada Jumat (2/1/2026) menunjukkan aktivitas pabrik di sejumlah ekonomi utama Asia kembali ke zona ekspansi.
Sektor manufaktur di Korea Selatan dan Taiwan berhasil memutus tren kontraksi yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir, sementara sebagian besar negara Asia Tenggara tetap mencatat pertumbuhan yang solid.
Baca Juga: Perdagangan Awal 2026, Harga Emas dan Perak Melanjutkan Reli
Data tersebut melanjutkan sinyal positif dari China, yang sebelumnya merilis PMI manufaktur pada Selasa (31/12).
Aktivitas pabrik di ekonomi terbesar kedua dunia itu secara tak terduga kembali tumbuh, didorong lonjakan pesanan menjelang musim libur.
Meski masih terlalu dini untuk memastikan apakah eksportir besar Asia telah sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), peningkatan permintaan global memberi optimisme bagi sektor manufaktur kawasan memasuki tahun 2026.
“Ekspor dari sebagian besar negara Asia melonjak dalam beberapa bulan terakhir. Kami menilai prospek jangka pendek sektor manufaktur berorientasi ekspor di Asia masih tetap positif,” ujar Shivaan Tandon, Ekonom Asia di Capital Economics.
Menurutnya, banyak negara Asia masih diuntungkan oleh pergeseran permintaan AS dari China serta kuatnya permintaan global terhadap perangkat keras berbasis AI.
Baca Juga: Kekayaan Elon Musk Tembus US$ 726 Miliar, Lampaui Ekonomi Belgia hingga Nilai Oracle
Di Taiwan, PMI manufaktur naik ke level 50,9 pada Desember dari 48,8 pada November, menembus ambang batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi untuk pertama kalinya dalam 10 bulan.
“Sektor manufaktur Taiwan menutup 2025 dengan sangat baik. Perusahaan melaporkan peningkatan produksi dan pesanan baru, seiring menguatnya permintaan,” kata Annabel Fiddes, Economics Associate Director di S&P Global Market Intelligence.
Ia menambahkan, pelaku industri juga mulai meningkatkan persediaan dan menunjukkan optimisme yang lebih kuat terhadap prospek produksi pada 2026.
Sementara itu, PMI Korea Selatan naik ke 50,1 dari 49,4, menandai ekspansi pertama sejak September 2025. Korea Selatan dan Taiwan merupakan dua produsen semikonduktor terbesar dunia, yang sangat diuntungkan oleh lonjakan permintaan chip untuk AI.
Baca Juga: Tinggalkan Doktrin Bela Diri, Jepang Gandakan Belanja Militer untuk Hadapi China
Survei PMI Korea Selatan mencatat kenaikan pesanan baru paling tajam sejak November 2024.
“Peluncuran produk baru dan membaiknya permintaan eksternal mendorong peningkatan penjualan. Optimisme bisnis juga melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2022,” ujar Usamah Bhatti, ekonom S&P Global Market Intelligence.
Sejalan dengan itu, data resmi yang dirilis Kamis (1/1/2026) menunjukkan ekspor Korea Selatan pada Desember melampaui perkiraan pasar, memperkuat perannya sebagai indikator utama perdagangan global.
Di kawasan Asia lainnya, aktivitas pabrik secara umum tetap tumbuh, meski Indonesia dan Vietnam melaporkan perlambatan ekspansi yang ringan.
India mencatat perlambatan pertumbuhan manufaktur ke level terlemah dalam dua tahun terakhir, meskipun tetap menjadi salah satu yang terkuat di Asia.
Di luar sektor manufaktur, Singapura melaporkan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sebesar 4,8%, meningkat dari 4,4% pada 2024, dengan kinerja kuartalan yang juga melampaui ekspektasi.
S&P Global dijadwalkan merilis data PMI Jepang pada Senin mendatang.













